Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 27 Februari 2024 | 19.55 WIB

Benarkah Suplemen Kesehatan Berefek Negatif dan Bahaya Bagi Tubuh? Simak Penelitian dan Faktanya

Suplemen Kesehatan/Harvard Health. - Image

Suplemen Kesehatan/Harvard Health.

JawaPos.com - Banyak orang percaya bahwa gaya hidup sehat meliputi lebih dari sekadar mengonsumsi makanan sehat dan melakukan olahraga yang cukup. Vitamin, suplemen, dan produk nutrisi tambahan juga merupakan bagian dari upaya tersebut.

Meskipun manfaat potensialnya banyak dipublikasikan, kesadaran akan kemungkinan efek merugikan dari produk-produk tersebut masih kurang. Faktanya, penggunaan produk-produk tersebut bisa berakibat negatif hingga berujung kunjungan ke unit gawat darurat.

Dikutip dari Harvard Health, Selasa (27/2), menurut sebuah studi yang diterbitkan hari ini di The New England Journal of Medicine, efek merugikan dari suplemen menjadi penyebab atas rata-rata sekitar 23.000 kunjungan ke unit gawat darurat setiap tahunnya. Angka tersebut cukup tinggi untuk sesuatu yang seharusnya bermanfaat bagi kesehatan.

Dalam studi 10 tahun ini, para peneliti menganalisis data surveilans dari 63 departemen gawat darurat rumah sakit untuk memperkirakan jumlah kunjungan ke unit gawat darurat setiap tahunnya yang terkait dengan efek merugikan dari suplemen makanan tambahan.

Peneliti mendefinisikan ‘suplemen makanan tambahan’ sebagai produk herbal atau komplementer, dan vitamin atau mikronutrien asam amino.

Pasien yang datang ke departemen gawat darurat karena gejala terkait penggunaan suplemen rata-rata berusia 32 tahun, dan wanita membentuk lebih dari setengah dari semua kunjungan.

Sedikitnya lebih dari 10% dari kunjungan tersebut mengakibatkan rawat inap di rumah sakit, terutama di antara orang dewasa yang lebih tua dari 65 tahun.

Produk penurunan berat badan menyumbang seperempat dari semua kunjungan wanita ke unit gawat darurat karena satu produk, secara tidak proporsional mempengaruhi mereka.

Sementara pria lebih mungkin mengalami efek merugikan dari produk yang dipromosikan untuk meningkatkan performa seksual dan pembentukan tubuh. Produk yang meningkatkan energi menyumbang 10% lainnya dari kunjungan-kunjungan tersebut.

Dewasa muda tidaklah satu-satunya yang terpengaruh. Banyak anak di bawah usia 4 tahun menderita reaksi alergi atau gejala pencernaan (seperti mual, muntah, nyeri perut) akibat menelan vitamin secara tidak sengaja tanpa pengawasan.

Pasien yang lebih tua dari 65 tahun lebih mungkin mengalami kesulitan menelan setelah mengkonsumsi vitamin atau mikronutrien yang berukuran pil besar.

Meskipun temuan studi ini adalah perkiraan tahunan berdasarkan kunjungan ke departemen gawat darurat ke sejumlah rumah sakit yang relatif kecil, hal tersebut mencerminkan meningkatnya penggunaan suplemen makanan tambahan dan mikronutrien.

Produk-produk ini tersedia secara luas tanpa resep dan dipasarkan sebagai alternatif atau pelengkap obat farmasi yang diresepkan terapeutik. Oleh karena itu, suplemen makanan atau herbal secara luas dianggap sebagai alami dan aman.

Apa yang perlu kita ketahui sebelum mengonsumsi suplemen

Para penyedia layanan kesehatan juga mungkin mengabaikan untuk menanyakan kepada pasien tentang penggunaan suplemen makanan tambahan alami atau non-resep.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore