Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 2 Desember 2023 | 23.30 WIB

Malas Gerak Jadi Tanda Seseorang Alami Depresi, Simak Kata Dokter Spesialis Kejiwaan

ILUSTRASI: Malas (Pixabay) - Image

ILUSTRASI: Malas (Pixabay)

JawaPos.com – Salah satu gejala dan tanda depresi pada seseorang belum lama ini telah diungkap oleh praktisi Kesehatan Spesialis Kedokteran Jiwa dari Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof dr I.G.N.G Ngoerah, Denpasar, dr Ida Aju Kusuma Wardani.

Mengingat banyaknya kasus depresi yang mengintai masyarakat dewasa ini, dr Ida Aju Kusuma Wardani turut menyebutkan salah satu tanda yang cukup mudah untuk dikenali adalah ketika seseorang mulai malas gerak (mager) dan mengurangi aktivitas. 

"Seperti tidak ada energi, mager (malas gerak), menarik diri dari lingkungan, dan sulit tidur, merupakan beberapa tanda depresi yang perlu dibantu," terang Ida dilansir dari Antara, Sabtu (2/12).

Dr Ida juga menjelaskan bahwa salah satu tahapan yang harus diwaspadai sebelum pada tahap depresi yang lebih berat, yaitu kehilangan minat pada suatu rutinitas tertentu, seperti bekerja atau melakukan hobi, misalnya seperti olahraga. 

Selain itu, gejala lain yang perlu diwaspadai juga, seperti sikap putus asa, perasaan bahwa diri tidak berguna, serta harapan yang terlalu tinggi, tapi tidak sesuai dengan usaha yang dilakukan.

Ketika seseorang berada pada tahap depresi yang lebih berat, umumnya ia akan lebih sensitif dan cenderung merasa bahwa sudah bosan hidup atau tidak tahan dalam menghadapi cobaan kehidupan.

"Dengan hal seperti itu, berarti individu tersebut memiliki kerapuhan dalam kepribadiannya, maka harus dibantu," ujarnya.

Untuk itu lah, Ida mengimbau kepada setiap orang agar mewaspadai dan merangkul kerabat atau famili yang mengalami gejala-gejala demikian, serta mencegah mereka untuk melakukan tindakan bunuh diri.

Percobaan bunuh diri merupakan perbuatan negatif yang hanya berakibat pada dua hal, yaitu merenggut nyawa atau menjadikan seseorang cacat di sisa hidupnya.

Oleh karena itu, Ida menyerukan ajakan kepada setiap orang untuk berkonsultasi kepada ahlinya untuk mencegah dampak yang lebih buruk dari depresi.

"Tidak harus ke spesialis kejiwaan/psikiater, carilah solusi mana yang paling bisa didapatkan, bisa psikolog atau kalau adanya dokter umum juga boleh, yang penting ada bantuan tenaga medis, agar tidak terpuruk, karena dengan sosialisasi dapat menciptakan harapan melalui tindakan," ungkapnya. 

***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore