Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 24 April 2026 | 14.45 WIB

Antara Nyawa dan Biaya: Jalan Terjal Pasien Kanker Paru Akses Pengobatan Modern

Ilustrasi kanker paru. (Cancer Center). - Image

Ilustrasi kanker paru. (Cancer Center).

JawaPos.com — Di balik padatnya lalu lintas ibu kota dan paparan polusi yang kian sulit dihindari, ancaman kanker paru kini menjangkau kelompok yang tak terduga. Penyakit yang selama ini identik dengan perokok aktif, perlahan mengintai mereka yang merasa telah menjalani hidup sehat.

Patricia Susanna, 56, tak pernah membayangkan dirinya masuk dalam daftar pasien kanker paru. Perempuan yang akrab disapa Susan itu mengaku tak memiliki riwayat merokok maupun gaya hidup berisiko. Namun, vonis dokter datang tanpa aba-aba.

“Seperti petir di siang bolong,” ujarnya.

Kisah Susan mencerminkan perubahan profil pasien kanker paru di Indonesia. Penyakit ini kini semakin banyak ditemukan pada perempuan dan kelompok non-perokok. Stigma lama pun mulai runtuh.

Data terbaru menunjukkan kanker paru menjadi penyebab kematian tertinggi akibat kanker di Indonesia, dengan kontribusi mencapai 14,1 persen. Kondisi tersebut mempertegas bahwa faktor lingkungan, seperti kualitas udara dan paparan asap rokok, turut berperan besar.

Salah Diagnosis dan Hilangnya “Golden Time”

Perjalanan Susan tidak hanya diwarnai perjuangan melawan penyakit, tetapi juga menghadapi rumitnya sistem layanan kesehatan. Ia mengungkapkan, banyak pasien kanker paru yang mengalami salah diagnosis di tahap awal.

Gejala yang mirip dengan tuberkulosis (TBC) membuat pasien kerap menjalani pengobatan TBC berbulan-bulan, bahkan hingga bertahun-tahun. Akibatnya, waktu emas untuk menangani kanker terbuang percuma.

“Kadang dokter enggan melakukan pemeriksaan lanjutan karena administrasi JKN yang rumit,” kata Susan.

Padahal, pemeriksaan seperti PET Scan dan tes genetik sangat menentukan akurasi diagnosis. Sayangnya, akses terhadap teknologi tersebut masih terbatas, terutama bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Harapan pada Terapi Inovatif

Selain diagnosis, persoalan lain yang mengemuka adalah keterbatasan akses terhadap obat kanker terbaru. Susan berharap pemerintah tidak hanya mempertimbangkan harga obat, tetapi juga efektivitas serta dampaknya terhadap kualitas hidup pasien.

Editor: Hendra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore