
Kelebihan gula bisa mendatangkan penyakit.
JawaPos.com–Gula mendapat reputasi buruk. Namun kenyataannya, gula merupakan sumber energi yang vital dan penting bagi kelangsungan hidup manusia.
Tentu saja tidak semua gula itu sama. Fruktosa yang terdapat pada buah-buahan dan sayur-sayuran serta laktosa pada makanan kaya susu merupakan gula alami.
Dilansir dari everydayhealth.com pada Sabtu (18/11), gula alami tidak perlu dikhawatirkan. Sebab, makanan tersebut juga mengandung serat dan kalsium.
Namun, gula tambahan, yang sering ditemukan dalam makanan olahan, adalah gula yang tidak dapat dikonsumsi. Penting untuk mengenali tanda-tanda bahwa tubuh mengalami kelebihan konsumsi gula.
Konsumsi gula berlebih dapat menyebabkan penuaan dini dan ketidakseimbangan hormon menstruasi pada perempuan. Kerusakan jangka panjang pada protein kulit, kolagen, dan elastin dapat menyebabkan kerutan dan penuaan.
Selain itu, gula dapat memengaruhi flora usus, memicu peradangan, dan berkontribusi pada gangguan hormon perempuan, seperti jerawat pada garis rahang.
Makanan manis cenderung adiktif, merangsang pelepasan dopamin di otak, serupa dengan efek obat-obatan yang membuat ketagihan. Meskipun memberikan perbaikan cepat, ini sering diikuti penurunan energi karena fluktuasi kadar gula darah.
Pankreas melepaskan insulin untuk menanggapi asupan gula, menyebabkan penurunan energi setelah puncak gula, menciptakan siklus ketidakseimbangan energi.
Makanan tinggi gula, terutama yang diproses, dapat menyebabkan masalah pencernaan seperti kembung dan gas. Bakteri usus yang tidak diinginkan menyukai gula. Fermentasi makanan yang belum tercerna dapat menyebabkan produksi gas berlebihan.
Ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan pencernaan, perut kembung, dan rasa sakit.
Gula memainkan peran dalam keseimbangan bakteri usus, yang mendukung 70 persen sistem kekebalan tubuh. Pola makan tinggi gula dapat memberi makan bakteri dan jamur yang merugikan, mengganggu fungsi sistem kekebalan tubuh.
Selain itu, asupan gula yang tinggi dapat mengganggu produksi serotonin dan melatonin, hormon yang berperan dalam regulasi tidur dan suasana hati.
Gula yang tidak digunakan sebagai sumber energi dapat disimpan sebagai lemak, terutama di perut. Diet tinggi gula juga dapat menyebabkan penurunan magnesium, potasium, dan kalsium, yang berkontribusi pada kelelahan dan ketidakseimbangan mineral.
Terlebih lagi, gula dapat meningkatkan risiko penyakit gigi, penyakit jantung, dan diabetes.
Konsumsi gula yang tinggi dapat menyebabkan fluktuasi kadar gula darah, memengaruhi mood dan suasana hati. Sugar crash dapat menyebabkan perubahan tiba-tiba dalam tingkat energi dan dapat berkontribusi pada gejala depresi seiring waktu.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
Pertemuan dengan Suporter, Fariz Julinar Tegaskan PSIS Semarang Siap Bangkit Musim Depan
4 Tempat Makan Siomay Paling Enak di Bandung, Jangan Skip karena Variannya Berlimpah dengan Siraman Bumbu Kacang yang Lezat
