
Diperagakan oleh model, Yuni Rosita dan Ahmad Alwan Baihaqi: Kesulitan merespons stres bisa berdampak pada penurunan performa kerja dan produktivitas. (Alfian Rizal/Jawa Pos)
JawaPos.com - Rata-rata pekerja menghabiskan sebagian besar waktunya di tempat kerja. Risiko gangguan mental akibat stres yang menumpuk membayangi pekerja. Menjelang Hari Kesehatan Mental Sedunia 10 Oktober, mari lebih aware dengan menciptakan lingkungan kerja yang sehat.
Lingkungan kerja berdampak signifikan terhadap kesehatan mental seseorang. Faktor-faktor seperti tenggat waktu yang tidak realistis, beban kerja berlebih, dan rekan kerja serta bos yang toxic dapat mengganggu kesehatan mental.
Ketidakmampuan seorang pekerja dalam merespons stres yang menumpuk itu bisa berdampak pada penurunan performa kerja dan produktivitas. Ada beberapa sinyal yang tubuh berikan terkait masalah kesehatan mental.
”Dari segi fisik seperti kelelahan ekstrem dan sakit-sakitan. Secara sosial sering menghindar, menyendiri, slow response. Dari segi performa dan motivasi kerja menurun. Emosinya jadi mudah kesal, sedih, cemas, tidak percaya diri, dan pasif,” beber Olphi Disya Arinda MPsi psikolog.
Ketika perawatan mandiri dan support system di sekitar tidak lagi memberikan pengaruh yang signifikan, lanjut dia, segera cari bantuan profesional. ”Jangan menunggu kadar stres meninggi, bahkan depresi,” tegas psikolog klinis tersebut.
Cari Bantuan Profesional
Hal itu pulalah yang mendorong Sari (bukan nama sebenarnya), seorang copywriter di sebuah perusahaan swasta di Surabaya, memberanikan diri menghubungi psikolog. Selama setahun pertama bekerja, perempuan 26 tahun tersebut selalu merasa cemas dan ketakutan setiap akan berangkat kerja. Dia pun jadi sulit tidur dan kehilangan nafsu makan.
”Hampir 90 persen waktu di kantor saya habiskan buat overthinking. Jadi sering self-blaming dan merasa nggak pantas karena hasil kerja saya tidak pernah diakui,” ceritanya kepada Jawa Pos pada Jumat (4/10).
Sari akhirnya mencari bantuan psikolog. Dia memilih konsultasi daring lantaran malu jika harus bertatap muka langsung. Belum lagi stigma buruk yang berkembang di masyarakat. ”Saya merasa sharing ke orang terdekat sudah nggak ngefek seperti sebelumnya,” lanjutnya.
Kini, perlahan Sari mulai bisa menghargai dirinya. ”Dampaknya nggak langsung terasa, tapi bertahap. Mentor pelan-pelan menyisir benang kusut di kepala saya,” ungkapnya. Dia juga berani mengambil keputusan besar untuk berhenti dan mencari lingkungan kerja baru yang lebih sehat.
Disya, sapaan psikolog Olphi Disya, menuturkan, tidak semua stres di tempat kerja harus berujung resign. Coba uraikan penyebabnya dan cari opsi terlebih dahulu. ”Bagi waktu untuk hobi, olahraga, relaksasi, manfaatkan hak cuti, terhubung dengan orang-orang suportif. Jika tidak membantu, pertimbangkan mencari lingkungan kerja baru,” imbuh Disya. (lai/c6/nor)

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
Pertemuan dengan Suporter, Fariz Julinar Tegaskan PSIS Semarang Siap Bangkit Musim Depan
4 Tempat Makan Siomay Paling Enak di Bandung, Jangan Skip karena Variannya Berlimpah dengan Siraman Bumbu Kacang yang Lezat
