Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 1 Juni 2023 | 22.43 WIB

Serap Ratusan Ribu Tenaga Kerja, Industri Vape Bakal Terus Tumbuh

Ilustrasi: vape - Image

Ilustrasi: vape

JawaPos.com - Setiap tanggal 30 Mei, publik merayakan hari vape sedunia. Momentum ini biasanya digunakan untuk mengedukasi publik soal rokok eletrik yang banyak diterpa misinformasi. Namun, industri ini terus tumbuh dan menyerap ratusan ribu tenaga kerja di Indonesia.

"Menurut perhitungan kami, ada 150.000–200.000 tenaga kerja yang diserap oleh industri vape. Saat ini ada sekitar 12-13 ribu pelaku usaha yang terlibat dalam rantai pasok industri vape. Saya yakin industri ini enggak cuma sampai di sini saja, industri ini akan berkembang terus,” kata Ketua Umum Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) Aryo Andrianto (30/5).

Keragaman produk tembakau mempunyai tingkat risiko yang berbeda. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Komisi IX Yahya Zaini menilai, sepatutnya risiko ini dipertimbangkan dalam pembuatan aturan terpisah (14/5). Hal itu Ia sampaikan ketika membahas poin rokok elektrik dalam diskusi mengenai RUU Omnibus Kesehatan.

Tidak hanya soal risiko atau kandungan zat berbahaya, berikut adalah informasi yang membuat orang memilih vape sebagai alternatif untuk beralih dari produk rokok konvensional.

Diketahui, asap rokok memang berbahaya bagi orang sekitar terutama yang bukan perokok. Namun hal ini tidak berlaku untuk uap rokok elektrik. Cairan rokok elektrik biasanya terdiri dari nikotin, propilen glikol dan atau gliserin, serta perasa. Tidak seperti rokok, tidak ada uap aliran samping yang dipancarkan oleh rokok elektrik ke atmosfer, hanya aerosol yang dihembuskan. Hal ini diperkuat oleh penelitian dari salah satu peneliti dari Universitas Padjadjaran.

“Aerosol/uap yang dihasilkan vape atau rokok elektrik mengandung sedikit sekali (zat berbahaya dan karsinogen), bisa dikatakan kadarnya tidak bermakna,” ujar Dosen FKG UNPAD Amaliya.

Fakta bahwa produk alternatif dapat mengurangi jumlah perokok telah terjadi di beberapa negara, seperti Belanda dan Swedia. Di Swedia bahkan angka perokoknya hampir berada di angka 5 persen, padahal negara ini memiliki 13 persen perokok dewasa pada 2010. 

Menurut mantan ketua World Medical Association (WMA) Anders Milton, penurunan ini didukung oleh pemerintah yang mendukung produk tembakau alternatif seperti vape dan kantong nikotin.

“Perokok merokok karena mereka suka, jadi tidak semudah itu untuk berhenti. Oleh karena itu produk alternatif diperlukan. Dengan pemakaian produk alternatif, angka penderita kanker paru-paru Swedia menjadi yang terendah di Eropa,” kata Milton pada forum Pan American Harm Reduction Association (PAHRA) (11/5).

Kejadian serupa juga ditemui di Belanda. Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Islam Negeri Jakarta, Laifa Annisa mengatakan bahwa pemerintah Belanda mempunyai program yang terstruktur untuk mengurangi angka perokok dewasa dengan produk alternatif tembakau.

“Saya tahu di Belanda mereka punya klinik untuk mengatasi kecanduan, salah satunya untuk rokok. Jadi memang ada klinik khusus smoking cessation yang terprogram. Beberapa menggunakan produk alternatif (sebagai instrumennya),” kata Laifa (22/5).

Peneliti dari Universitas Surabaya Amelia Lorensia pada 2017 mengungkapkan perokok yang beralih ke vape dapat mengurangi konsumsi rokok serta terlepas dari rokok sepenuhnya. Penelitian yang dilakukan di Surabaya itu mengungkapkan bahwa 75 persen responden yang ditanya mengaku berhenti total dari rokok, sedangkan 25 persen mengaku masih merokok tapi konsumsinya menurun karena vape.

Bila melihat negara lain, pendekatan untuk menjadikan vape sebagai alternatif bagi perokok mulai dilakukan di Filipina pada 2022 lalu, melalui Undang-undang vape. Regulasi itu mengakui dan memberikan standarisasi bagi produk alternatif yang rendah risiko. Dokter Senior Filipina Lorenzo Mata mengatakan bahwa regulasi ini ditujukan untuk membantu perokok beralih.

“Dengan undang-undang ini, kami mengatur produk, kami mengatur rasa, kami mengatur pembatasan produk ke generasi muda. Ini murni untuk mereka yang ingin berhenti,” kata Mata (8/22).

Editor: Dimas Ryandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore