Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 2 November 2026 | 21.26 WIB

8 Alasan Mengapa Begitu Banyak Orang Dewasa yang Tidak Bisa Mandiri

seseorang yang kurang mandiri / foto: Magnific/jcomp

 

JawaPos.com - Menjadi dewasa tidak selalu berarti seseorang sudah mampu menjalani kehidupan secara mandiri. Ada banyak orang yang secara usia sudah memasuki masa dewasa, tetapi masih kesulitan mengambil keputusan sendiri, mengelola keuangan, bertanggung jawab atas kehidupannya, menghadapi masalah, bahkan menentukan arah masa depannya.

Sebagian orang dewasa muda masih sangat bergantung kepada orang tua. Mereka membutuhkan bantuan untuk menyelesaikan persoalan sederhana, takut mengambil risiko, sulit mempertahankan pekerjaan, tidak mampu mengatur pengeluaran, atau selalu membutuhkan orang lain untuk memberikan arahan.

Fenomena ini sering kali menimbulkan pertanyaan: mengapa seseorang yang sudah berusia 20-an atau bahkan 30-an masih belum mampu hidup mandiri?

Apakah mereka malas? Apakah orang tua terlalu memanjakan mereka? Apakah generasi sekarang memang lebih sulit menghadapi kehidupan dibandingkan generasi sebelumnya?

Menurut psikologi, ketidakmandirian pada orang dewasa muda tidak bisa dijelaskan hanya dengan satu faktor. Ada banyak aspek yang saling berhubungan, mulai dari pola asuh keluarga, perkembangan emosional, pengalaman masa kecil, kepercayaan diri, kemampuan mengambil keputusan, hingga tekanan sosial dan ekonomi.

Kemandirian bukan sekadar kemampuan tinggal sendiri atau menghasilkan uang. Kemandirian juga mencakup kemampuan mengatur emosi, bertanggung jawab atas pilihan, menyelesaikan masalah, menetapkan batasan, serta menjalani kehidupan tanpa selalu membutuhkan persetujuan orang lain.

Dalam psikologi perkembangan, masa dewasa muda merupakan periode penting ketika seseorang mulai membangun identitas, hubungan sosial, karier, dan tanggung jawab pribadi. Namun, proses tersebut tidak selalu berjalan dengan mudah.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (2/11), terdapat delapan alasan mengapa begitu banyak orang dewasa muda kesulitan menjadi mandiri dan bagaimana cara membantu mereka berdasarkan perspektif psikologi.

1. Terlalu Dilindungi oleh Orang Tua Sejak Kecil

Salah satu penyebab seseorang sulit mandiri ketika dewasa adalah pola asuh yang terlalu melindungi.

Orang tua tentu menginginkan anaknya aman, bahagia, dan terhindar dari kesulitan. Namun, ketika perlindungan diberikan secara berlebihan, anak bisa kehilangan kesempatan untuk belajar menghadapi kehidupan.

Misalnya, sejak kecil seorang anak selalu dibantu ketika mengalami masalah. Orang tua mengerjakan tugasnya, menentukan pilihan untuknya, menyelesaikan konflik dengan teman-temannya, bahkan mengambil keputusan yang sebenarnya sudah bisa dilakukan sendiri oleh anak.

Ketika tumbuh dewasa, anak tersebut mungkin tidak terbiasa menghadapi konsekuensi dari tindakannya.

Ia bisa merasa bingung ketika harus menentukan pilihan, takut melakukan kesalahan, atau selalu mencari seseorang yang bisa menyelesaikan masalahnya.

Dalam psikologi, pola asuh seperti ini sering dikaitkan dengan overprotective parenting atau pola asuh yang terlalu protektif.

Anak yang terlalu sering dilindungi bisa kehilangan kesempatan mengembangkan kemampuan memecahkan masalah, toleransi terhadap frustrasi, dan rasa percaya diri.

Mengapa hal ini membuat seseorang sulit mandiri?

Kemandirian berkembang melalui pengalaman. Seseorang perlu mengalami kesulitan, mencoba berbagai solusi, melakukan kesalahan, dan belajar memperbaikinya.

Jika setiap kesulitan selalu diselesaikan oleh orang tua, anak tidak memiliki cukup kesempatan untuk membangun kemampuan tersebut.

Akibatnya, ketika memasuki usia dewasa, ia mungkin merasa tidak mampu menghadapi persoalan tanpa bantuan orang lain.

Bagaimana cara membantu mereka?

Orang tua perlu mulai mengurangi perlindungan yang tidak lagi diperlukan.

Berikan kesempatan kepada anak untuk mengambil keputusan sendiri.

Jangan selalu menyelesaikan masalah yang sebenarnya mampu ia hadapi.

Biarkan anak mengalami konsekuensi yang wajar dari pilihannya.

Ajarkan keterampilan praktis seperti memasak, mengatur uang, dan mengurus kebutuhan pribadi.

Berikan dukungan tanpa mengambil alih tanggung jawabnya.

