Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 15 Maret 2020 | 22.27 WIB

Ahli: Fungsi Paru-Paru Pasien Virus Korona yang Sembuh Sudah Terganggu

Warga menggunakan Masker di Pintu Kedatangan Terminal 3 Ultimate Soekarno Hatta, Jakarta, Sabtu (1/2/2020). Calon penumpag dan petugas bandara  menggunakan masker di Bandara Soekarno Hatta untuk mengantisipasi penularan virus corona. Foto: Dery Ridwansah/ - Image

Warga menggunakan Masker di Pintu Kedatangan Terminal 3 Ultimate Soekarno Hatta, Jakarta, Sabtu (1/2/2020). Calon penumpag dan petugas bandara menggunakan masker di Bandara Soekarno Hatta untuk mengantisipasi penularan virus corona. Foto: Dery Ridwansah/

JawaPos.com - Puluhan ribu pasien di dunia sudah dinyatakan sembuh dari virus Korona. Sekalipun sudah sembuh, mereka tetap harus mengikuti protokol kesehatan agar tak tertular lagi. Bahkan, seorang ahli mengatakan beberapa pasien yang pulih dari COVID-19 menderita penurunan fungsi paru-paru.

Penurunan fungsi paru-paru ini misalnya terlihat pada pasien yang sembuh merasa terengah-engah ketika berjalan cepat. Hal itu diungkapkan Otoritas Rumah Sakit Hongkong seperti dilansir dari South China Morning Post, Minggu (15/3).

Pihak berwenang merilis temuannya pada hari Kamis (12/3), setelah mengamati kelompok pertama pasien Coronavirus yang dipulangkan. Hongkong mencatat 131 kasus positif dikonfirmasi COVID-19, termasuk tiga kasus kematian. Dari mereka, 74 pasien telah dipulangkan sementara satu lainnya juga telah pulih.

Direktur Medis dari Pusat Penyakit Menular otoritas di Rumah Sakit Princess Margaret di Kwai Chung, Dr Owen Tsang Tak-yin, mengatakan, para dokter telah melihat sekitar selusin pasien yang pulang lalu dipantau lagi kesehatannya. Dua hingga tiga pasien tidak dapat melakukan kegiatan seperti sebelumnya.

"Mereka terengah-engah jika berjalan sedikit lebih cepat," kata Tsang pada konferensi pers hari Kamis.

"Beberapa pasien mungkin memiliki sekitar 20 hingga 30 persen fungsi paru (setelah pemulihan)," ungkapnya.

Tsang, yang juga kepala satuan tugas otoritas pada manajemen klinis infeksi, mengatakan pasien ini akan menjalani tes untuk menentukan berapa banyak fungsi paru-paru yang masih mereka miliki. Fisioterapi juga akan diatur untuk memperkuat paru-paru mereka.

Sebuah tinjauan scan paru-paru dari sembilan pasien yang terinfeksi di Princess Margaret menemukan pola yang mirip. Menunjukkan adanya kerusakan organ.

Tetapi Tsang mengatakan, efek jangka panjang pada pasien yang pulih belum dapat dipastikan. Misalnya efek fibrosis paru atau suatu kondisi di mana jaringan paru mengeras dan organ tidak dapat berfungsi dengan baik. Dia mengatakan pasien yang sudah pulang bisa melakukan latihan kardiovaskular seperti berenang untuk membantu paru-paru pulih secara bertahap

Selian itu, Rumah sakit umum kota akan melakukan uji klinis pada remdesivir, obat yang awalnya dikembangkan untuk mengobati Ebola, untuk melihat seberapa efektifnya pada COVID-19. Tsang mengatakan, obat itu sudah dikirim ke rumah sakit. Dokter akan mulai mengidentifikasi pasien yang cocok untuk bergabung dalam uji coba, yang diharapkan akan dimulai pada pertengahan bulan ini.

Dia menekankan bahwa obat itu dapat menyebabkan beberapa komplikasi, seperti mempengaruhi fungsi hati dan menyebabkan peradangan pada pembuluh darah. Pasien COVID-19 sebelumnya juga ditangani dengaj obat seperti Kaletra, obat yang awalnya untuk HIV / AIDS, Ribavirin, yang juga digunakan untuk hepatitis C; dan interferon.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=yNnCfdqZVKA

https://www.youtube.com/watch?v=0SinELPXYC8

https://www.youtube.com/watch?v=HhZjge6lJ78

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore