Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 4 November 2025 | 17.55 WIB

Waspadai Hidrosefalus, Kondisi Penumpukan Cairan Otak yang Berbahaya bagi Bayi dan Dewasa

Ilustrasi seorang bayi yang sedang diukur kepalanya untuk memastikan tidak mengalami hidrosefalus. (freepik) - Image

Ilustrasi seorang bayi yang sedang diukur kepalanya untuk memastikan tidak mengalami hidrosefalus. (freepik)

JawaPos.com - Hidrosefalus (hydrocephalus) adalah kondisi ketika terjadi penumpukan cairan serebrospinal di dalam rongga otak yang disebut ventrikel. Penumpukan cairan ini menyebabkan tekanan di dalam tengkorak meningkat, sehingga jaringan otak dapat tertekan dan mengalami kerusakan.

Cairan serebrospinal berfungsi untuk melindungi otak dari cedera, menjaga tekanan pada otak dan menjadi perantara saat pembuangan sisa metabolisme dari otak. Namun, cairan tersebut akan menumpuk dan menimbulkan hidrosefalus jika produksinya berlebihan atau penyerapannya terhambat.

Jenis-jenis Hidrosefalus

Dikutip dari Halodoc, terdapat dua jenis dari penyakit hidrosefalus yang umumnya terjadi. Jenis pertama adalah hidrosefalus kongenital yang merupakan kelainan bawaan sejak dalam kandungan akibat gangguan selama masa kehamilan, seperti infeksi toksoplasma atau virus, kekurangan asam folat, serta faktor lainnya.

Berikutnya yaitu hidrosefalus yang didapat (acquired hydrocephalus), kondisi ini terjadi akibat gangguan pada otak seperti stroke, peradangan selaput otak atau adanya tumor. Gangguan tersebut dapat menghambat aliran cairan otak sehingga menimbulkan penumpukan cairan yang berujung pada hidrosefalus.

Gejala Penyakit Hidrosefalus

Gejala yang paling umum dari penyakit hidrosefalus yang dialami bayi adalah ukuran kepala yang membesar secara cepat, disertai munculnya benjolan lunak di bagian ubun-ubun. Dikutip dari Alodokter, terdapat juga gejala lain seperti rewel, mudah tertidur, enggan menyusu, pertumbuhan yang lambat serta mengalami kejang.

Sedangkan, pada orang dewasa dan lansia gejala hidrosefalus dapat berbeda-beda tergantung pada usia penderita. Beberapa gejala yang umum terjadi meliputi sakit kepala, penurunan kemampuan konsentrasi, mual disertai muntah, gangguan pada penglihatan. Selain itu, penderita juga bisa mengalami kesulitan dalam menahan buang air kecil, bahkan bisa sampai mengompol.

Upaya Penyembuhan dari Hidrosefalus

Penanganan hidrosefalus umumnya dilakukan melalui tindakan pembedahan yang bertujuan untuk mengeluarkan cairan berlebih, sehingga cairan di dalam otak tetap dalam kondisi normal. Dikutip dari Alodokter, terdapat dua metode operasi yang biasa digunakan untuk mengatasi kondisi ini.

1. Operasi Pemasangan Shunt

Metode operasi ini merupakan tindakan medis dengan memasang selang khusus (shunt) di dalam kepala untuk membantu mengalirkan cairan otak ke bagian tubuh lain, agar cairan tersebut dapat diserap oleh aliran darah. Pada sebagian penderita hidrosefalus, shunt perlu dipasang secara permanen seumur hidup, sehingga diperlukan pemeriksaan rutin untuk memastikan alat tersebut tetap berfungsi.

2. Endoscopic Third Ventriculostomy (ETV)

Pada metode ini, cairan serebrospinal dialirkan keluar dengan membuat saluran penyerapan baru di permukaan otak. Tindakan ETV umumnya dilakukan pada kasus hidrosefalus yang disebabkan oleh sumbatan pada ventrikel otak, dengan tujuan membantu cairan otak mengalir merata ke seluruh area otak dan tidak terjadi penumpukan di satu titik. (*)

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore