Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 15 Desember 2024 | 02.35 WIB

Bedah Jantung di Indonesia: Perjalanan, Tantangan, dan Inovasi

Seminar bertajuk Optimizing Patient Care in Coronary Artery Bypass Surgery (CABG). (Robertus Risky / Jawa Pos) - Image

Seminar bertajuk Optimizing Patient Care in Coronary Artery Bypass Surgery (CABG). (Robertus Risky / Jawa Pos)

 
JawaPos.com - Penyakit jantung adalah salah satu masalah kesehatan global dengan frekuensi yang serupa di berbagai negara. Namun, perkembangan terapi penyakit ini sangat bergantung pada kemajuan riset dan teknologi di masing-masing wilayah.
 
"Di negara maju, pengobatan penyakit jantung sudah lebih maju karena riset mereka sudah lama. Sementara di Indonesia, kita baru memulai bedah jantung pada akhir tahun 1950-an," ungkap Prof. Dr. Med. Puruhito, dr. Sp.B, Sp.BTKV, Subsp.VE (K) kepada JawaPos.com, Jumat (13/12). 
 
Bedah jantung di Indonesia baru dimulai sekitar tahun 1958-1959 di Jakarta dan Surabaya dengan jumlah kasus dan jenis penyakit yang sangat terbatas. “Praktis, kita baru memulai serius pada tahun 1970-an. Itu pun masih tertinggal jauh dibandingkan negara maju yang sudah mapan sejak tahun 1950-an,” jelasnya.
 
 
Hingga kini, bedah jantung di Indonesia masih menghadapi banyak kendala, salah satunya adalah keterbatasan tenaga ahli. "Jumlah ahli bedah BTKV di Indonesia sekarang ada sekitar 230 orang, tetapi yang fokus pada bedah jantung hanya sekitar 70-an. Jelas ini masih kurang untuk negara sebesar ini," tuturnya. Sebagai perbandingan, Thailand memiliki lebih dari 400 ahli bedah jantung, sedangkan Vietnam juga lebih unggul dalam jumlah tenaga ahli.
 
Untuk mengatasi kekurangan tenaga ahli, Indonesia telah meningkatkan jumlah pusat pendidikan ahli bedah BTKV, dari yang semula hanya ada di Jakarta dan Surabaya menjadi enam lokasi, termasuk Palembang, Yogyakarta, Makassar, dan Bali. "Dengan bertambahnya tempat pendidikan, diharapkan kita bisa meluluskan 40 hingga 60 ahli baru setiap tahunnya. Saat ini, jumlah lulusan hanya sekitar 20-an per tahun," tambahnya.
 
Teknologi bedah jantung global terus berkembang menuju teknik minimal invasif, yang mengurangi rasa sakit dan waktu pemulihan pasien. Salah satu inovasinya adalah penggantian katup jantung melalui kateter tanpa operasi besar. "Teknik ini sangat maju, tetapi tantangannya adalah harganya yang mahal. Katup tradisional harganya sekitar 30-40 juta rupiah, sedangkan yang minimal invasif bisa mencapai ratusan juta," jelas salah satu pionir bedah jantung di Indonesia itu.
 
 
Selain itu, biaya bahan habis pakai seperti kateter dan alat diagnostik juga menjadi beban besar. “Setiap bahan habis pakai itu artinya sekali pakai langsung dibuang. Ini yang membuat prosedur menjadi sangat mahal. Kadang, kita tidak bisa menerapkan teknologi karena terjebak pada pengadaan alat,” ucapnya.
 
Prof. Puruhito menjelaskan bahwa penyakit jantung bawaan sejak lahir memiliki frekuensi tetap, yaitu delapan kasus per 1.000 kelahiran hidup. Namun, penyakit jantung yang didapat, seperti jantung koroner, terus meningkat akibat gaya hidup tidak sehat. "Risiko utamanya adalah tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol, dan kebiasaan merokok. Kita selalu menghimbau masyarakat untuk berhenti merokok, tidak hanya untuk mencegah kanker paru-paru, tetapi juga penyakit jantung," katanya.
 
Dalam upaya meningkatkan pemahaman dan efektivitas operasi jantung koroner, Departemen KSM dan Prodi Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular FK Unair - RSUD Dr. Soetomo mengadakan seminar bertajuk Optimizing Patient Care in Coronary Artery Bypass Surgery (CABG). Seminar ini mengusung pendekatan multidisiplin dalam operasi CABG, melibatkan dokter bedah, dokter jantung, hingga dokter anestesi.
 
“Operasi atau prosedur ini tidak hanya menjadi tanggung jawab ahli bedah saja, tetapi membutuhkan kontribusi banyak pihak untuk mendapatkan hasil yang optimal,” tegas Puruhito. Dengan adanya kolaborasi lintas disiplin ini, pasien diharapkan mendapatkan perawatan yang lebih baik mulai dari tahap pra-operasi, intra-operasi, hingga pasca-operasi.
 
Dengan kebijakan yang mendukung, peningkatan jumlah tenaga ahli, dan pengadaan alat yang lebih baik, Indonesia perlahan mulai mengejar ketertinggalan. "Alhamdulillah, saat ini kita sudah bisa melakukan bedah jantung di 18 rumah sakit Kementerian Kesehatan, termasuk di wilayah terpencil seperti Kendari dan Ambon. Ini adalah langkah maju," tutupnya.
Editor: Bintang Pradewo
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore