Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 16 Desember 2023 | 04.04 WIB

Pelajar di Indonesia Keluarkan Rp 200 Ribu untuk Membeli Rokok dalam Seminggu

Ilustrasi berhenti merokok. (Pixabay)

JawaPos.com – Riset yang dilakukan Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) mengungkap angka konsumsi rokok oleh remaja di Indonesia sangat tinggi. Riset ini bermula dari mudahnya rokok di dapat oleh remaja karena murah dan didistribusikan secara eceran dengan harga termurah pada 2019 seribu rupiah.

Riset ini diawali dengan menganalisis data dari Global Youth Tobacco Survey pada 2019 untuk meneliti keterkaitan pembelian rokok eceran dengan frekuensi dan intensitas merokok dan ketergantungan nikotin.

Selanjutnya, dengan 49 remaja usia sekolah sebagai responden dengan metode kualitatif dengan diskusi kelompok terpumpun atau focus group discussion (FGD). Dalam diskusi tersebut dilakukan penggalian pengalaman siswa dalam membeli rokok eceran, dampak pada inisiasi merokok, serta konsumsi saat ini.

CISDI dalam riset yang berjudul ‘Hubungan Pembelian Rokok Eceran dengan Frekuensi Intensitas dan Inisiasi Merokok di kalangan Remaja: Sebuah Studi Metode Campuran di Indonesia’ menghasilkan 70 persen pelajar SMP-SMA yang menjadi responden membeli rokok eceran saat mencoba merokok pertama kalinya dan dalam konsumsi 30 hari terakhir.

“Dengan pola merokok ini, dapat dikatakan konsumsi rokok batangan berhubungan dengan tahap eksperimen pada remaja, sebuah tahapan yang menggiring seseorang menjadi pecandu dan rutin merokok,” kata Chief of Research and Policy CISDI, Olivia Herlinda dalam rilis yang dimuat di cisdi.org, Selasa (12/12).

Para responden melakukan pembelian rokok batangan karena terkait dengan kebiasaan merokok tidak rutin dan merokok tidak lebih dari lima batang per hari.

Godaan membeli rokok terus-menerus terjadi karena dijualnya rokok batangan, promosi yang masif, dan tersedia di sekitar. Seluruh responden mengatakan memperoleh rokok di kios-kios sekitar sekolah dengan harga terendah seribu rupiah.

“Penjualan rokok batangan membuat remaja bisa membeli rokok dengan uang jajan harian. Rokok yang sudah murah menjadi lebih terjangkau lagi karena diecer. Bayangkan betapa besarnya alokasi untuk belanja rokok. Padahal, mereka seharusnya bisa menggunakan dana ini untuk kebutuhan esensial seperti membeli makanan bergizi,” ujar Olivia.

Harga rokok batangan yang murah dan mudah di dapat membuat remaja melakukan pembelian rokok tiap minggunya yang mengeluarkan uang yang berkisar Rp 30 ribu hingga Rp 200 ribu. Nominal ini setara dengan setengah pengeluaran per kapita mingguan rata-rata penduduk Indonesia.

Sebab kemudahan seorang pelajar memperoleh sebatang rokok dikarenakan tidak terdapat aturan pelarangan penjualan secara eceran, lemahnya kepatuhan, dan penegakan hukum tentang pelarangan penjualan kepada seorang di bawah usia 18 tahun. Hal tersebut dibuktikan dengan pengakuan responden yang jarang diminta menunjukkan kartu identitas saat membeli rokok.

Editor: Nicolaus
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore