
Suplemen Kesehatan/Harvard Health.
JawaPos.com - Banyak orang percaya bahwa gaya hidup sehat meliputi lebih dari sekadar mengonsumsi makanan sehat dan melakukan olahraga yang cukup. Vitamin, suplemen, dan produk nutrisi tambahan juga merupakan bagian dari upaya tersebut.
Meskipun manfaat potensialnya banyak dipublikasikan, kesadaran akan kemungkinan efek merugikan dari produk-produk tersebut masih kurang. Faktanya, penggunaan produk-produk tersebut bisa berakibat negatif hingga berujung kunjungan ke unit gawat darurat.
Dikutip dari Harvard Health, Selasa (27/2), menurut sebuah studi yang diterbitkan hari ini di The New England Journal of Medicine, efek merugikan dari suplemen menjadi penyebab atas rata-rata sekitar 23.000 kunjungan ke unit gawat darurat setiap tahunnya. Angka tersebut cukup tinggi untuk sesuatu yang seharusnya bermanfaat bagi kesehatan.
Dalam studi 10 tahun ini, para peneliti menganalisis data surveilans dari 63 departemen gawat darurat rumah sakit untuk memperkirakan jumlah kunjungan ke unit gawat darurat setiap tahunnya yang terkait dengan efek merugikan dari suplemen makanan tambahan.
Peneliti mendefinisikan ‘suplemen makanan tambahan’ sebagai produk herbal atau komplementer, dan vitamin atau mikronutrien asam amino.
Pasien yang datang ke departemen gawat darurat karena gejala terkait penggunaan suplemen rata-rata berusia 32 tahun, dan wanita membentuk lebih dari setengah dari semua kunjungan.
Sedikitnya lebih dari 10% dari kunjungan tersebut mengakibatkan rawat inap di rumah sakit, terutama di antara orang dewasa yang lebih tua dari 65 tahun.
Produk penurunan berat badan menyumbang seperempat dari semua kunjungan wanita ke unit gawat darurat karena satu produk, secara tidak proporsional mempengaruhi mereka.
Sementara pria lebih mungkin mengalami efek merugikan dari produk yang dipromosikan untuk meningkatkan performa seksual dan pembentukan tubuh. Produk yang meningkatkan energi menyumbang 10% lainnya dari kunjungan-kunjungan tersebut.
Dewasa muda tidaklah satu-satunya yang terpengaruh. Banyak anak di bawah usia 4 tahun menderita reaksi alergi atau gejala pencernaan (seperti mual, muntah, nyeri perut) akibat menelan vitamin secara tidak sengaja tanpa pengawasan.
Pasien yang lebih tua dari 65 tahun lebih mungkin mengalami kesulitan menelan setelah mengkonsumsi vitamin atau mikronutrien yang berukuran pil besar.
Meskipun temuan studi ini adalah perkiraan tahunan berdasarkan kunjungan ke departemen gawat darurat ke sejumlah rumah sakit yang relatif kecil, hal tersebut mencerminkan meningkatnya penggunaan suplemen makanan tambahan dan mikronutrien.
Produk-produk ini tersedia secara luas tanpa resep dan dipasarkan sebagai alternatif atau pelengkap obat farmasi yang diresepkan terapeutik. Oleh karena itu, suplemen makanan atau herbal secara luas dianggap sebagai alami dan aman.
Apa yang perlu kita ketahui sebelum mengonsumsi suplemen
Para penyedia layanan kesehatan juga mungkin mengabaikan untuk menanyakan kepada pasien tentang penggunaan suplemen makanan tambahan alami atau non-resep.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
