seseorang yang keras kepada dirinya sendiri / foto: Magnific/reewungjunerr
Ketika seorang teman melakukan kesalahan, kamu mungkin berkata, "Tidak apa-apa, semua orang bisa melakukan kesalahan." Ketika orang lain gagal mencapai sesuatu, kamu bisa memberikan semangat dan meyakinkan mereka bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya.
Namun, ketika hal yang sama terjadi pada dirimu sendiri, responsmu justru berbeda. Kamu mulai menyalahkan diri sendiri, mengingat setiap kesalahan, mempertanyakan kemampuanmu, bahkan merasa bahwa dirimu tidak cukup baik.
Kamu mungkin terus memikirkan percakapan yang sebenarnya sudah berlalu, menyesali keputusan kecil, atau merasa bersalah karena tidak mampu memenuhi standar yang kamu tetapkan sendiri.
Fenomena ini cukup umum dalam kehidupan manusia dan menjadi salah satu hal yang menarik untuk dipelajari dalam psikologi. Ada orang-orang yang memiliki empati besar terhadap orang lain, tetapi justru kesulitan memberikan empati yang sama kepada dirinya sendiri.
Mengapa hal ini bisa terjadi?
Mengapa kita terkadang menjadi orang yang paling keras dalam menilai diri sendiri, bahkan ketika tidak ada orang lain yang menuntut kita sebanyak itu?
Dilansir dari Psychology Today pada Senin (2/11), terdapat tujuh alasan psikologis yang dapat menjelaskan mengapa kamu lebih keras terhadap diri sendiri dibandingkan terhadap orang lain.
1. Kamu Memiliki Standar yang Terlalu Tinggi terhadap Diri Sendiri
Salah satu alasan utama seseorang bersikap keras terhadap dirinya sendiri adalah karena memiliki standar pribadi yang sangat tinggi.
Dalam psikologi, kecenderungan ini sering dikaitkan dengan perfectionism atau perfeksionisme. Perfeksionisme merupakan kecenderungan untuk menetapkan standar yang sangat tinggi dan merasa tidak puas ketika hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan harapan.
Orang dengan kecenderungan perfeksionis sering kali memiliki toleransi yang rendah terhadap kesalahan pribadi. Mereka merasa bahwa segala sesuatu harus dilakukan dengan benar, tepat waktu, dan menghasilkan sesuatu yang maksimal.
Menariknya, standar tersebut tidak selalu mereka terapkan kepada orang lain.
Ketika orang lain melakukan kesalahan, mereka memahami bahwa setiap manusia memiliki keterbatasan. Namun, ketika diri sendiri melakukan kesalahan, mereka merasa seharusnya bisa melakukan yang lebih baik.
Pikiran seperti ini dapat muncul dalam berbagai situasi.
Misalnya, ketika rekan kerja melakukan kesalahan dalam menyelesaikan tugas, kamu mungkin menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar. Akan tetapi, ketika kamu melakukan kesalahan serupa, kamu justru merasa tidak kompeten dan mempertanyakan kemampuan profesionalmu.
Masalahnya bukan terletak pada keinginan untuk berkembang. Memiliki standar tinggi sebenarnya bisa menjadi motivasi yang positif. Namun, ketika harga diri sepenuhnya bergantung pada pencapaian, setiap kegagalan dapat terasa seperti bukti bahwa dirimu tidak berharga.
Kamu akhirnya tidak lagi sekadar ingin melakukan sesuatu dengan baik. Kamu merasa harus selalu berhasil agar pantas menghargai diri sendiri.
Padahal, menjadi manusia berarti memiliki keterbatasan. Kamu tidak harus selalu menjadi versi terbaik dari dirimu setiap hari untuk tetap memiliki nilai sebagai manusia.
2. Kamu Terlalu Mengaitkan Harga Diri dengan Pencapaian
Pernahkah kamu merasa sangat berharga ketika berhasil mencapai sesuatu, tetapi tiba-tiba merasa tidak berarti ketika mengalami kegagalan?
Hal ini dapat berkaitan dengan konsep contingent self-worth, yaitu harga diri yang bergantung pada kondisi atau pencapaian tertentu.
Seseorang dengan pola ini cenderung menilai dirinya berdasarkan apa yang berhasil dilakukan, bagaimana orang lain melihatnya, atau seberapa jauh dirinya memenuhi ekspektasi tertentu.
Akibatnya, keberhasilan menjadi sumber utama rasa percaya diri, sedangkan kegagalan dianggap sebagai ancaman terhadap identitas pribadi.
Contohnya, kamu mungkin merasa menjadi orang yang hebat ketika mendapatkan pekerjaan bagus, memperoleh penghasilan tinggi, atau berhasil mencapai target tertentu.
Namun, ketika mengalami penurunan produktivitas, kehilangan pekerjaan, atau gagal mencapai tujuan, kamu mulai mempertanyakan nilai dirimu sendiri.
Kamu tidak sekadar berpikir bahwa sesuatu yang kamu lakukan gagal. Kamu justru merasa bahwa dirimu adalah seorang pecundang.
Di sinilah perbedaan penting antara menilai tindakan dan menilai identitas.
Orang yang memiliki hubungan sehat dengan dirinya sendiri mampu mengatakan, "Aku melakukan kesalahan," tanpa harus menyimpulkan, "Aku adalah orang yang gagal."
Sebaliknya, orang yang terlalu mengaitkan harga dirinya dengan pencapaian sering kali sulit memisahkan kedua hal tersebut.
Mereka merasa harus terus membuktikan sesuatu agar layak mendapatkan penghargaan, penerimaan, dan kebahagiaan.
Padahal, nilai dirimu tidak hanya ditentukan oleh produktivitas, jabatan, uang, prestasi, atau keberhasilan yang berhasil kamu kumpulkan.
Kamu tetap berharga bahkan ketika sedang tidak menghasilkan apa-apa.
3. Kamu Terbiasa Mengkritik Diri Sendiri sebagai Cara untuk Memotivasi
Ada orang yang percaya bahwa bersikap keras terhadap diri sendiri adalah satu-satunya cara agar mereka tidak menjadi malas, ceroboh, atau mudah menyerah.
Mereka merasa bahwa jika terlalu memaklumi kesalahan sendiri, mereka akan kehilangan motivasi untuk berkembang.
Akibatnya, mereka menggunakan kritik internal sebagai alat untuk mendorong diri sendiri.
Misalnya, ketika gagal mencapai target, mereka mengatakan:
"Aku memang tidak disiplin."
"Seharusnya aku bisa melakukan lebih baik."
"Kalau aku terus seperti ini, masa depanku tidak akan jelas."
Mereka menganggap kalimat-kalimat tersebut sebagai bentuk kedisiplinan. Padahal, kritik yang berlebihan justru dapat menciptakan tekanan psikologis yang tidak sehat.
Dalam psikologi, hal ini berkaitan dengan konsep self-criticism, yaitu kecenderungan untuk menilai, menyalahkan, dan menyerang diri sendiri ketika merasa tidak memenuhi standar pribadi.
Penelitian psikologi menunjukkan bahwa kritik terhadap diri sendiri yang berlebihan berkaitan dengan berbagai kesulitan emosional, termasuk kecemasan dan gejala depresi.
Bukan berarti setiap bentuk evaluasi diri itu buruk. Kemampuan mengakui kesalahan justru penting untuk perkembangan pribadi.
Namun, ada perbedaan antara mengevaluasi diri dan merendahkan diri.
Evaluasi diri membantu kamu memahami apa yang perlu diperbaiki. Sebaliknya, kritik yang destruktif membuat kamu terus merasa tidak cukup baik tanpa memberikan jalan keluar yang jelas.
Kamu tidak harus membenci diri sendiri agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik.
Terkadang, motivasi yang paling sehat justru muncul ketika kamu merasa aman untuk belajar dari kesalahan tanpa harus menghukum diri sendiri.
4. Pengalaman Masa Lalu Membentuk Cara Kamu Memperlakukan Diri Sendiri
Cara seseorang berbicara kepada dirinya sendiri tidak selalu terbentuk begitu saja. Dalam banyak kasus, pola tersebut dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, terutama pengalaman ketika tumbuh dan belajar memahami penerimaan dari orang-orang di sekitarnya.
Misalnya, seseorang yang sejak kecil sering mendapatkan kritik, dibanding-bandingkan, atau hanya memperoleh penghargaan ketika berhasil mungkin tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya harus selalu sempurna agar diterima.
Ia bisa saja terbiasa mendengar kalimat seperti:
"Kenapa kamu tidak bisa seperti orang lain?"
"Kamu seharusnya bisa mendapatkan hasil yang lebih bagus."
"Jangan sampai membuat kesalahan."
Ketika pengalaman seperti ini berlangsung berulang kali, seseorang dapat menginternalisasi pesan-pesan tersebut.
Artinya, suara kritik yang awalnya datang dari luar perlahan berubah menjadi suara di dalam pikirannya sendiri.
Saat dewasa, bahkan ketika tidak ada orang yang mengkritiknya, ia tetap merasa harus mengawasi dan menghakimi dirinya sendiri.
Dalam psikologi, fenomena ini dapat dipahami melalui konsep internalized criticism dan pembentukan pola kepercayaan tentang diri sendiri.
Seseorang mungkin tidak lagi berada di lingkungan yang penuh tuntutan, tetapi cara berpikirnya masih dipengaruhi oleh pengalaman sebelumnya.
Ia merasa harus selalu bekerja keras, tidak boleh mengecewakan siapa pun, dan tidak memiliki ruang untuk melakukan kesalahan.
Namun, penting untuk memahami bahwa masa lalu tidak harus menentukan bagaimana kamu memperlakukan diri sendiri hari ini.
Kamu boleh mulai membangun cara pandang yang lebih sehat. Kamu tidak harus terus menggunakan standar lama untuk menilai kehidupanmu sekarang.
Kamu berhak belajar bahwa menerima diri sendiri bukan berarti berhenti berkembang.
5. Kamu Lebih Mudah Memahami Orang Lain daripada Memahami Diri Sendiri
Mengapa kita bisa begitu pengertian terhadap orang lain, tetapi begitu kejam terhadap diri sendiri?
Salah satu penjelasannya adalah karena kita sering memiliki jarak emosional yang berbeda ketika melihat masalah orang lain dan masalah pribadi.
Ketika seorang teman mengalami kegagalan, kita dapat melihat situasinya dengan lebih luas.
Kita mempertimbangkan kondisi yang sedang dihadapinya, tekanan yang dialaminya, keterbatasan yang dimilikinya, serta berbagai faktor yang mungkin memengaruhi hasil akhirnya.
Kita memahami bahwa kegagalan tidak selalu terjadi karena seseorang kurang berusaha.
Namun, ketika mengalami kegagalan sendiri, perhatian kita sering kali hanya tertuju pada kekurangan pribadi.
Kita lebih mudah mengingat hal-hal yang seharusnya dilakukan, keputusan yang seharusnya diambil, dan kesempatan yang seharusnya tidak dilewatkan.
Dalam psikologi sosial, perbedaan cara menjelaskan perilaku diri sendiri dan orang lain dapat dikaitkan dengan actor-observer bias, meskipun konsep ini tidak menjelaskan seluruh fenomena kritik diri.
Selain itu, ketika menghadapi masalah pribadi, emosi yang terlibat dapat membuat penilaian menjadi lebih berat sebelah.
Kamu mungkin mengetahui semua kesalahan dan kekuranganmu, tetapi tidak selalu mengetahui seluruh perjuangan dan alasan di balik tindakanmu sendiri.
Sebaliknya, ketika melihat orang lain, kamu cenderung memberikan ruang bagi mereka untuk memiliki alasan dan keterbatasan.
Cobalah membalikkan cara pandang tersebut.
Jika sahabatmu melakukan kesalahan yang sama, apakah kamu akan menyebutnya bodoh? Apakah kamu akan mengatakan bahwa hidupnya sudah gagal hanya karena satu keputusan buruk?
Kemungkinan besar tidak.
Lalu, mengapa kamu merasa pantas mendapatkan perlakuan yang jauh lebih keras?
Kamu juga manusia yang sedang belajar, menghadapi tekanan, dan berusaha menjalani kehidupan dengan kemampuan yang kamu miliki saat ini.
6. Kamu Takut Mengecewakan Orang Lain dan Merasa Harus Selalu Memenuhi Ekspektasi
Sebagian orang bersikap sangat keras terhadap diri sendiri karena memiliki ketakutan yang besar terhadap penolakan, kekecewaan, atau penilaian negatif dari orang lain.
Mereka merasa harus menjadi pribadi yang bisa diandalkan, tidak boleh merepotkan siapa pun, dan harus mampu memenuhi harapan lingkungan.
Dalam psikologi, kecenderungan ini dapat berkaitan dengan socially prescribed perfectionism, yaitu persepsi bahwa orang lain memiliki standar yang sangat tinggi terhadap diri kita dan kita harus memenuhinya agar diterima.
Orang dengan kecenderungan ini sering kali merasa bahwa kesalahan pribadi bukan sekadar masalah individu, melainkan sesuatu yang dapat mengecewakan banyak orang.
Misalnya, ketika tidak mampu memenuhi permintaan teman, kamu mungkin merasa bersalah selama berhari-hari.
Ketika hasil pekerjaan tidak sesuai harapan atasan, kamu terus memikirkannya bahkan setelah jam kerja selesai.
Ketika seseorang terlihat kecewa terhadapmu, kamu langsung menyimpulkan bahwa kamu telah melakukan sesuatu yang salah.
Akhirnya, kamu terbiasa menempatkan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan diri sendiri.
Kamu memberikan toleransi kepada orang lain, tetapi tidak memberikan toleransi yang sama kepada dirimu.
Kamu merasa harus selalu tersedia, selalu membantu, selalu memahami, dan selalu melakukan yang terbaik.
Masalahnya, kebutuhan untuk diterima oleh semua orang adalah sesuatu yang mustahil dipenuhi sepenuhnya.
Akan selalu ada orang yang memiliki harapan berbeda, standar berbeda, dan penilaian berbeda terhadap dirimu.
Kamu tidak bisa mengendalikan semua hal tersebut.
Yang bisa kamu pelajari adalah membedakan tanggung jawab dengan tuntutan yang tidak realistis.
Bertanggung jawab berarti berusaha melakukan yang terbaik dan bersedia memperbaiki kesalahan. Namun, bertanggung jawab bukan berarti harus mengorbankan kesehatan emosional demi membuat semua orang puas.
7. Kamu Belum Terbiasa Mempraktikkan Self-Compassion
Alasan terakhir yang tidak kalah penting adalah kamu mungkin belum terbiasa memperlakukan diri sendiri dengan penuh kasih sayang ketika menghadapi kegagalan.
Dalam psikologi, konsep ini dikenal sebagai self-compassion, yang banyak dikembangkan dan diteliti oleh psikolog Kristin Neff.
Self-compassion adalah kemampuan untuk memperlakukan diri sendiri dengan kebaikan, pemahaman, dan penerimaan ketika sedang menghadapi kesulitan, melakukan kesalahan, atau mengalami kegagalan.
Menurut kerangka Kristin Neff, self-compassion memiliki tiga komponen utama.
Pertama, self-kindness atau kebaikan terhadap diri sendiri.
Artinya, kamu belajar memperlakukan diri dengan pengertian, bukan terus-menerus menghakimi diri sendiri.
Ketika melakukan kesalahan, kamu mencoba memahami situasi dan mencari cara untuk memperbaikinya daripada menghukum diri sendiri.
Kedua, common humanity atau kemanusiaan bersama.
Artinya, kamu menyadari bahwa penderitaan, kegagalan, dan ketidaksempurnaan merupakan bagian dari pengalaman manusia.
Kamu bukan satu-satunya orang yang pernah merasa tertinggal, membuat keputusan buruk, kehilangan kesempatan, atau mengalami masa sulit.
Ketiga, mindfulness atau kesadaran penuh.
Artinya, kamu belajar menyadari emosi dan pikiran negatif tanpa terlalu larut di dalamnya.
Kamu tidak harus menyangkal kesedihan atau berpura-pura baik-baik saja. Namun, kamu juga tidak perlu membiarkan satu pengalaman buruk menentukan seluruh pandanganmu tentang diri sendiri.
