Kader posyandu mengukur lingkar kepala balita saat pelaksanaan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) di Kawasan Jumputrejo, Sukodono, Sidoarjo. (ANTARA/Umarul Faruq)
JawaPos.com - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mencetuskan program desa bebas stunting (De’Best) guna meningkatkan praktik pengasuhan yang baik dalam 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) di desa/kelurahan.
Dilansir dari Indonesia.go.id pada Kamis (23/11), hadirnya De’Best adalah untuk menurunkan angka stunting secara signifikan di suatu desa/kelurahan.
Program tersebut didukung dengan anggaran yang tercantum dalam dokumen perencanaan program dan anggaran desa/kelurahan dan membantu warga mencari inovasi untuk pembangunan di desa/kelurahan.
Salah satu alasan penting yang melatarbelakangi kehadiran program tersebut, di antaranya sulitnya akses akta kelahiran maupun jaminan kesehatan bagi anak di bawah usia dua tahun (baduta).
Di samping itu, belum semua baduta mendapatkan pengasuhan bersama dari kedua orang tuanya dan menerima pemantauan pertumbuhan dan perkembangannya.
Program De’Best selaras dengan upaya pemerintah demi meraih kesuksesan dari bonus demografi dengan memaksimalkan investasi sejak dini melalui pencegahan stunting.
“Berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia, masyarakat tidak hanya sehat raganya, tetapi juga sehat jiwa dan mentalnya. Ketika stunting masih tinggi, akan memengaruhi yang lain, salah satunya indeks pembangunan manusia,” kata Kepala BKKBN Hasto Wardoyo.
Perkembangan sumber daya manusia di Indonesia masih tertinggal jauh apabila dibandingkan dengan negara lain.
Hasto menyebutkan pertumbuhan dan perkembangan manusia atau disebut human capital index Indonesia saat ini berada di urutan ke-96, menurut Bank Dunia (data 2020).
“Masalah kesenjangan stunting ini masih tinggi dan memengaruhi kualitas sumber daya manusia, sehingga ini menjadi program prioritas. Kita tidak boleh rendah diri, namun harus sadar betul stunting menggerus kecerdasan intelektual dan menurunkan IQ,” ujar Kepala BKKBN.
Dengan demikian, BKKBN bersama Asosiasi Dinas Kesehatan (Adinkes) dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) terus berkolaborasi dan memberikan apresiasi kepada pegiat desa yang berinovasi pencegahan stunting.
Sebanyak 20 desa dinobatkan sebagai Desa Bebas Stunting 2023 oleh Adinkes. Hasto Wardoyo menyatakan bahwa prestasi tersebut diberikan kepada desa dengan upaya yang konsisten serta membuat inovasi berdampak pada penurunan kejadian stunting di wilayahnya.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
