Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 16 September 2025 | 08.22 WIB

Studi Terbaru: AI Mampu Bantu Dokter Prediksi Kebutuhan Perawatan Pasien Keratoconus secara Presisi

Kondisi pasien menderita penyakit keratoconus (Dok. Keeyecenters)

JawaPos.com - Para peneliti telah berhasil menggunakan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk memprediksi secara presisi pasien mana yang membutuhkan perawatan guna menstabilkan kornea dan mempertahankan penglihatan mereka. Khususnya, pasien yang menderita penyakit keratoconus.

Keberhasilan itu tertuang dalam sebuah studi terbaru yang dipresentasikan di Kongres ke-43 European Society of Cataract and Refractive Surgeons (ESCRS), Minggu (14/9/2025).

Dilansir dari News Medical, penelitian ini berfokus pada penderita keratoconus, gangguan penglihatan yang umumnya berkembang pada remaja dan dewasa muda dan cenderung memburuk hingga dewasa. 

Kondisi ini memengaruhi hingga 1 dari 350 orang. Dalam beberapa kasus, kondisi ini dapat ditangani dengan lensa kontak, tetapi pada kasus lain kondisi ini memburuk dengan cepat dan jika tidak segera ditangani, bahkan pasien mungkin memerlukan transplantasi kornea

Saat ini, satu-satunya cara untuk mengetahui siapa yang membutuhkan perawatan adalah dengan memantau pasien dari waktu ke waktu.

Para peneliti saat ini menggunakan AI untuk menilai citra mata pasien, dikombinasikan dengan data lain, dan berhasil memprediksi pasien mana yang membutuhkan perawatan segera dan mana yang dapat terus dipantau.

Studi ini dilakukan oleh Dr. Shafi Balal dan rekan-rekannya di Moorfields Eye Hospital NHS Foundation Trust, London, dan University College London (UCL), Inggris.

Pada penderita keratoconus, kondisi kornea atau jendela depan mata menonjol keluar. Keratokonus menyebabkan gangguan penglihatan pada pasien muda usia produktif dan merupakan alasan paling umum untuk transplantasi kornea di dunia Barat.

"Perawatan tunggal yang disebut 'cross-linking' dapat menghentikan perkembangan penyakit. Jika dilakukan sebelum jaringan parut permanen terbentuk, cross-linking seringkali mencegah perlunya transplantasi kornea. Namun, dokter saat ini tidak dapat memprediksi pasien mana yang akan mengalami perkembangan dan membutuhkan perawatan, dan mana yang akan tetap stabil hanya dengan pemantauan. Ini berarti pasien memerlukan pemantauan rutin selama bertahun-tahun, dengan cross-linking biasanya dilakukan setelah progresi terjadi," jelasnya.

Penelitian ini melibatkan sekelompok pasien yang dirujuk ke Moorfields Eye Hospital NHS Foundation Trust untuk penilaian dan pemantauan keratoconus, termasuk pemindaian bagian depan mata dengan optical coherence tomography (OCT) untuk memeriksa bentuknya. 

Para peneliti menggunakan AI untuk mempelajari 36.673 gambar OCT dari 6.684 pasien yang berbeda beserta data pasien lainnya.

Algoritma AI dapat memprediksi secara presisi dan akurat apakah kondisi pasien akan memburuk atau tetap stabil hanya dengan menggunakan gambar dan data dari kunjungan pertama.

Dengan menggunakan AI, para peneliti dapat mengurutkan dua pertiga pasien ke dalam kelompok berisiko rendah, yang tidak memerlukan perawatan, dan sepertiga lainnya ke dalam kelompok berisiko tinggi, yang membutuhkan perawatan cross-linking segera. 

Ketika informasi dari kunjungan rumah sakit kedua disertakan, algoritma tersebut berhasil mengkategorikan hingga 90 persen pasien.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore