
Ilustrasi anak minum susu
JawaPos.com - Susu merupakan komoditas pangan penting karena merupakan sumber protein yang baik bagi pemenuhan kebutuhan gizi balita serta meningkatkan kesehatan. Namun sayangnya, tingkat konsumsi susu nasional masih rendah. Hal ini dikatakan Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar, Direktorat Jenderal Industri Agro, Abdul Rochim.
"Konsumsi susu nasional sebesar 5 persen pun tidak sejalan dengan peningkatan produksi susu segar dalam negeri yaitu 2 persen. Di lain pihak, tingkat konsumsi susu Indonesia juga masih sangat rendah," papar Abdul Rochim, dalam keterangan tertulis, Selasa (21/11).
Konsumsi susu penduduk Indonesia menurutnya, baru mencapai sekitar 16,62 kg per kapita per tahun (setara susu segar). Angka ini termasuk yang terendah di Asia Pasifik. Masih jauh di bawah negara ASEAN lainnya Malaysia 36,2, Myanmar 26,7, Thailand 22,2, Philipina 17,8 kilogram per kapita per tahun.
Tak hanya masalah konsumsi, ternyata produksi susu lokal tak mampu memenuhi kebutuhan. Neraca susu nasional tidak berimbang di mana kebutuhan ada di angka 4,5 juta ton. Namun tidak diimbangi oleh produksi lokal yang baru mencukupi 864,6 ribu ton (19 persen).
Saat ini industri kata Abdul, peternakan sapi perah terkendala beberapa masalah, mulai dari produktivitas susu sapi yang rendah, pemilihan sapi perah yang masih di bawah skala ekonomis. Akibatnya impor susu jauh lebih besar atau berada di kisaran 3,65 juta ton (81 persen) dalam bentuk Skim Milk Powder (SMP) Whole Milk Powder (WMP), Anhydrous Milk Fat (AMF), dan Butter Milk Powder (BMP).
Untuk mengatasi hal itu, menurutnya, pola kemitraan perlu didorong untuk membangun industri susu yang kondusif. Pasokan Susu Segar Dalam Negeri (SSDN) saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan, baik untuk konsumsi maupun bahan baku industri. Namun Abdul yakin bisa perlahan diatasi dengan mendorong kemitraan antara indusri pengolahan susu dengan koperasi maupun kelompok peternak.
"Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perindustrian tengah merancang kebijakan untuk mencapai target rasio Susu Segar Dalam Negeri (SSDN) vs Susu Impor menjadi 40:60 di tahun 2021,” kata Abdul.
Bandingkan dengan Selandia Baru di mana populasi sapi perah mencapai 6,5 juta, saat ini populasi sapi laktasi di Indonesia tercatat masih di kisaran ± 267 ribu ekor dari total sapi perah ± 533 ribu ekor. Mayoritas pun 98, 96 persen berada di Pulau Jawa dengan tren pertumbuhan stagnan atau cenderung menurun.
Terpisah, Ketua Asosiasi Peternakan Sapi Perah Indonesia Agus Warsito menyambut baik program pemerintah ini. Kemitraan dengan industri merupakan pintu masuk bagi peternak dalam negeri untuk menuju modernisasi cara beternak secara baik dan benar.
"Sehingga bisa menjamin kualitas produk yang memenuhi syarat SNI dan standar yang diharapkan oleh industri. Pada akhirnya peternak menjadi sejahtera karena harga susu dijual ke pabrikan pun bisa lebih tinggi,” ujar Agus.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
