Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 2 Oktober 2025 | 17.19 WIB

Mengenal Balint Syndrome: Gangguan Neurologis Langka yang Memengaruhi Persepsi Visual

Seorang pria yang terlihat bingung (dok. freepik) - Image

Seorang pria yang terlihat bingung (dok. freepik)

JawaPos.com - Bayangkan saat Anda melihat hutan, namun yang terlihat hanyalah pohon-pohon terpisah tanpa mampu mengenali bahwa itu adalah hutan. Atau ketika ingin meraih benda di depan mata, tangan justru meleset dan menyenggol barang lain. Fenomena inilah yang dapat terjadi pada penderita Balint syndrome, suatu kondisi neurologis langka yang memengaruhi persepsi visual dan koordinasi gerakan.

Balint syndrome, yang juga dikenal dengan istilah Balint-Holmes syndrome, pertama kali dijelaskan oleh Rudolf Bálint pada tahun 1909. Kondisi ini disebabkan oleh kerusakan pada area otak, terutama lobus parietal di kedua sisi, dan terkadang juga melibatkan lobus oksipital.

Lobus parietal berperan penting dalam persepsi sensorik, sedangkan lobus oksipital berfungsi utama dalam penglihatan. Jika kedua area ini mengalami kerusakan, maka fungsi visual terganggu dan menimbulkan gejala khas Balint syndrome.

Kasus Balint syndrome sangat jarang ditemukan. Kebanyakan laporan berasal dari orang dewasa, meski ada juga catatan yang menunjukkan kondisi ini dapat terjadi pada anak-anak usia dini.

Gejala Utama Balint Syndrome

Melansir Medical News Today, balint syndrome memiliki tiga gejala khas yang muncul dalam berbagai tingkat keparahan pada setiap individu.

Pertama adalah simultanagnosia, yakni kesulitan dalam memproses keseluruhan objek secara bersamaan. Misalnya, seseorang bisa melihat sebuah pohon, tetapi gagal mengenali bahwa kumpulan pohon tersebut adalah hutan. Kondisi ini juga dapat memengaruhi kemampuan membaca atau mengenali wajah di keramaian.

Gejala kedua adalah optik ataksia, yaitu gangguan koordinasi mata dan tangan. Informasi visual dari mata tidak dapat digunakan otak secara efektif untuk mengontrol gerakan. Akibatnya, penderita sering menjatuhkan benda atau kesulitan meraih objek dengan tepat.

Gejala ketiga adalah okulomotor apraksia, di mana gerakan mata menjadi terbatas. Penderita mungkin tidak bisa mengalihkan pandangan dengan mudah atau matanya tampak bergerak tanpa kendali. Kondisi ini sering memberi kesan bahwa mereka sedang menatap kosong.

Selain tiga gejala inti tersebut, Balint syndrome dapat menimbulkan tantangan besar dalam kehidupan sehari-hari, terutama terkait dengan aktivitas yang memerlukan persepsi ruang dan koordinasi gerakan.

Perbedaan dengan Anton Syndrome

Balint syndrome kerap disamakan dengan Anton syndrome, padahal keduanya memiliki perbedaan mendasar. Pada Balint syndrome, penderita masih bisa melihat tetapi mengalami gangguan dalam memproses dan mengoordinasikan informasi visual.

Sebaliknya, pada Anton syndrome terjadi kebutaan total akibat kerusakan lobus oksipital, namun penderita tetap meyakini dirinya bisa melihat. Kondisi ini disebut sebagai anosognosia visual, yaitu penolakan terhadap kehilangan penglihatan. Bahkan, penderita sering menjelaskan lingkungan seakan-akan masih bisa melihat, meski sebenarnya tidak.

Penyebab dan Faktor Risiko

Penyebab paling umum dari Balint syndrome adalah stroke atau adanya gumpalan darah di otak. Namun, kondisi ini juga bisa dipicu oleh cedera kepala, infeksi otak, tumor, keracunan karbon monoksida, hingga kekurangan oksigen.

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore