Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 18 Desember 2020 | 22.46 WIB

80 Persen Pasien Diabetes Sering Beser atau Nokturia, Simak Solusinya

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Nokturia didefinisikan sebagai berapa kali seseorang berkemih dalam periode tidur utamanya, saat seseorang terbangun dari tidurnya untuk berkemih pertama kali dan setiap berkemih selanjutnya harus diikuti tidur atau keinginan untuk tidur. Semua harus dicatat pada catatan harian berkemih. Orang dengan kondisi nokturia akan lebih sering terbangun di malam hari untuk berkemih sehingga membuat kualitas hidupnya terganggu. Nokturia dapat menjadi tanda adanya gangguan pada kesehatan termasuk pasien diabetes.

Salah satu gejala khas pasien diabetes adalah sering terbangun untuk pipis di malam hari. Staf Medis Divisi Metabolik Endokrin dan Diabetes, Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM Dr. dr. Dyah Purnamasari, SpPD, KEMD, mengatakan prevalensi nokturia pada penyandang Diabetes Melitus (DM) tipe 2 dilaporkan berkisar 55-80 persen. Dan pasien diabetes yang mengalami nokturia berat sebesar 25 persen.

"Kejadian dan derajat keparahan nokturia meningkat seiring dengan bertambahnya usia dan adanya kandung kemih yang overaktif (OAB)," katanya dalam konferensi pers virtual, Jumat (18/12).

Baca Juga: Kebutaan Disebabkan Diabetes Bisa Dicegah, Ini yang Harus Diperhatikan

Dia membenarkan beberapa faktor lain yang memengaruhi timbulnya nokturia di antaranya penggunaan obat tekanan darah tinggi tertentu (penghambat kanal kalsium), riwayat stroke, obesitas sentral, kebocoran protein di ginjal, fungsi ginjal, kadar hormon testosteron rendah dan adanya infeksi. Nokturia berat berhubungan dengan peningkatan angka kematian sebesar 1,93 hingga 3 kali lipat. Dan pada laki-laki berkaitan dengan kualitas hidup yang rendah karena berkaitan dengan kejadian disfungsi ereksi serta gangguan pembuluh darah sistemik, bila dibandingkan individu tanpa nokturia berat.

“Pada penyandang diabetes, penatalaksanaan nokturia memerlukan pendekatan komprehensif mulai dari mengatasi penyakit dasar dan evaluasi penyakit penyerta atau obat-obatan yang memudahkan kejadian nokturia," jelasnya.

Solusinya

Pasien diabetes penting untuk bisa mengendalikan glukosa. Sebab jika glukosa tak terkendali akan meningkatkan pengeluaran glukosa lewat urin (glukosuria) dan menyebabkan poliuria (nokturia). Selain itu kendali glukosa yang buruk akan memudahkan penyandang DM menderita infeksi saluran kemih yang mencetuskan poliuria (nokturia).

"Pencapaian kendali glikemik yang optimal menjadi salah satu target pada penatalaksanaan nokturia pada penyandang DM," jelasnya.

Solusi lainnya selain dengan obat-obatan, kata dr. Dyah, tentang terapi perilaku yang dapat dilakukan, ia mengemukakan intervensi gaya hidup yang dapat dilakukan yakni pembatasan garam, protein dan kalori untuk pencegahan terhadap obesitas dan diabetes. Laly membatasi asupan cairan di sore dan malam hari (terutama antara makan malam dan waktu tidur).

"Dan membatasi asupan yang mengandung alkohol dan kafein serta diperlukan juga diet dengan kalori seimbang," katanya.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=zMaYKf8ZaFc

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore