Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 16 Juli 2021 | 23.55 WIB

Tersandung Etika, Studi Tentang Ivermectin Dihapus dari Jurnal Ilmiah

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Sebuah studi penelitian yang memuat tentang Ivermectin, obat antiparasit, sebagai obat terapi Covid-19 dihapus dari jurnal ilmiah. Studi besar yang menunjukkan bahwa pengobatan itu efektif melawan virus ditarik karena masalah etika.

Studi pracetak tentang kemanjuran dan keamanan Ivermectin obat yang digunakan untuk melawan parasit seperti cacing dan kutu rambut dalam mengobati Covid-19 itu sebelumnya dipimpin oleh Peneliti dr. Ahmed Elgazzar dari Universitas Benha di Mesir. Studi itu diterbitkan di situs web Research Square pada November 2020.

Studi tersebut diklaim sebagai uji coba kontrol acak. Sang peneliti, Elgazzar terdaftar sebagai pemimpin redaksi Benha Medical Journal, dan merupakan anggota dewan redaksi.

Baca Juga: BPOM Resmi Izinkan 8 Obat Terapi Pasien Covid-19, Termasuk Ivermectin

Studi ini menemukan bahwa pasien dengan Covid-19 yang dirawat di rumah sakit kemudian menerima Ivermectin lebih awal sembuh atau pulih secara substansial. Disebut pula ada peningkatan dan pengurangan substansial dalam tingkat kematian pada kelompok yang diobati dengan Ivermectin sebesar 90 persen seperti dilansir dari The Guardian, Jumat (16/7).

Tetapi penelitian itu diragukan setelah studi Elgazzar ditarik dari situs web Research Square pada hari Kamis (15/7) karena masalah etika. Research Square tidak menjelaskan apa penyebabnya secara detail.

Seorang mahasiswa kedokteran di London, Jack Lawrence, termasuk orang pertama yang mengidentifikasi kekhawatiran serius tentang makalah tersebut. Dia pertama kali mengetahui pracetak Elgazzar ketika ditugaskan kepadanya oleh salah satu dosennya untuk tugas yang merupakan bagian dari gelar masternya.

Dia menemukan bagian pendahuluan dari makalah itu. Diduga, hampir seluruhnya dijiplak atau plagiat. Tampaknya penulis telah menulus seluruh paragraf dari siaran pers dan situs web tentang Ivermectin dan Covid-19 melalui tesaurus untuk mengubah kata kunci.

"Lucunya, penulis mengubah 'sindrom pernapasan akut yang parah' menjadi 'sindrom pernafasan yang sangat intens'," kata Lawrence.

Data tersebut juga tampak mencurigakan bagi Lawrence, dengan data mentah yang tampaknya bertentangan dengan protokol penelitian pada beberapa kesempatan. “Para penulis mengklaim telah melakukan penelitian hanya pada usia 18-80 tahun, tetapi setidaknya tiga pasien dalam kumpulan data justru berusia di bawah 18 tahun,” kata Lawrence.

“Penulis mengklaim mereka melakukan penelitian antara 8 Juni dan 20 September 2020, namun sebagian besar pasien yang meninggal dirawat di rumah sakit dan meninggal sebelum 8 Juni menurut data mentah. Data juga diformat dengan sangat buruk, dan termasuk satu pasien yang meninggalkan rumah sakit pada tanggal 31/06/2020 yang tidak ada," ungkapnya.

Kemudian menurutnya dalam makalah mereka, penulis mengklaim bahwa 4 dari 100 pasien meninggal dalam kelompok perawatan standar mereka untuk Covid-19 ringan dan sedang. Padahal menurut data asli, jumlahnya 0, sama dengan kelompok perlakuan Ivermectin.

"Dalam kelompok pengobatan Ivermectin mereka untuk Covid-19 yang parah, penulis mengklaim dua pasien meninggal, tetapi jumlah dalam data mentah adalah empat meninggal," katanya.

Lawrence dan Guardian sudah mengirim Elgazzar daftar pertanyaan untuk klarifikasi. Namun ia belum merespons. Kantor pers universitas juga tidak menanggapi.

Lawrence menghubungi ahli epidemiologi penyakit kronis Australia dari University of Wollongong, Gideon Meyerowitz-Katz, dan seorang analis data yang berafiliasi dengan Linnaeus University di Swedia Nick Brown untuk membantu menganalisis data dan hasil studi lebih teliti. Brown membuat dokumen komprehensif yang mengungkap banyak kesalahan data, perbedaan, dan kekhawatiran.

"Kesalahan utama adalah bahwa setidaknya 79 catatan pasien adalah klon (mengutip salinan) yang jelas dari catatan lain," kata Brown kepada Guardian.

"Karena klonnya bahkan bukan salinan murni. Ada tanda-tanda bahwa telah mencoba mengubah satu atau dua bidang agar terlihat lebih alami," ungkap Brown.

Studi lain tentang ivermectin masih berlangsung. Di Inggris, Universitas Oxford sedang menguji apakah memberi orang dengan Ivermectin Covid-19 mencegah mereka berakhir di rumah sakit. Studi Elgazzar adalah salah satu yang terbesar dan paling menjanjikan yang menunjukkan obat itu dapat membantu pasien Covid-19, dan sering dikutip oleh para pendukung obat sebagai bukti keefektifannya. Ini terlepas dari makalah peer-review yang diterbitkan dalam jurnal Clinical Infectious Diseases pada Juni, yang menemukan Ivermectin bukan pilihan yang layak untuk mengobati pasien Covid-19.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore