
Ilustrasi stunting. (JawaPos)
JawaPos.com–Stunting tidak hanya menghambat pertumbuhan fisik anak, tetapi juga berdampak pada perkembangan otak. Untuk mencegahnya, pemberian Air Susu Ibu (ASI) menjadi langkah penting yang wajib dilakukan. Hal ini ditegaskan Prof. Dr. dr. Dwiana Ocviyanti, Sp. OG, Subsp. Obginsos, MPH, dari Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI).
“Stunting itu anak yang tumbuhnya tidak sesuai dengan usia seharusnya. Dampaknya bukan hanya pada tubuh, tapi juga otak. Salah satu upaya menurunkan stunting adalah dengan memberikan ASI, karena tidak ada pengganti yang lebih baik selain ASI itu sendiri,” ujar Prof. Dwiana, Rabu (6/8).
Menurut dia, bayi berisiko mengalami stunting jika lahir dengan berat badan rendah (low birth weight) akibat prematur atau kurang gizi saat dalam kandungan. Hal itu diperburuk bila tidak mendapat ASI dari ibunya.
Kondisi kesehatan ibu, termasuk saat hamil, menjadi faktor penting agar dapat menyusui optimal. Infeksi seperti Respiratory Syncytial Virus (RSV) dapat memicu persalinan prematur dan menghalangi ibu memberikan ASI pada bayi.
“Kalau ibu hamil terkena RSV, risikonya sama seperti COVID-19. Saya paling khawatir kalau ibu sampai masuk ICU, terpaksa melahirkan, dan tidak bisa merawat apalagi memberi ASI. Itu jelas berpengaruh buruk pada bayi,” jelas Dwiana Ocviyanti.
RSV adalah virus menular yang menyerang saluran pernapasan dan berbahaya bagi bayi serta lansia. Data The Lancet (2022) mencatat, ada 6,6 juta kasus RSV pada bayi di bawah enam bulan di seluruh dunia dengan sekitar 45.000 kematian akibat komplikasi.
Hingga kini belum ada obat yang dapat menyembuhkan RSV. Sehingga langkah pencegahan seperti vaksinasi bagi ibu hamil menjadi sangat penting.
Selain ancaman RSV, Prof. Dwiana menyoroti tingginya angka anemia pada ibu hamil di Indonesia yang mencapai 30–40 persen, serta tingginya kasus tuberkulosis (TBC) yang menempati peringkat kedua tertinggi di dunia. Kedua kondisi ini melemahkan daya tahan tubuh ibu hamil dan meningkatkan risiko kelahiran prematur.
“Kalau ibu hamil anemia, imunitasnya rendah. Ditambah TBC atau RSV, kemungkinan melahirkan prematur sangat besar. Padahal, bayi prematur rentan tidak mendapatkan gizi optimal, termasuk ASI eksklusif,” tandas Dwiana Ocviyanti.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
