Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 27 Maret 2024 | 19.41 WIB

Dokter Spesialis Saraf Pastikan Pengidap Epilepsi Boleh Menikah

Dokter spesialis saraf Heri Munajib saat menggelar seminar di Gresik. - Image

Dokter spesialis saraf Heri Munajib saat menggelar seminar di Gresik.

JawaPos.com — Penyakit epilepsi yang disebabkan adanya gangguan aktivitas listrik pada saraf bagian otak masih menimbulkan sejumlah desas-desus dan mitos di kalangan masyarakat awam. Sebagaimana stigma tentang kejang-kejang. Padahal, epilepsi bukan hanya soal kejang.

Beberapa mitos lain yang sering muncul adalah epilepsi penyakit menular, penyakit kebodohan, penyakit kutukan atau guna-guna, hingga larangan pengidap epilepsi untuk menikah.

"Padahal, bisa menikah. Namun, saya sarankan ikut konsultasi pranikah. Agar bisa melakukan pencegahan," ucap Heri Munajib, dokter spesialis saraf dalam seminar memperingati hari epilepsi se-dunia di Gresik, awal pekan lalu.

Heri berkeinginan untuk mengumpulkan para pengidap epilepsi dalam wadah komunitas. Nanti para peserta yang hadir bisa menjalin komunikasi satu sama lain melalui komunitas epilepsi tersebut. Saling bertukar informasi mengenai penyakit yang diderita.

"Jadi, harapan saya bisa membuat komunitas epilepsi. Ini juga untuk melawan mitos tersebut," ucapnya.

Epilepsi memiliki beragam kelainan yang bisa ditimbulkan. Di antaranya, tantrum, nyeri kepala seperti migrain, berdiam terpaku selama beberapa saat, hingga hiperseksual.

"Saya pernah menemukan kasus hiperseksual ini akibat dari epilepsi," imbuh pria yang pernah menempuh studi neurologi di Universitas Airlangga tersebut.

Dia mengungkapkan, ada banyak mitos yang beredar mengenai penyakit epilepsi. Termasuk dari pasien yang pernah dia tangani.

Temuan tersebut didapatkan saat dirinya melayani salah seorang pasien perempuan hiperseksual. Pasien sempat mendapatkan penanganan dari spesialis jiwa, tetapi tidak ditemukan gangguan kejiwaan padanya.

Pasien kemudian dirujuk ke bagian neurologi. Setelah mendapatkan pemindaian otak, akhirnya ditemukan ada aktivitas listrik tidak normal pada saraf otak. "Kami berikan perawatan berkala, akhirnya pola seksualnya berkurang," tuturnya. (leh/son)

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore