Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 2 September 2025 | 00.13 WIB

Bahaya Ultra Processed Food: Meningkatkan Risiko 32 Penyakit dan Kematian Dini hingga 50%

Ilustrasi bahaya ultra processed food bagi kesehatan menurut penelitian - Image

Ilustrasi bahaya ultra processed food bagi kesehatan menurut penelitian

JawaPos.com - Mi instan, nugget, ciki, sereal manis, hingga makanan siap saji termasuk ultra processed food. Menurut penelitian, terlalu banyak konsumsi makanan ini berbahaya bagi kesehatan karena memicu 32 penyakit dan menaikkan risiko kematian dini hingga 50 persen.

Ultra processed food banyak dipilih karena praktis, enak, dan harganya murah. Padahal makanan ini mengandung kadar garam, gula, dan lemak yang tinggi serta kerap kali kurang bergizi.

Karena melalui sejumlah proses industri dan menggunakan berbagai zat kimia, ultra processed food dianggap tidak sehat. Sayangnya, masih banyak orang yang ketagihan menyantap makanan ini setiap harinya bahkan dalam jumlah besar.

Cari tahu efek buruk konsumsi Makanan ultra-olahan menurut studi di bawah ini.

Baca Juga: Hidup Makin Praktis atau Bikin Dompet Menangis? Mengungkap Dua Sisi Layanan Pesan Antar Makanan Online

Dampak Buruk Ultra Processed Food

Menurut riset 2024 yang dipublikasi The BMJ, dilansir Medical News Today, kebanyakan makan ultra processed food meningkatkan risiko penyakit jantung dan paru-paru, kanker, gangguan mental, hingga kematian dini.

Dalam studi tersebut, para peneliti meninjau 45 meta analisis yang membahas hubungan antara ultra processed food dan masalah kesehatan. Penelitian secara total melibatkan hampir sepuluh juta partisipan, yang diminta mengisi kuesioner tentang riwayat diet hingga informasi terakhir kali menyantap makanan olahan.

Mereka menemukan hubungan antara tingginya konsumsi ultra processed food dengan 32 penyakit seperti kanker payudara, kanker kolorektal, kanker pankreas, hipertensi, hiperglikemia, kondisi tidur dan kecemasan yang buruk, hingga asma dan obesitas.

Baca Juga: ASI Seret? Ini Dia 5 Makanan yang Bisa Jadi Solusi untuk Melancarkan Produksi ASI

Peneliti juga melaporkan adanya peningkatan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular sebesar 50 persen dan risiko kematian akibat penyakit apa pun sebanyak 21 persen.

Terlalu banyak menyantap makanan ultra-olahan juga menaikkan risiko diabetes sebesar 12 persen, risiko depresi sebanyak 22 persen, dan risiko kecemasan dan gangguan mental sebesar 48-53 persen.

Dalam studi 2024 lainnya yang dipimpin oleh para peneliti Harvard TH Chan School of Public Health, mengutip ABC News, asupan ultra processed food juga meningkatkan risiko kematian dini.

Partisipan yang mengonsumsi banyak makanan olahan tersebut berisiko mengalami kematian empat persen lebih tinggi akibat penyebab apa pun. Mereka juga berisiko delapan persen lebih tinggi meninggal dunia akibat penyakit neurodegeneratif.

Mengapa Ultra Processed Food Dianggap Tidak Sehat?

Ultra processed food dinilai tidak sehat karena diproduksi melalui formulasi industri. Produk dibuat menggunakan bahan-bahan yang diekstrak dari makanan, zat aditif, dan hanya mengandung sedikit bahkan tidak mengandung makanan utuh sama sekali.

Zat aditif digunakan untuk mempercantik tampilan, tekstur, daya tahan, hingga menambah warna dan rasa makanan. Makanan ini pun mengandung garam, gula, dan lemak yang banyak sementara vitamin dan serat yang sangat rendah.

Namun karena makanan ultra-olahan ini murah, mudah diakses, rasanya enak, dan harganya murah, banyak orang sering mengonsumsinya bahkan kecanduan.

Contoh ultra processed food antara lain es krim, pizza, roti kemasan, sereal sarapan, energy bar, camilan dan minuman ringan, serta ready-to-eat meals.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore