Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 26 September 2025 | 01.32 WIB

Baru Lulus Kuliah dan Susah Cari Pekerjaan? Waspadai Post Grad Depression yang Sering Terjadi Serta Strategi Mengatasinya.

lustrasi post grad depression. (freepik) - Image

lustrasi post grad depression. (freepik)

JawaPos.com – Menghadapi post grad depression atau depresi pascakelulusan bisa menjadi pengalaman yang membingungkan bagi banyak lulusan baru.

Setelah bertahun-tahun fokus pada kuliah dan penelitian, masa transisi menuju dunia kerja atau tahap kehidupan berikutnya tidak selalu berjalan mulus.

Banyak orang merasa kehilangan arah, tidak pasti dengan masa depan, atau bahkan kecewa karena realitas setelah lulus tidak sesuai dengan ekspektasi.

Riset terbaru menemukan bahwa gejala depresi cukup tinggi pada mahasiswa pascasarjana.

Sebuah systematic review dan meta-analysis mencatat prevalensi depresi sebesar 34%, dengan depresi ringan mencapai 27%, depresi sedang 13%, dan depresi berat 8%.

Lebih jauh lagi, mahasiswa pascasarjana dilaporkan lebih dari enam kali lipat lebih mungkin mengalami depresi dan kecemasan dibandingkan populasi umum.

Beberapa studi bahkan menunjukkan bahwa 39% di antaranya mengalami depresi tingkat sedang hingga berat.

Angka ini konsisten sejak 1980, menegaskan bahwa post grad depression adalah fenomena serius yang tidak bisa diabaikan.

Dengan data tersebut, kita dapat memahami bahwa depresi pascakelulusan bukan sekadar “fase bingung” setelah wisuda, melainkan kondisi psikologis nyata yang membutuhkan perhatian.

Lalu, apa sebenarnya yang menyebabkan banyak lulusan baru rentan mengalami post grad depression, dan bagaimana cara menghadapinya?

Simak penjelasan lebih lanjut tentang depresi pascakelulusan yang dilansir dari Healthline, Psychcentral, dan Southern New Hampshire University.

1. Transisi Hidup dan Kerentanan Psikologis Lulusan Baru

Post grad depression, atau yang kadang disebut graduation blues, adalah kondisi emosional yang kerap dialami banyak lulusan setelah melewati masa studi.

Rasa kehilangan arah, kekecewaan, bahkan kesedihan sering muncul ketika realitas setelah lulus tidak seindah bayangan.

Data dari Substance Abuse and Mental Health Services Administration (SAMHSA) menunjukkan bahwa kelompok usia 18–25 tahun mengalami episode depresi mayor lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya.

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore