Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 26 Juni 2022 | 16.34 WIB

Omicron BA.4 dan BA.5 Lebih Menular, Lansia Wajib Divaksin Booster

Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak Anton Elfrino. Humas Polres Pelabuhan Tanjung Perak - Image

Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak Anton Elfrino. Humas Polres Pelabuhan Tanjung Perak

JawaPos.com - Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 memicu lonjakan kasus Covid-19 di tanah air. Total kasus aktif atau mereka yang membutuhkan perawatan mencapai 13 ribu orang sesuai data Satgas Covid-19.

Maka vaksin 2 dosis dirasa kurang memberikan perlindungan. Dosis ketiga atau booster penting untuk melindungi dari keparahan dan kematian.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan dan Kementerian Komunikasi dan Informatika, sekitar 76 persen masyarakat Indonesia belum melakukan vaksinasi booster. Padahal efektivitas vaksin menurun pasca pemberian vaksinasi primer Covid-19 seiring dengan waktu pemantauan.

Lansia dan kelompok rentan lainnya didorong untuk segera mendapatkan vaksin booster. Ketua Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI) Prof. Dr. dr. Hinky Hindra Irawan Satari, SpA(K), M. Trop.Paed, memastikan booster melindungi dari keparahan dan dijamin aman tanpa efek samping yang berat sekalipun pada lansia.

"Data surveilans KIPI menunjukkan bahwa vaksin Covid-19 viral vektor aman sebagai primer maupun booster yang memberikan perlindungan tinggi dan konsisten setara dengan vaksin 'mRNA', bahkan pada kelompok yang lebih rentan," katanya dalam webinar baru-baru ini.

Ia mengatakan, lebih dari 65 juta dosis vaksin Covid-19 viral vektor telah berikan di Indonesia. Hingga saat ini, data surveilans KIPI menunjukkan bahwa vaksin Covid-19 viral vektor aman sebagai primer maupun booster.

"Kami memastikan keamanan vaksin dalam upaya peningkatan keselamatan pasien serta menentramkan masyarakat," jelasnya.

Di Indonesia, pemberian dosis booster bagi lansia (usia > 60 tahun) dapat diberikan dengan interval minimal 3 bulan setelah mendapat vaksinasi primer lengkap. Vaksinasi booster dapat dilakukan secara homolog atau heterolog menggunakan regimen vaksin yang tersedia di lapangan dan sudah mendapatkan EUA dari BPOM serta sesuai dengan rekomendasi ITAGI.

Terdapat kelompok masyarakat yang mempunyai gangguan (defisiensi) respons imun terhadap vaksinas. Dapat diharapkan vaksin bermanfaat untuk meningkatkan respons imun setelah vaksinasi primer dua dosis (lengkap).

"Vaksinasi yang dilakukan dalam jangka waktu tertentu dapat menimbulkan titer antibodi yang diinginkan untuk merespons memori untuk mengenali antigen dalam virus Covid-19," tegas Hinky.

Lansia dan Komorbid segera Vaksin

Untuk kelompok komorbid, vaksinasi dapat dilakukan apabila penyakit dalam keadaan terkontrol. Misalnya pasien hipertensi dapat divaksinasi. Kecuali jika tekanan darahnya tinggi di atas 180/110 MmHg, maka proses vaksinasi akan ditunda sampai teratasi.

Pasien diabetes dapat divaksinasi sepanjang belum ada komplikasi akut dan penyintas kanker dapat tetap diberikan vaksin). Ketua Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) Prof. Dr. Sri Rezeki, Hadinegoro, dr., SpA (K), mengatakan studi dari WHO menunjukkan pada usia lanjut, vaksinasi Covid-19 dapat menurunkan kejadian penyakit berat, masuk rumah sakit (rawat inap), dan kematian.

Artinya, kelompok masyarakat yang perlu mendapatkan perlindungan dari Covid-19 yakni usia lanjut, komorbid, dan kelompok imunokompromais selain kelompok dewasa, remaja, dan anak-anak sehat. Terdapat kelompok masyarakat yang mempunyai gangguan (defisiensi) respons imun terhadap vaksinasi.

Vaksin booster homolog, merupakan vaksin Covid-19 yang diberikan sama dengan jenis platform vaksinasi primer. Sementara vaksinasi heterolog, merupakan pemberian vaksin booster yang berbeda platform atau vaksin dengan platform sama, tetapi berbeda merek.

Vaksin heterolog dapat diberikan untuk vaksinasi primer atau booster, disebut mix and match schedule. Rekomendasi WHO menyatakan vaksin booster heterolog merupakan vaksin yang mendapat EUL (Emergency Use Listing) WHO, yakni mRNA, viral vektor, dan protein subunit.

"Berdasarkan data, vaksinasi booster heterolog pada vaksin CoronaVac menghasilkan respons antibodi lebih tinggi dan bertahan lebih lama dibandingkan booster homolog. Tujuan pemberian booster adalah untuk memperbaiki atau meningkatkan efektivitas vaksin yang telah menurun," tutup Sri.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore