Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 7 Agustus 2025 | 05.21 WIB

Stunting Bisa Berpengaruh Buruk pada Anak, Dokter Sebut ASI Wajib Diberikan untuk Mengatasinya

Ilustrasi stunting. (JawaPos) - Image

Ilustrasi stunting. (JawaPos)

JawaPos.comStunting tidak hanya menghambat pertumbuhan fisik anak, tetapi juga berdampak pada perkembangan otak. Untuk mencegahnya, pemberian Air Susu Ibu (ASI) menjadi langkah penting yang wajib dilakukan. Hal ini ditegaskan Prof. Dr. dr. Dwiana Ocviyanti, Sp. OG, Subsp. Obginsos, MPH, dari Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI).

Stunting itu anak yang tumbuhnya tidak sesuai dengan usia seharusnya. Dampaknya bukan hanya pada tubuh, tapi juga otak. Salah satu upaya menurunkan stunting adalah dengan memberikan ASI, karena tidak ada pengganti yang lebih baik selain ASI itu sendiri,” ujar Prof. Dwiana, Rabu (6/8).

Menurut dia, bayi berisiko mengalami stunting jika lahir dengan berat badan rendah (low birth weight) akibat prematur atau kurang gizi saat dalam kandungan. Hal itu diperburuk bila tidak mendapat ASI dari ibunya.

Kondisi kesehatan ibu, termasuk saat hamil, menjadi faktor penting agar dapat menyusui optimal. Infeksi seperti Respiratory Syncytial Virus (RSV) dapat memicu persalinan prematur dan menghalangi ibu memberikan ASI pada bayi.

“Kalau ibu hamil terkena RSV, risikonya sama seperti COVID-19. Saya paling khawatir kalau ibu sampai masuk ICU, terpaksa melahirkan, dan tidak bisa merawat apalagi memberi ASI. Itu jelas berpengaruh buruk pada bayi,” jelas Dwiana Ocviyanti.

RSV adalah virus menular yang menyerang saluran pernapasan dan berbahaya bagi bayi serta lansia. Data The Lancet (2022) mencatat, ada 6,6 juta kasus RSV pada bayi di bawah enam bulan di seluruh dunia dengan sekitar 45.000 kematian akibat komplikasi.

Hingga kini belum ada obat yang dapat menyembuhkan RSV. Sehingga langkah pencegahan seperti vaksinasi bagi ibu hamil menjadi sangat penting.

Selain ancaman RSV, Prof. Dwiana menyoroti tingginya angka anemia pada ibu hamil di Indonesia yang mencapai 30–40 persen, serta tingginya kasus tuberkulosis (TBC) yang menempati peringkat kedua tertinggi di dunia. Kedua kondisi ini melemahkan daya tahan tubuh ibu hamil dan meningkatkan risiko kelahiran prematur.

“Kalau ibu hamil anemia, imunitasnya rendah. Ditambah TBC atau RSV, kemungkinan melahirkan prematur sangat besar. Padahal, bayi prematur rentan tidak mendapatkan gizi optimal, termasuk ASI eksklusif,” tandas Dwiana Ocviyanti.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore