Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 2 November 2023 | 14.27 WIB

Konsultan Onkologi Bantah Mitos Penggunaan Bra Kawat Sebabkan Kanker Payudara

Konsultan Onkologi Eka Hospital Bekasi yakni dr. Budi Harapan Siregar/ Sumber: HO-Eka Hospital/ANTARA - Image

Konsultan Onkologi Eka Hospital Bekasi yakni dr. Budi Harapan Siregar/ Sumber: HO-Eka Hospital/ANTARA

JawaPos.com - Konsultan Onkologi Eka Hospital Bekasi, dr. Budi Harapan Siregar, membantah mitos yang mengatakan bahwa penggunaan bra kawat bisa menyebabkan kanker payudara, karena belum adanya bukti konkret dari hasil penelitian ilmiah.

"Meski sudah beredar di masyarakat, anggapan ini hanyalah sebuah mitos. Penggunaan bra yang ketat mungkin bisa menimbulkan rasa nyeri jika terlalu sering dikenakan," kata dr. Budi yang dilansir dari Antara di Tangerang, Rabu (1/11).

Menurut dr. Budi Harapan Siregar, semua wanita memiliki risiko tinggi untuk mengalami kanker payudara.

Oleh karena itu, tambahnya, penting bagi wanita untuk memahami faktor penyebab kanker tersebut dan upaya pencegahan, seperti SADARI dan USG payudara secara berkala.

Sekadar informasi, kanker payudara masih menjadi jenis penyakit dengan tingkat kasus tertinggi di seluruh dunia hingga saat ini.

Kanker ini berkembang di dalam payudara ketika sel-selnya tumbuh secara tidak normal dan mengalami mutasi, sehingga membentuk gumpalan daging yang dikenal sebagai tumor atau kanker.

Menurut data World Health Organization (WHO), ada sekitar 2,3 juta orang yang terdiagnosis kanker payudara, dan 685.000 lainnya mengalami kematian secara global per tahun 2020.

"Ini tentu membuat kanker payudara menjadi salah satu kanker yang paling mendapatkan sorotan di mata publik," katanya.

Meskipun kesadaran perempuan akan kanker payudara sudah meningkat, ternyata masih banyak mitos dan fakta yang beredar mengenai penyakit ini.

Salah satu mitos yang beredar di masyarakat adalah kanker payudara hanya dapat terjadi pada wanita.

"Nyatanya, kanker payudara juga bisa terjadi pada laki-laki meski risikonya jauh lebih kecil dibandingkan wanita," jelas dr. Budi Harapan Siregar.

dr. Budi juga menjelaskan, ada banyak faktor yang mempengaruhi meningkatnya risiko terhadap kanker payudara, termasuk faktor genetik, usia, pengobatan tertentu, sistem reproduksi, berat badan, dan lainnya.

Untuk mendeteksi kanker payudara lebih awal, SADARI atau perikSA payuDAra sendiRI adalah metode yang efektif dilakukan dengan mendeteksi adanya benjolan yang tidak normal dalam payudara.

Para perempuan dapat melakukannya pada saat menstruasi di hari ketujuh hingga 10 hari setelah hari pertama datang bulan.

Dia menambahkan, pendeteksian awal kanker ini guna menyadari apakah terdapat benjolan di area payudara, perubahan tekstur, hingga warna yang abnormal.

Dengan langkah tersebut, perempuan dapat mencegahnya sejak dini, dan dokter bisa mengambil langkah cepat untuk menangani penyakit yang mematikan itu.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore