Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 14 November 2023 | 22.00 WIB

Hasil Penelitian Terbaru Oxford, Begini Cara Kerja AI Memprediksi Risiko Serangan Jantung

Seseorang sedang Melakukan Tes Kesehatan Jantung Menggunakan Detector (imeche.org) - Image

Seseorang sedang Melakukan Tes Kesehatan Jantung Menggunakan Detector (imeche.org)

JawaPos.com - Sebuah penelitian baru-baru ini mengungkap bahwa kecerdasan buatan mampu memprediksi resiko seseorang terkena serangan jantung hingga 10 tahun ke depan.

Temuan ini memberikan potensi besar dalam pengembangan metode pencegahan yang lebih dini dan personalisasi intervensi kesehatan untuk mengurangi risiko kardiovaskular jangka panjang.

Teknologi ini, sebagaimana diungkap oleh para peneliti di Universitas Oxford, memiliki potensi untuk menyelamatkan ribuan nyawa dan secara signifikan meningkatkan pendekatan pengobatan bagi hampir separuh pasien.

Temuan ini menandai kemajuan luar biasa dalam upaya penerapan teknologi untuk tujuan kesehatan dan memberikan harapan baru dalam peningkatan efektivitas intervensi medis.

Menurut hasil kutipan JawaPos.com dari theguardian.com, sebuah penelitian yang didanai oleh British Heart Foundation (BHF) telah menyoroti potensi luar biasa teknologi kecerdasan buatan dalam meningkatkan akurasi CT scan jantung.

Melalui peningkatan akurasi ini, CT scan dapat lebih efektif mendeteksi penyumbatan atau penyempitan pada arteri, membuka jalan untuk diagnosis dini dan penanganan yang lebih tepat.

Profesor Charalambos Antoniades, kepala divisi kedokteran kardiovaskular di BHF dan direktur pusat pencitraan dan intervensi multidisiplin akut di Oxford, menyampaikan, "Hasil penelitian kami mengungkapkan bahwa sejumlah pasien yang datang ke rumah sakit dengan keluhan nyeri dada, yang seringkali dianggap ringan dan diperbolehkan pulang, ternyata memiliki risiko tinggi terkena serangan jantung dalam dekade mendatang, meskipun tidak terdapat indikasi penyakit pada arteri jantung mereka."

"Dalam penelitian ini, kami menyoroti bahwa menyediakan informasi risiko yang tepat kepada dokter dapat mengubah pendekatan pengobatan, membuka peluang untuk peningkatan pengobatan bagi banyak pasien dengan masalah jantung,” imbuhnya.

BHF mencatat bahwa meskipun sekitar 350.000 orang menjalani CT scan setiap tahun di Inggris, banyak di antara mereka meninggal karena serangan jantung akibat ketidakmampuan mendeteksi penyempitan kecil yang tidak terdeteksi.

Melalui uji coba pada 3.393 pasien selama hampir delapan tahun, alat kecerdasan buatan ini berhasil membuktikan kemampuannya dalam memprediksi risiko serangan jantung dengan tingkat akurasi yang tinggi.

Hasil dari algoritma AI (Artificial Intelligence) ini, berupa skor risiko, diterapkan pada 744 pasien dan disampaikan kepada petugas medis.

Hasil ini mengakibatkan perubahan pada rencana pengobatan sebanyak 45 persen, menandai kontribusi penting alat AI dalam membimbing keputusan medis yang lebih terarah dan responsif terhadap risiko kesehatan pasien.

Penemuan mereka mengungkap bahwa pasien yang menghasilkan hasil CT scan dengan tanda-tanda penyempitan arteri yang "signifikan" memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami serangan jantung serius.

Meskipun demikian, dua kali lipat lebih banyak pasien yang tidak menunjukkan penyempitan arteri yang signifikan juga mengalami serangan jantung, dan dalam beberapa kasus, berakhir dengan konsekuensi fatal.

Temuan ini menyoroti kompleksitas diagnostik dalam mendeteksi risiko serangan jantung dan menunjukkan bahwa peningkatan akurasi melalui kecerdasan buatan dapat memberikan kontribusi penting dalam pengelolaan risiko kardiovaskular.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore