Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 3 November 2023 | 07.25 WIB

Masih Ada Penggunaan BKO dalam Obat Herbal Tiongkok, Ahli Ungkap Regulasi Indonesia Sudah Ketat

Tanaman herbal dapat bantu cegah penyakit. - Image

Tanaman herbal dapat bantu cegah penyakit.

JawaPos.com – Obat herbal memang masih dipercaya masyarakat sebagai salah satu alternatif penyembuhan penyakit karena kandungannya terbuat dari bahan alam. Namun sayangnya, obat herbal yang berasal dari luar negeri seperti Tiongkok dan India ternyata tidak selalu 100 persen terbuat dari bahan alam.

Diungkapkan Prof. Dr.rer.nat. apt.I Made Agus Gelgel Wirasuta, M.Si yang menjabat President of Indonesia chapter of HPTLC Association Udayana University, standarisasi dan regulasi pembuatan obat herbal tiap negara memang berbeda. Untuk obat Tiongkok dan India, regulasi di negara asalnya masih memperbolehkan penggunaan bahan kimia obat atau BKO.

“Saya pernah kontrol obat herbal Tiongkok yang masuk, dia dijual sebagai penurun tensi, dan mereka memang mengizinkan menambahkan bahan kimia, regulasinya masih boleh (pakai BKO, Red), masyarakat tahu nya bagus saja,” ujar Prof Made saat Conference dan workshop Asosiasi HPTLC Chapter Indonesia dengan tema ‘HPTLC: The future of Quality Assurance for Indonesian Herbal Medicine’.

Sedangkan di Indonesia, regulasinya memang tidak membolehkan penggunaan BKO. Sehingga, Prof Made meyakinkan, kalau obat herbal Indonesia justru lebih bisa dipercaya karena menggunakan bahan alam seutuhnya.

Sebab, ketika dikatakan obat herbal, maka produk tersebut memang berisikan sepenuhnya kandungan dari alam. Tidak ada campuran bahan kimia obat di dalamnya.

“Kalau memang ada campurannya, apa bedanya dengan obat-obat yang biasanya diminum,” tukasnya.

“Kita harus menginformasikan ke masyarakat kalau kualitas obat herbal kita sesuai dengan regulasi organic herbal one hundred percen tidak boleh ada chemical di dalamnya, sehingga hati-hati, karena regulasi di Tiongkok dan India masih mengizinkan itu,” pukasnya.

Quality Control Terhadap Obat Herbal

Terkait quality control sebenarnya bisa dimulai dari pemilihan tanaman itu sendiri. Karena tidak semua jenis tanaman yang dianggap sebagai herbal bisa dijadikan obat.

Misalnya, ungkap Prof Made, Sambiloto itu ada puncak A, B, C dan seterusnya. Ada 11 puncak yang teridentifikasi. Dari situ diperjelas lagi. “Kalau yang terjadi sekarang kan, seperti semuanya diminum, ada pahit-pahitnya sebagai obat,” ujarnya.

Salah satunya pemilahan agar menemukan senyawa yang tepat adalah lewat pengembangan dan aplikasi HPTLC sebagai metode kontrol kualitas bahan baku dan produk bahan alam.

Dikatakan, metode ini sudah teruji dan dimanfaat oleh US herbal dan Europe herbal untuk mengontrol kualitas tanaman obat. “Kalau obat herbal itu kan multi komponen, banyak senyawa yang ada di dalamnya. Tapi harus diidentifikasi secara kualitatif apa dia, bagaimana karakyernya itu dinamakan profile,” papat Prof Made.

Sehingga, dengan adanya quality control yang ketat, baik dari regulasi maupun prosesnya, maka kualitas obat herbal dalam negeri bisa lebih terpercaya.

“ujung-ujungnya apa yang kita kerjakan bersama, suarakan, semua menuju pada membangun kemandirian dari obat bahan alam, mambangun kualitas obat bahan alam, sehingga produk kita dipercaya oleh masyarakat kita sendiri,” tutupnya.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore