Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 9 Desember 2023 | 16.05 WIB

Dinkes Jogjakarta Tak Temukan Mycoplasma dari Ratusan Kasus Pneumonia

Ilustrasi pneumonia. - Image

Ilustrasi pneumonia.

JawaPos.com–Dinas Kesehatan Kota Jogjakarta menyebut tidak menemukan adanya infeksi bakteri mycoplasma pneumonia dari ratusan kasus pneumonia pada anak yang muncul di wilayah itu.

Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Dinkes Kota Jogjakarta Lana Unwanah menuturkan, seluruh kasus pneumonia di kota itu merupakan pneumonia biasa dengan kategori ringan hingga sedang. ”Masih sampai dengan kategori sedang sehingga tidak memerlukan rawat inap,” kata Lana seperti dilansir dari Antara.

Sebagian besar kasus pneumonia atau kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada anak di Kota Jogjakarta, menurut dia, rata-rata disebabkan respiratory syncytial virus (RSV), jamur, atau bakteri selain mycoplasma pneumonia. Sejak pekan pertama 2023 hingga pekan ke-47 tercatat sebanyak 156 kasus pneumonia pada anak yang dirawat di RSUD Kota Jogjakarta.

”Berdasar data 18 puskesmas di Kota Jogjakarta tercatat total sebanyak 441 kasus pneumonia pada anak sejak Januari hingga Oktober 2023,” papar Lana Unwanah.

Menurut Lana, jumlah kasus pneumonia tersebut tidak mengalami peningkatan signifikan jika dibandingkan data tahun lalu dan seluruhnya sudah sembuh. Karena masih kategori ringan hingga sedang, cukup ditangani dengan rawat jalan serta pemberian obat-obatan tanpa diperlukan pemeriksaan PCR atau pemeriksaan di laboratorium.

”Kalau tidak menunjukkan gejala yang parah kita tidak sampai pemeriksaan laboratorium yang ke arah sana ya,” terang Lana Unwanah.

Lana mengimbau masyarakat di Kota Jogjakarta tidak perlu panik sembari tetap melakukan upaya pencegahan. Salah satunya dengan memastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap.

Dia menambahkan, dalam program imunisasi lengkap yang dicanangkan pemerintah sudah ada vaksin pentavalen dan PCV yang dinilai mampu mencegah mycoplasma pneumonia.

”Jangan sampai terlewat jadwalnya untuk imunisasi yang sudah sedemikian lengkap pada anak-anak balita. Capaian imunisasi kita belum sampai 100 persen,” kata Lana Unwanah.

Dia berharap tidak ada masyarakat yang menolak imunisasi, serta tidak ada lagi narasi yang menuding adanya bisnis vaksin menghadapi mycoplasma pneumonia.

”Kadang-kadang masyarakat kita kemudian berpikir ini jualan vaksin, wong vaksinnya semuanya gratis kok tidak ada yang berbayar,” ucap Lana Unwanah.

Sebagai upaya pencegahan, Lana juga mengimbau masyarakat membiasakan kembali protokol kesehatan seperti memakai masker serta menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

Kasi Pengendalian Penyakit Menular (P2M) dan Imunisasi Dinkes Kota Jogjakarta Endang Sri Rahayu menyebut, pemantauan kasus ISPA di seluruh fasilitas kesehatan (faskes) di wilayah ini diintensifkan untuk mencegah kasus pneumonia akibat infeksi bakteri mycoplasma pneumoniae. Pemantauan intensif telah dilakukan pada 18 puskesmas yang tersebar di Kota Jogjakarta melalui sistem informasi manajemen puskesmas (Simpus).

Langkah itu menyusul terbitnya surat edaran Kemenkes RI Nomor PM.03.01/C/4632/2023 tentang kewaspadaan terhadap kejadian mycoplasma pneumonia di Indonesia.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore