Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 1 September 2022 | 00.28 WIB

Tak Disiplin Minum Obat Selama 8 Bulan, Pasien TBC Rentan Kambuh

Ilustrasi obat TBC. Humas Pemkot Surabaya - Image

Ilustrasi obat TBC. Humas Pemkot Surabaya

JawaPos.com - Saat terkena tuberkulosis atau (TBC) yang dipicu oleh kuman atau bakteri, seorang pasien harus patuh dan disiplin mengonsumsi obat. Jika tidak, kuman akan sulit mati dan rentan mengalami kekambuhan. Penularan TBC kepada orang lain juga rentan terjadi.

Data Kementerian Kesehatan, pengobatan TBC harus diminum jangka panjang setidaknya selama 8 bulan. Tahap awal yakni rutin selama 2 bulan atau 3 bulan diminum setiap hari. Tahap lanjutan atau 4 bulan atau 5 bulan diminum 3x/minggu.

Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman mengatakan masyarakat mengenal TBC sebagai TB atau TB paru. Tak hanya di paru-paru, TB bisa menyerang di mana-mana seperti di kulit dan tulang.

“Ini jadi ancaman serius, tak hanya sebabkan sakit pada pasien, tapi bisa menurunkan kualitas hidup pasien. Sebab pengobatannya harus lama, dan bahkan pasien sering kambuh ya,” katanya kepada JawaPos.com, Rabu (31/8).

Dicky menyebutkan Indonesia salah satu negara yang menjadi spot riset soal TBC. Menurutnya, ancaman resistensi atau tak mempan diobati pada TBC juga tinggi.

“Mengapa resisten, itu karena banyak pasien enggak disiplin, enggak patuh pengobatan TBC yang relatif lama,” jelasnya.

Indonesia Targetkan Bebas TBC 2035

Dicky menilai target Indonesia bebas TBC pada tahun 2035 sulit tercapai jika semua stakeholder tak sungguh-sungguh soal ini. Indonesia memiliki program Stop TB untuk gencar mengakhiri kuman TBC.

“Ini sisa 13 tahun lagi. Dan itu dalam analisa saya terakhir, disebut sulit tercapai.

Upaya global mengakhiri penyakit TB ini isinya atau strateginya untuk bukan hanya bebas kumannya ya, tetapi jangan sampai ada kematian, dan juga tak ada kasus di masyarakat,” jelasnya.

Setidaknya ada 4 strategi memberantas kuman TBC. Pertama, aspek mencegah penularan dengan meningkatkan kualitas udara, sanitasi, ventilasi sirkulasi rumah harus lebih sehat. Kedua adalah early detection atau deteksi dini agar lebih kecil menularkan.

Ketiga, harus ada pengobatan atau treatment yang tepat dan lama serta pemantauan yang tepat. Terakhir, manajemen dalam mengatur efek ekonomi yang turut menyumbang angka kasus TBC. Pasalnya, TBC umumnya diderita oleh kelas ekonomi menengah ke bawah hingga pasien HIV AIDS.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore