Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 5 Desember 2023 | 00.49 WIB

Dinkes Jogjakarta Gencarkan Pantau ISPA Cegah Mycoplasma Pneumoniae

Ilustrasi pneumonia. - Image

Ilustrasi pneumonia.

JawaPos.com–Dinas Kesehatan Kota Jogjakarta menggencarkan pemantauan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di seluruh fasilitas kesehatan (faskes). Ini dilakukan untuk mencegah kasus pneumonia akibat infeksi bakteri Mycoplasma pneumoniae.

”Kami sudah sampaikan ke faskes-faskes, kalau ada lonjakan kasus (ISPA) untuk lebih aware atau waspada,” kata Kasi Pengendalian Penyakit Menular (P2M) dan Imunisasi Dinkes Kota Jogjakarta Endang Sri Rahayu seperti dilansir dari Antara di Jogjakarta, Senin (4/12).

Menurut Endang, pemantauan intensif khususnya dilakukan pada 18 puskesmas di Kota Jogjakarta melalui Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (Simpus). ”Kalau untuk rumah sakit kami bikin edaran kewaspadaan,” ujar Endang Sri Rahayu.

Peningkatan pemantauan itu menyusul Surat Edaran Kemenkes Nomor PM.03.01/C/4632/2023 tentang Kewaspadaan Terhadap Kejadian Mycoplasma Pneumonia di Indonesia.

Endang mengakui, kasus ISPA selalu muncul setiap tahun di Kota Jogjakarta. Namun demikian, sebagian besar merupakan ISPA biasa yang disebabkan bakteri Streptococcus dan Staphylococcus.

”Bisa karena kualitas udara. Bisa karena kuman atau bakteri,” tutur Endang Sri Rahayu.

Dia mengatakan, ISPA pada umumnya ditandai dengan demam, batuk, pilek, atau sakit pada tenggorokan, sedangkan pneumonia pada umumnya disertai dengan sesak napas.

”Biasanya hanya menyerang tenggorokan, bronkus. Tapi kalau yang ini (pneumonua) yang diserang paru-paru,” ujar Endang Sri Rahayu.

Berdasar data Dinkes Kota Jogjakarta sejak Januari-Oktober, jumlah kunjungan pemeriksaan balita batuk atau kesukaran bernapas (ISPA) di 18 puskesmas sebanyak 11.323 anak. Dari data kunjungan pemeriksaan tersebut, 445 balita di antaranya tercatat mengalami pneumonia.

Sejak pemantauan kasus ISPA ditingkatkan, Endang memastikan hingga kini belum ada temuan kasus pneumonia yang diakibatkan bakteri Mycoplasma pneumoniae di Kota Jogjakarta. ”Belum dan mudah-mudahan tidak ada,” ujar Endang Sri Rahayu.

Kendati demikian, dia mengimbau masyarakat segera mengunjungi fasilitas layanan kesehatan bila menjumpai atau mengalami gejala ISPA.

”Ketika ada keluhan untuk segera ke faskes jangan sampai lebih parah,” kata Endang.

Dia meminta warga tidak perlu panik seraya menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) seperti cuci tangan memakai sabun, makan makanan bergizi seimbang, serta rajin berolahraga untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Selain itu, masyarakat diimbau melakukan vaksinasi influenza, melengkapi dosis vaksinasi Covid-19, serta vaksinasi penyakit pernapasan lain, seperti PCV.

”Pakai masker kalau keluar rumah. Kalau memang sakit sebaiknya diisolasi beberapa hari di rumah,” tutur Endang.

Sebagai bentuk kesiapsiagaan pemerintah dalam mengantisipasi penularan pneumonia di Indonesia, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menerbitkan Surat Edaran Nomor: PM.03.01/C/4632/2023 tentang Kewaspadaan Terhadap Kejadian Mycoplasma Pneumonia di Indonesia. Dalam surat edaran tersebut, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Maxi Rein Rondonuwu meminta Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) melakukan pemantauan perkembangan kasus dan negara terjangkit di tingkat global serta meningkatkan kewaspadaan dini dengan melakukan pemantauan kasus yang dicurigai pneumonia.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore