
Seseorang yang sedang melakukan konsultasi (Dok. Freepik)
JawaPos.com - Stigma kesehatan mental merujuk pada pandangan negatif masyarakat yang sering kali berupa rasa malu, penolakan, atau diskriminasi terhadap individu dengan gangguan mental maupun mereka yang mencari pertolongan karena masalah emosional seperti kecemasan, depresi, gangguan bipolar, atau PTSD.
Stigma ini muncul sebagai sikap sosial yang tidak adil dan melekat pada seseorang atau kelompok karena dianggap memiliki kekurangan atau perbedaan tertentu. Hal ini bisa diterapkan pada orang dengan cara hidup berbeda, keyakinan budaya tertentu, pilihan gaya hidup tertentu, maupun kondisi kesehatan termasuk gangguan mental.
Stigma bisa muncul dari keluarga, teman, rekan kerja, bahkan lingkungan sosial yang lebih luas. Dalam beberapa kasus, stigma juga dipolitisasi sehingga semakin memperparah diskriminasi.
Bentuk stigma tidak selalu tampak jelas. Kadang hadir dalam bahasa yang merendahkan, istilah yang menyakitkan, atau komentar meremehkan mengenai kondisi mental seseorang. Hal ini membuat penderita merasa sendirian dan tidak dipahami.
Stigma juga sering berbentuk stereotip, yaitu anggapan berlebihan atau penyederhanaan yang salah terhadap kelompok tertentu. Misalnya:
Dilansir dari Medical News Today, terdapat data di tahun 2024 yang menyatakan bahwa lebih dari 1 dari 10 anak dan remaja (usia 5–24 tahun) di seluruh dunia hidup dengan kondisi kesehatan mental.
Sementara itu, mengutip dari riset Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa, di Indonesia sendiri jumlah masyarakat yang mengalami gangguan kecemasan di tahun 2024 meningkat hingga 16%, sementara kasus depresi naik menjadi 17,1%.
Padahal, menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi gangguan kecemasan masih berada di angka 9,8% dan depresi hanya sekitar 6%.
Namun, perlu diketahui bahwa stigma tidak muncul dengan cara yang sama di setiap budaya. Misalnya:
Cara Mengatasi Stigma Kesehatan Mental
Stigma kesehatan mental merupakan masalah sosial yang kompleks dan sulit diberantas, namun bukan berarti tidak bisa dilawan. Dengan edukasi, dukungan sosial, serta keberanian untuk berbicara dan berbagi pengalaman, stigma dapat dikurangi.
1. Edukasi Publik
Meningkatkan kesadaran dengan sumber informasi terpercaya sangat penting agar masyarakat tidak lagi terjebak pada ketakutan atau prasangka.
2. Membangun Ruang Aman
Menghentikan penggunaan bahasa yang merendahkan serta menciptakan ruang aman bagi orang untuk berbicara tanpa rasa takut dihakimi.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
