Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 21 September 2025 | 06.15 WIB

Merasa Gelisah Setelah Minum Kopi? Waspada Alergi Kopi, Pahami Beda Sensitivitas dan Efek Kafein Berlebih!

Ilustrasi perempuan yang merasa pusing setelah meminum kopi (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Kopi sudah menjadi minuman andalan banyak orang di pagi hari untuk menambah energi. Namun, tidak semua orang dapat menikmatinya dengan aman. Meski jarang terjadi, alergi terhadap kopi dapat menimbulkan reaksi yang mengganggu, seperti ruam kulit, mual, hingga sesak napas. Penting untuk mengenali perbedaan antara alergi, sensitivitas, dan efek kafein berlebih agar tidak salah menanganinya.

Alergi kopi murni tergolong langka. Reaksi bisa muncul ketika seseorang terpapar biji kopi, bahkan sebelum biji tersebut disangrai. Penelitian yang dimuat dalam International Archives of Allergy and Immunology mencatat bahwa debu dari biji kopi hijau dapat memicu alergi pada pekerja yang menanganinya. Reaksi alergi terjadi karena sistem kekebalan tubuh menganggap senyawa dalam kopi sebagai ancaman dan melepaskan histamin untuk melawannya. Proses inilah yang menimbulkan gejala alergi.

Meskipun kasus alergi akibat meminum kopi sangat jarang, tetap ada laporan kejadian di masa lalu. Alergi makanan, termasuk kopi, pada dasarnya adalah respons sistem imun yang mirip ketika tubuh melawan virus atau bakteri.

Gejala Alergi Kopi

Gejala alergi kopi bisa muncul dalam hitungan jam setelah konsumsi dan dapat memburuk seiring waktu. Reaksi yang umum meliputi ruam atau gatal pada kulit, mual, muntah, kesulitan menelan, sesak napas, batuk mengi, kram perut, diare, kulit pucat, denyut nadi lemah, hingga pingsan.

Melansir dari Medical News Today, dalam kasus parah, alergi dapat berkembang menjadi anafilaksis yang mengancam jiwa. Kondisi ini ditandai dengan pembengkakan tenggorokan dan mulut yang dapat menutup saluran pernapasan, serta memengaruhi tekanan darah dan detak jantung. Segera cari pertolongan medis jika mengalami gejala seperti ini, bahkan setelah mengonsumsi antihistamin atau epinefrin.

Sensitivitas Kopi vs Alergi Kopi

Banyak orang mengira mereka alergi kopi padahal hanya sensitif terhadapnya. Sensitivitas kopi bisa menimbulkan keluhan seperti rasa gelisah, mudah marah, cemas, sulit tidur, sakit perut, kram perut, detak jantung cepat, hingga tekanan darah naik. Gejala ini biasanya hilang setelah berhenti minum kopi.

Kopi juga dapat memperparah gangguan pencernaan, seperti maag atau GERD. Kandungan kafein dapat membuat otot katup lambung menjadi rileks, sehingga asam lambung naik dan menimbulkan rasa terbakar.

Efek Kafein Berlebih

Gejala alergi kopi sering disalahartikan sebagai efek kafein yang berlebihan. Rekomendasi asupan kafein untuk orang dewasa umumnya tidak lebih dari 400 mg per hari, setara sekitar 4 cangkir kopi seduh. Orang yang jarang mengonsumsi kafein atau lebih sensitif bisa merasakan efeknya meski hanya dari 1 cangkir.

Kelebihan kafein dapat memicu nyeri dada, palpitasi jantung, perubahan suasana hati, mati rasa pada anggota tubuh, nyeri otot, sesak napas, sakit kepala, bahkan halusinasi dan serangan panik. Meski sangat jarang, ada juga orang yang alergi terhadap kafein itu sendiri yang dapat memicu anafilaksis.

Faktor Lain yang Perlu Diperhatikan

Reaksi tidak selalu berasal dari biji kopi saja. Bahan lain seperti pestisida, bahan kimia saat pengolahan, atau kontaminasi jamur (mikotoksin) pada biji kopi hijau juga dapat memicu alergi. Mikotoksin bahkan dapat bertahan setelah proses pemanggangan.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore