JawaPos.com - Istilah snowflake generations mulai populer di masyarakat merujuk pada stigma terhadap para Gen Z yang cenderung rapuh dan mudah 'baper'.
Dinamakan snowflake karena banyak kalangan menganggap mentalitas Gen Z mudah rapuh dan gampang menyerah serta tersinggung dalam menyikapi suatu tantangan maupun kritikan.
Jika dibiarkan, hal itu tentu mengkhawatirkan karena merekalah yang nantinya meneruskan estafet perjuangan bangsa dan menentukan masa depan Indonesia.
Maka dari itu, dikutip dari laman Simple Life with Kids, ada sejumlah tips bagi orang tua yang kebetulan memiliki anak termasuk dalam kategori Gen Z, agar mereka tidak sampai terjerumus menjadi Snowflake Generations.
1. Terapkan aturan yang tegas dalam keluarga
Setiap orang tua tentu sangat mencintai dan menyayangi anaknya, bagaimanapun kondisinya. Namun, jangan sampai kasih sayang diwujudkan dalam sesuatu yang memanjakan dan tidak menerapkan aturan kepada mereka.
Dalam keluarga, aturan tegas harus diterapkan agar anak terbiasa menjalani hidup sesuai dengan norma, disiplin, dan kewajiban-kewajiban yang tentu juga akan mereka hadapi saat berada di luar lingkup rumah.
2. Jangan terlalu sering memberi hadiah
Masih banyak orang tua yang sering menuruti permintaan anak atau terlampau mudah memberi hadiah setiap kali meraih pencapaian.
Hal itu jangan dibiasakan karena meraih pencapaian adalah suatu kewajiban, dan itu lebih penting daripada selalu menuntut hak.
Meskipun begitu, sesekali orang tua memang perlu memberi reward atas pencapaian anak mereka, agar mereka bisa termotivasi.
Namun jika setiap pencapaian yang diraih selalu diganjar hadiah, bukannya termotivasi tapi mereka malah menjadi lebih manja dan selalu pamrih dalam melakukan sesuatu.
3. Beri pengertian tentang kesetaraan gender
Orang tua perlu memberi pengertian kesetaraan gender pada anak, bahwa setiap manusia, baik itu laki-laki maupun perempuan masing-masing memiliki perbedaan, mulai dari kemampuan, kelebihan, hingga kelemahan.
Namun, setiap manusia juga memiliki kesetaraan yang diakui secara hukum. Hal itu akan membuat anak sadar bahwa jangan mudah silau dan malah terpuruk serta menyerah saat melihat kelebihan orang lain, karena setiap individu tidaklah sama, tetapi memiliki kesetaraan dalam hal upaya meraih suatu pencapaian.
4. Ajari kejujuran dan sikap menghargai
Setiap orang tua juga wajib mengajarkan kejujuran kepada anaknya, sehingga mereka tidak akan hidup di balik tirai kebohongan.
Misalnya, jika memang sedang dalam kondisi yang pas-pasan, maka orang tua patut memberi tahukan kepada anak agar mereka juga siap menjalaninya dan tidak melulu dituruti semua keinginannya.
Selain itu, ajari juga sikap menghargai, sehingga anak tidak akan meremehkan orang lain yang kondisinya mungkin di bawah mereka.
Sebaliknya, ia akan belajar menghargai diri sendiri jika kondisi si anak mungkin tidak sebagus kompetitornya, atau teman sebayanya.