
Ilustrasi ibu marah kepada anak dengan memberi label sama seperti ayahnya yang sering main hp saat diajak ngobrol.
JawaPos.com - Pernah melihat seseorang yang tampak terus-menerus menunduk seolah dagunya mendekat ke dada? Bisa jadi orang tersebut mengalami sindrom kepala tertunduk atau dropped head syndrome. Kondisi ini bukan sekadar postur membungkuk, melainkan gangguan serius pada otot-otot leher yang memengaruhi kualitas hidup penderitanya.
Sindrom kepala tertunduk adalah kumpulan gejala akibat kelemahan otot-otot belakang leher. Hal ini menyebabkan deformitas atau perubahan bentuk pada leher yang berdampak pada aktivitas sehari-hari.
“Penderitanya terlihat seperti terus-menerus menunduk, dan ini bukan hanya masalah penampilan, tapi juga menyangkut gangguan fungsi otot dan saraf,” ujar dr Reyner Valiant Tumbelaka MKed Klin SpOT.
Sindrom kepala tertunduk bisa disebabkan oleh berbagai gangguan neuromuskular. Yakni, kelainan pada saraf dan otot. Namun, betulkah penggunaan gawai juga termasuk penyebabnya?
"Postur leher yang buruk saat menggunakan gawai dalam waktu lama memang bisa menyebabkan kaku dan nyeri. Tapi, tidak secara langsung menyebabkan dropped head syndrome, karena ini lebih berkaitan dengan kelemahan otot," jelas dokter spesialis orthopaedi dan traumatologi Mayapada Hospital Surabaya itu.
Meski begitu, posisi tubuh saat bekerja dengan komputer atau gawai tetap perlu diperhatikan. Terutama bagi para pekerja yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar. “Gunakan posisi duduk yang ergonomis, sejajarkan layar dengan mata, dan jangan lupa istirahat serta lakukan peregangan ringan secara berkala,” saran dokter Reyner.
Sindrom ini bukan hanya menyerang kalangan lansia. Anak-anak hingga remaja pun bisa mengalaminya, meskipun lebih sering ditemukan pada orang dewasa. Karena itu, penting bagi semua kalangan untuk memperhatikan postur tubuh dan kebiasaan sehari-hari.
Gejala yang umum muncul tidak hanya perubahan postur. Keluhan lain yang sering dirasakan antara lain kaku dan lemah di leher serta bahu, kesulitan menelan, hingga perubahan cara berjalan. Dalam kondisi tertentu, penderita juga bisa mengalami kesemutan di tangan dan kelemahan pada anggota gerak atas.
Jika dibiarkan tanpa penanganan, kondisi itu bisa memburuk. “Dalam jangka panjang, bisa terjadi kerusakan permanen pada struktur leher, perubahan bentuk tulang belakang, hingga gangguan saraf yang mengganggu mobilitas,” sambung.
“Latihan terbaik adalah latihan yang disempatkan. Tak perlu lama-lama, yang penting konsisten," katanya. Dengan memperhatikan postur, rutin berolahraga, dan peka terhadap gejala-gejala awal, sindrom kepala tertunduk bisa dicegah sebelum mengganggu aktivitas.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Cetak Prestasi! Masuk 8 Klub Indonesia Lolos Lisensi AFC Champions League Two Tanpa Syarat
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