Ketiga komponen ini membantu seseorang membangun hubungan yang lebih sehat dengan dirinya.
Self-compassion bukan berarti memanjakan diri, menghindari tanggung jawab, atau membenarkan semua kesalahan.
Sebaliknya, kamu tetap bisa mengakui kesalahan, memperbaiki perilaku, dan menetapkan tujuan yang lebih baik tanpa harus merendahkan harga dirimu.
Kamu bisa menjadi pribadi yang disiplin sekaligus penuh pengertian terhadap diri sendiri.
Dan keduanya tidak harus saling bertentangan.
Bagaimana Cara Berhenti Terlalu Keras terhadap Diri Sendiri?
Setelah memahami berbagai alasan psikologis di atas, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana cara mengubah kebiasaan tersebut?
Prosesnya tentu tidak terjadi dalam semalam. Cara kamu memperlakukan diri sendiri mungkin sudah terbentuk selama bertahun-tahun sehingga membutuhkan waktu untuk membangun pola yang lebih sehat.
Namun, beberapa langkah sederhana berikut dapat mulai kamu praktikkan.
1. Ubah cara berbicara kepada diri sendiri.
Perhatikan kalimat yang muncul dalam pikiran ketika kamu melakukan kesalahan.
Daripada mengatakan, "Aku memang tidak pernah bisa melakukan sesuatu dengan benar," cobalah menggantinya dengan, "Kali ini aku melakukan kesalahan, tetapi aku masih bisa belajar dan memperbaikinya."
Perubahan kecil dalam dialog internal dapat membantu mengurangi kebiasaan menghakimi diri sendiri.
2. Pisahkan kegagalan dari identitas pribadi.
Gagal dalam pekerjaan tidak berarti kamu adalah orang yang gagal. Membuat keputusan buruk tidak berarti kamu selalu membuat keputusan buruk.
Ingatlah bahwa sebuah pengalaman tidak dapat mendefinisikan seluruh identitasmu.
3. Berikan ruang untuk menjadi manusia biasa.
Kamu tidak harus selalu produktif, selalu kuat, atau selalu tahu apa yang harus dilakukan.
Ada hari-hari ketika kamu merasa lelah, kehilangan motivasi, dan membutuhkan waktu untuk beristirahat.
Hal tersebut tidak membuatmu menjadi manusia yang kurang berharga.
4. Berhenti membandingkan proses hidupmu dengan orang lain.
Setiap orang memiliki latar belakang, kesempatan, kemampuan, dan tantangan yang berbeda.
Kamu tidak harus mencapai sesuatu pada waktu yang sama dengan orang lain.
Fokuslah pada perkembangan yang bisa kamu lakukan berdasarkan kondisi dan kemampuanmu sendiri.
5. Belajar memaafkan diri sendiri.
Memaafkan diri sendiri bukan berarti melupakan kesalahan atau menghindari konsekuensinya.
Artinya, kamu bersedia menerima bahwa sesuatu telah terjadi, mengambil pelajaran darinya, dan berhenti menghukum diri sendiri secara terus-menerus.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
Profil Herri Pras yang Kritik UAS dan UAH, Pendiri PSGI yang Ditantang Duel Atlet MMA
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Herri Pras Beberkan Kronologi Digerebek Petarung MMA: Ditendang dan Didengkul Ulu Hati
Marco Bezzecchi Tuai Kritik Usai Kesalahan di Sepang Memperburuk Peluang Juara Dunia
Kembali Lakukan Mutasi, Kapolri Suyudi Ganti 264 Pati dan Pamen Polri
Prediksi Susunan Pemain Atletico Madrid vs Bayern Munchen: Alex Baena Ingin Tim Tamu Kesulitan
Prediksi Galatasaray vs Stuttgart: Tuan Rumah Punya Modal Bagus,tetapi Tim Tamu Siap Beri Perlawanan
Prediksi Skor Jeonbuk Motors vs Johor Darul Takzim FC, Duel Ketat di AFC Champions League Elite
Usai Digeruduk Rombongan Petarung MMA, Herri Pras Sempat Dievakuasi di Polsek Gunung Putri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022