Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 24 Desember 2022 | 15.51 WIB

Tangani Penyakit Jantung, ITB Gaet PJN Harkit dan SCNP Kembangkan NIVA

Institut Teknologi Bandung bersama Pusat Jantung Nasional Harapan Kita (PJN Harkit) dan PT Selaras Citra Nusantara Perkasa Tbk (SCNP) siap meluncurkan alat kesehatan Non-Invasive Vascular Analyzer (NIVA) untuk membantu penanganan masalah penyakit kardiova - Image

Institut Teknologi Bandung bersama Pusat Jantung Nasional Harapan Kita (PJN Harkit) dan PT Selaras Citra Nusantara Perkasa Tbk (SCNP) siap meluncurkan alat kesehatan Non-Invasive Vascular Analyzer (NIVA) untuk membantu penanganan masalah penyakit kardiova

JawaPos.com - Institut Teknologi Bandung bersama Pusat Jantung Nasional Harapan Kita (PJN Harkit) dan PT Selaras Citra Nusantara Perkasa Tbk (SCNP) siap meluncurkan alat kesehatan Non-Invasive Vascular Analyzer (NIVA) untuk membantu penanganan masalah penyakit kardiovaskular.

Alkes NIVA yang dikembangkan berfungsi sebagai detektor dini penyakit kardiovaskular (screening).

Dokter Suko Adiarto, Sp.JP (K), Ph.D, Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Rumah Sakit Harapan Kita menyatakan bahwa kehadiran NIVA akan membantu tenaga medis dalam aktivitas screening kesehatan jantung dan pembuluh darah.

Direktur PT SCNP Shirly Effendy selaku produsen industri alkes domestik, menyatakan kesiapannya memproduksi NIVA akhir 2022 sebagai bentuk kontribusi nyata SCNP bagi industri dan perekonomian nasional.

Untuk tahap awal, kata Shirly, SCNP akan memproduksi dan mendistribusikan 100 unit alkes NIVA ke pasar domestik tahun 2023. "Kita mengapresiasi tim inventor STEI-ITB dan tim penguji klinis PJN Harkit yang telah mengembangkan NIVA sehingga bisa diproduksi massal untuk mendukung penanganan penyakit kardiovaskular, kata Shirly.

Penyakit jantung merupakan salah satu penyakit yang menjadi perhatian. Dalam rilis di situs BPJS Kesehatan Oktober 2022, disebutkan penyakit jantung (cardiovascular diseases) menjadi perhatian utama dalam pembiayaan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Hal itu disebabkan penyakit jantung termasuk katastropik dan menjadi penyakit yang menelan biaya besar dalam program JKN.

Saat ini ketergantungan industri alkes domestik terhadap impor masih sangat tinggi. Berdasarkan data belanja alkes melalui e-katalog dengan nilai total Rp 15,4 triliun periode Mei 2020 hingga Juni 2021, belanja alkes impor mencapai Rp 12,5 triliun (81.17 persen).

Sementara pemesanan alkes produksi lokal hanya senilai Rp 2,9 triliun (18.83 persen). Ketimpangan ini menunjukkan bahwa potensi kemampuan lokal untuk produksi alkes ternyata belum direalisasikan maksimal.

 

 

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore