Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 27 Juni 2023 | 06.22 WIB

Alternatif Rasa Makanan, Apakah MSG Bisa Menggantikan Garam?

SECUKUPNYA: Asupan garam per hari tidak hanya yang ada dalam masakan rumah, tapi juga jajanan plus camilan. (Allex Qomarulla/Jawa Pos) - Image

SECUKUPNYA: Asupan garam per hari tidak hanya yang ada dalam masakan rumah, tapi juga jajanan plus camilan. (Allex Qomarulla/Jawa Pos)

 
JawaPos.com - Beberapa waktu lalu pemerintah Singapura mendorong warganya beralih dari garam biasa ke alternatifnya yang rendah sodium. Dilansir dari Channel News Asia (CNA), warga Singapura mengonsumsi rata-rata 3.600 mg sodium. Padahal, batas harian konsumsi sodium oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah 2.000 mg.
 
Berdasarkan survei kesehatan nasional yang dilakukan di negara tersebut, Singapura pada 2020 mengatakan hal ini menjadi faktor utama munculnya banyak penyakit. Beberapa bahaya penyakit yang mengintai dari penggunaan sodium berlebihan yakni kardiovaskular, stroke, dan lainnya dan berlaku untuk semua kelompok usia, jenis kelamin, dan etnis.
 
Sama dengan Singapura, Indonesia juga menerapkan batas atas konsumsi sodium pada 2.000 mg per hari. Batas ini diatur oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Konsumsi sodium di Indonesia juga semakin meningkat dan tentunya menyebabkan berbagai masalah kesehatan.
 
 
Karena berisiko jika dipakai berlebihan sebagai bumbu masakan, lalu, adakah alternatif lainnya yang aman bagi tubuh? 
 
Garam merah muda Himalaya, garam kosher, atau garam laut disebut-sebut bisa menjadi beberapa alternatif alami yang menjadi pilihan masyarakat karena dugaan manfaat kesehatannya.
 
Namun demikian, garam jenis ini tidak mempunyai perbedaan kandungan nutrisi yang signifikan dibanding garam meja biasa. Padahal, harganya sangat mahal dibandingkan dengan garam pada umumnya.
 
Diketahui bahwa garam merah muda Himalaya mengandung lebih banyak potasium dibandingkan dengan garam meja. Sementara garam kosher mirip dengan garam meja dan tidak mengandung jejak mineral atau yodium.
 
“Keberadaan mineral ini sangat kecil dan tidak menambah banyak nilai gizi. Lebih baik mendapatkan mineral ini dari makanan sehat lainnya untuk manfaat kesehatan yang lebih nyata," Ujar Carolyn Stephen, seorang ahli gizi senior di Singapore Polytechnic's Food Innovation and Resource Centre kepada JawaPos.com melalui keterangan tertulisnya.
 
Apakah MSG bisa menjadi alternatif pengganti garam?
 
Anggapan MSG berbahaya bagi kesehatan dimulai pada 1968-an. Saat itu, seorang dokter AS menulis surat ke jurnal medis berjudul 'Chinese Restaurant Syndrome. Dalam dokumen tersebut, dia menggambarkan gejala seperti mati rasa di belakang leher, kelemahan umum, dan jantung berdebar. 
 
Dia menduga MSG, bersama dengan bahan lain seperti anggur masak dan natrium dalam jumlah tinggi, mungkin menyebabkan gejala ini. Anggapan ini kini mulai luntur dengan adanya penelitian lanjutan yang baru. 
 
MSG atau monosodium glutamat ternyata bisa diproduksi oleh manusia tanpa didapatkan dari makanan. MSG juga ditemukan di berbagai bahan makanan alami seperti tomat, jamur, dan bawang.
 
Menariknya, MSG hanya mengandung sekitar 12 persen natrium dari pada garam biasanya. Walaupun begitu, rasa umami (gurih) dan asin bisa lebih terasa ketika menggunakan MSG dari pada garam. 
 
Penelitian terbaru juga membuktikan bahwa MSG bisa jadi pengganti garam dalam makanan kemasan seperti camilan atau sup. Dengan MSG, kandungan natrium diklaim bisa berkurang hingga 30 persen sampai 50 persen.
 
Lalu, bagaimana cara memastikan makanan enak jika menggunakan lebih sedikit garam atau beralih ke alternatif rendah sodium?
 
Presiden Asosiasi Nutrisi dan Diet Singapura, Dr Kalpana Bhaskaran mengatakan bahwa substitusi garam dengan varian rendah sodium tidak akan terlalu mengorbankan rasa. Bahkan, penelitian terbaru membuktikan orang yang diet asupan sodium akan lebih suka makanan yang rendah garam.
 
Menariknya, hanya dibutuhkan dua hingga tiga minggu untuk menyesuaikan makanan yang rendah garam. Penggunaan bumbu, rempah segar, jeruk, cuka, dan lain-lain bisa digunakan untuk meningkatkan rasa. 
 
Selain itu, bawang merah, bawang putih, jahe, dan rempah-rempah seperti kunyit, merica, dan cabai juga dapat menonjolkan rasa dan aroma sehingga membuat makanan lebih nikmat tanpa perlu tambahan garam.
 
Nah, membaca label nutrisi juga dapat membantu seseorang membuat pilihan yang lebih jelas saat membandingkan produk makanan berdasarkan kandungan natriumnya. Kurangi konsumsi sodium saat makan di luar.
 
Misalnya, mintalah garam atau saus lebih sedikit saat memesan nasi goreng, tumisan sayur, atau jajanan kaki lima lainnya. Hindari menambah garam yang tersedia di atas meja, ya.
Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore