Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 21 Oktober 2025 | 16.21 WIB

Penolakan Tak Selalu Buruk: Pentingnya Mengatur Boundaries demi Kesehatan Mental​

Ilustrasi Menolak Sesuatu. (Freepik) - Image

Ilustrasi Menolak Sesuatu. (Freepik)

JawaPos.com – Dalam hidup sehari-hari, kita sering dihadapkan pada situasi yang membuat sulit berkata “tidak”. Entah itu rekan kerja yang terus meminta bantuan, teman yang selalu ingin curhat tanpa melihat waktu, atau keluarga yang menuntut lebih dari yang kita sanggupi. Lama-kelamaan, tanpa sadar kita kelelahan bukan hanya secara fisik, tapi juga emosional. Di sinilah pentingnya boundaries, atau batas diri.

Menetapkan batas bukan berarti kita egois. Justru, seperti dijelaskan oleh Psychology Today, boundaries adalah cara kita menghormati diri sendiri dan orang lain dengan memahami di mana ruang pribadi kita berakhir dan di mana ruang orang lain dimulai. Ia adalah garis tak terlihat yang menjaga keseimbangan antara kebaikan hati dan kesehatan mental.

Boundaries bukan hanya sekadar garis tak terlihat antara kita dan orang lain. Menurut BetterUp, boundaries membantu kita menjaga keseimbangan antara kebutuhan pribadi dan hubungan sosial, sehingga kita bisa terhubung dengan orang lain tanpa kehilangan diri sendiri. Banyak orang merasa harus selalu tersedia, selalu membantu, atau selalu menyenangkan, padahal tanpa batas yang jelas, hal itu justru membuat kita kelelahan secara emosional dan kehilangan arah.

Boundaries juga bukan berarti egois atau menolak kedekatan. Justru sebaliknya, batas diri yang sehat memungkinkan kita hadir dengan tulus, karena energi dan perhatian yang kita berikan datang bukan dari rasa terpaksa. Dalam kehidupan sehari-hari, bentuk boundaries bisa sangat beragam.

Batas fisik, misalnya, mencakup kebutuhan ruang pribadi atau privasi tubuh. Kita berhak menolak pelukan, sentuhan, atau kedekatan fisik yang membuat tidak nyaman.

Batas emosional, yaitu kesadaran bahwa kita berhak merasa sedih, marah, atau lelah tanpa harus selalu terlihat “baik-baik saja”. Mengakui emosi bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kejujuran pada diri sendiri.

Batas waktu dan energi, yang sering kali sulit dijaga di dunia kerja modern. Contohnya ketika kita berani menolak lembur karena tubuh butuh istirahat, atau menunda permintaan orang lain karena sudah penuh dengan tanggung jawab pribadi.

Batas digital kini menjadi semakin penting di era serba online. Kita boleh memilih kapan ingin menjawab pesan kerja, menolak video call di luar jam kantor, atau mematikan notifikasi untuk menjaga ketenangan batin. Semua ini bukan tentang menghindar dari orang lain, melainkan tentang memberi ruang bagi diri sendiri untuk pulih dan tetap sadar akan kebutuhan pribadi.

Menetapkan boundaries mungkin terdengar sederhana, tapi dalam praktiknya, justru sering kali penuh tantangan. Menurut Psychology Today, orang yang tidak punya batas seringkali mengalami stres kronis, kelelahan emosional, bahkan kehilangan identitas. Namun di baliknya, ada beberapa alasan utama mengapa banyak orang kesulitan untuk membangun dan mempertahankan batas-batas tersebut:

1. Takut ditolak atau mengecewakan orang lain

Banyak dari kita tumbuh dengan keinginan untuk disukai dan ingin selalu dianggap “baik”. Tapi terlalu sering menyenangkan orang lain justru membuat kita mengabaikan diri sendiri.

2. Perasaan bersalah

Saat mulai berkata “tidak”, muncul rasa bersalah seolah kita egois. Padahal, rasa bersalah itu bukan tanda salah melainkan itu tanda perubahan.

3. Kurang mengenali batas diri sendiri

Kita sering tak sadar kapan mulai kelelahan atau kewalahan, karena tak terbiasa mendengar sinyal dari tubuh dan emosi kita.

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore