
Ilustrasi Hypervigilance (Freepik)
JawaPos.com - Saat seseorang terus-menerus merasa waspada seperti selalu “siaga” terhadap bahaya, meskipun sebenarnya tak ada ancaman nyata itu bisa jadi tanda dari hypervigilance. Dalam kondisi ini, tubuh dan pikiran seolah selalu dalam mode “bertahan”, jantung berdetak lebih cepat, perasaan cemas, susah santai atau tidur, walau lingkungan terlihat normal. Menurut Alodokter, kondisi ini dapat membuat seseorang bereaksi berlebihan terhadap rangsangan kecil sekali pun dan sering tidak disadari sebagai masalah psikologis.
Sedangkan menurut Hello Sehat, hypervigilance dapat dipicu oleh trauma, stres berat, atau kecemasan berkelanjutan. Ketika respons “siaga” ini terus aktif, bisa mengganggu aktivitas sehari-hari, hubungan sosial, hingga kesehatan mental secara umum. Pola kewaspadaan ekstrem ini sebenarnya adalah alarm tubuh yang terlalu sensitif, bukan sifat bawaan seseorang.
Karena dampaknya bisa besar, penting untuk memahami penyebabnya dan mencari cara untuk meredakan kondisi ini, agar hidup tidak selalu terasa melelahkan karena ketegangan yang terus menerus.
Penyebab Hypervigilance
1. Trauma atau Pengalaman Menakutkan di Masa Lalu
Seringkali hypervigilance berakar dari pengalaman traumatis misalnya pelecehan, kecelakaan, bullying, atau peristiwa yang mengejutkan. Otak “belajar” bahwa lingkungan bisa berbahaya, sehingga tetap waspada meskipun situasi sekarang sudah aman.
2. Gangguan Kecemasan atau Stres Berkepanjangan
Orang dengan kecemasan kronis termasuk Generalized Anxiety Disorder (GAD) atau kecemasan sosial bisa mengalami hypervigilance. Ketidakpastian, rasa takut dinilai buruk, atau kekhawatiran terus-menerus membuat sistem saraf tetap “on alert”.
3. Lingkungan atau Pemicu Sensori yang Membebani
Lingkungan ramai, bising, ramai interaksi, atau situasi yang tak nyaman bisa memicu respons waspada berlebihan. Hal-hal seperti suara keras, keramaian, atau situasi tidak terduga bisa “menyulut” hypervigilance, meskipun tidak ada ancaman nyata.
Cara Mengatasi Hypervigilance
1. Terapi dan Penanganan Profesional
Jika hypervigilance sudah mengganggu kualitas hidup, konsultasi dengan profesional kesehatan mental seperti psikolog atau psikiater bisa membantu. Terapi seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) atau terapi paparan (exposure) dipercaya efektif membantu menata ulang respons terhadap rasa takut atau kewaspadaan berlebihan.
2. Teknik Relaksasi dan Grounding
Latihan pernapasan dalam, meditasi ringan, mindfulness, atau aktivitas yang menenangkan tubuh (seperti berjalan santai, stretching, yoga) bisa membantu menenangkan sistem saraf. Teknik ini membantu memberi jarak antara “reaksi otomatis” tubuh dan realitas, memecah siklus kewaspadaan terus-menerus.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
