Serangan Jantung di Usia Muda / Sumber : Freepik
JawaPos.com - Angka kasus penyakit kardiovaskular di Indonesia cukup tinggi. Diantaranya adalah penyakit jantung. Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebutkan, 15 dari 1.000 orang di Indonesia mengalami penyakit jantung. Butuh kemajuan riset di bidang penyakit jantung untuk mengatasinya.
Perkembangan soal penanganan penyakit jantung itu dibahas dalam Simposium Kardiovaskular yang digelar di Jakarta pada Sabtu (18/11). Simposium ini melibatkan puluhan tenaga ahli kardiovaskular dari dalam dan luar negeri. Diantaranya Medical University of Silesia, National Heart Center Singapore, Sarawak General Hospital Heart Centre, Chosun University Hospital, Central Chest Institute of Thailand, Lampang Hospital, dan National University of Singapore.
Dalam simposium itu dikupas bahwa prevalensi penyakit kardiovaskular seperti hipertensi, stroke, jantung koroner, dan gagal jantung di Indonesia cukup tinggi. Yaitu terdeteksi sebanyak 15 dari 1.000 penduduk. Atau sekitar 4.2 juta penduduk yang menderita penyakit kardiovaskular.
Ketua Simposium Kardiologi dan Bedah Kardiovaskular Dr. Dicky Alighery Wartono SpBTKV menyampaikan harapannya, supaya seluruh tenaga medis dapat meningkatkan perawatan penyakit jantung di Indonesia. Selain itu juga perlu peningkatan kapasitas seluruh lapisan pelayanan kesehatan dalam perkembangan teknologi di bidang kardiologi dan kardiovaskular.
"Perawatan kesehatan seputar kardiovaskular semakin berkembang secara global, termasuk Indonesia," katanya. Beberapa diantaranya adalah prosedur cryoablation untuk aritmia, pemasangan Left Ventricular Assist Device (LVAD) untuk gagal jantung. Kemudian ada minimal invasive surgery untuk tindakan Percutaneous Coronary Intervention (PCI) atau kateterisasi jantung dan pembuluh darah.
Pada kesempatan yang sama Managing Director Siloam Hospitals Group Caroline Riady mengatakan, betapa pentingnya peningkatan kualitas pengobatan jantung di Indonesia. Dia kembali menyebutkan bahwa 15 dari 1.000 orang di masyarakat terkena penyakit jantung dan angka tersebut naik setiap tahunnya. Caroline Riady berharap, dengan dobrakan kemajuan penelitian dan kemajuan teknologi. Selain itu, mampu menumbuhkan kolaborasi, berbagi kebijaksanaan, dan memperkaya pengalaman.
"Sehingga dapat meningkatkan kualitas teknologi, kemampuan, dan pembiayaan terkait kardiologi dan kardiovaskular di Indonesia," jelasnya. Melalui sejumlah kegiatan itu, dia berharap kualitas pelayanan kesehatan internasional dapat diakses oleh para dokter, perawat, dan tenaga medis lainnya. Sebagai tambahan wawasan sekaligus mendorong kemajuan layanan kesehatan Indonesia.