Penting untuk dipahami bahwa membiarkan anak belajar bukan berarti orang tua tidak peduli. Justru memberikan kesempatan untuk mencoba merupakan salah satu bentuk kasih sayang yang membantu anak tumbuh dewasa.

2. Kurangnya Kepercayaan Diri dan Takut Mengalami Kegagalan

Banyak orang dewasa muda sebenarnya memiliki kemampuan untuk hidup mandiri, tetapi mereka tidak percaya bahwa dirinya mampu.

Mereka takut mengambil keputusan karena khawatir melakukan kesalahan. Mereka takut melamar pekerjaan karena merasa tidak cukup kompeten. Mereka juga takut memulai sesuatu karena membayangkan berbagai kemungkinan buruk.

Ketakutan tersebut membuat mereka lebih nyaman berada dalam situasi yang sudah dikenal, meskipun situasi itu membuat mereka bergantung kepada orang lain.

Dalam psikologi, kondisi ini dapat berkaitan dengan rendahnya self-efficacy, yaitu keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk menyelesaikan tugas atau mencapai tujuan tertentu.

Konsep ini banyak dikembangkan oleh psikolog Albert Bandura.

Menurut teori self-efficacy, keyakinan terhadap kemampuan diri memengaruhi bagaimana seseorang menghadapi tantangan, menentukan tujuan, dan bertahan ketika mengalami kesulitan.

Orang dengan self-efficacy rendah cenderung lebih mudah menyerah, menghindari tantangan, dan menganggap kegagalan sebagai bukti bahwa dirinya tidak mampu.

Sebaliknya, orang yang memiliki keyakinan terhadap kemampuannya lebih cenderung melihat kesulitan sebagai sesuatu yang bisa dipelajari dan diatasi.

Bagaimana cara membantu mereka?

Cara terbaik bukan sekadar mengatakan, "Kamu pasti bisa."

Mereka membutuhkan pengalaman nyata yang membuktikan bahwa dirinya mampu.

Beberapa langkah yang bisa dilakukan:

Mulailah dengan tanggung jawab kecil yang dapat diselesaikan.

Berikan apresiasi terhadap usaha, bukan hanya hasil akhir.

Bantu mereka melihat kegagalan sebagai bagian dari proses belajar.

Hindari membandingkan kemampuan mereka dengan orang lain.

Dorong mereka mencoba hal baru secara bertahap.

Misalnya, seseorang yang belum pernah mengelola keuangan sendiri dapat mulai dengan mengatur anggaran mingguan. Setelah berhasil, ia bisa mencoba mengelola anggaran bulanan.

Keberhasilan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat memperkuat keyakinan terhadap kemampuan diri.

3. Terbiasa Mengandalkan Orang Lain untuk Mengambil Keputusan

Sebagian orang dewasa muda merasa kesulitan menentukan apa yang sebenarnya mereka inginkan.

Mereka selalu bertanya kepada orang tua, pasangan, teman, atau orang lain sebelum mengambil keputusan.

Bahkan untuk hal-hal sederhana, seperti memilih pekerjaan, menentukan tempat tinggal, membeli sesuatu, atau merencanakan masa depan, mereka membutuhkan persetujuan orang lain.

Masalahnya bukan terletak pada kebiasaan meminta pendapat. Meminta saran merupakan perilaku yang sehat.

Persoalan muncul ketika seseorang tidak mampu mengambil keputusan tanpa mendapatkan persetujuan dari orang lain.

Dalam psikologi, kondisi ini dapat berkaitan dengan rendahnya otonomi atau kemampuan mengarahkan kehidupan berdasarkan nilai dan pertimbangan pribadi.

Self-Determination Theory yang dikembangkan oleh Edward Deci dan Richard Ryan menjelaskan bahwa otonomi merupakan salah satu kebutuhan psikologis dasar manusia, bersama kompetensi dan keterhubungan sosial.

Otonomi berarti seseorang merasa memiliki kendali dan pilihan dalam menjalani kehidupannya.

Ketika seseorang terus-menerus membiarkan orang lain menentukan kehidupannya, ia bisa kesulitan mengenali keinginan, nilai, dan prioritas pribadinya.

Bagaimana cara membantu mereka?

Latih kemampuan mengambil keputusan secara bertahap.

Minta mereka menentukan pilihan sederhana tanpa terlalu banyak campur tangan.

Dorong mereka mempertimbangkan keuntungan dan risiko dari setiap pilihan.

Jangan selalu memberikan jawaban ketika mereka meminta solusi.

Tanyakan, "Menurutmu, pilihan mana yang paling sesuai dengan kebutuhanmu?"

Ajarkan bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi yang perlu dipertanggungjawabkan.

Orang tua dan orang terdekat juga perlu belajar menghormati keputusan orang dewasa muda selama keputusan tersebut tidak membahayakan dirinya atau orang lain.

Tujuannya bukan membuat seseorang berhenti meminta nasihat, melainkan membantunya memiliki kemampuan berpikir dan menentukan pilihan sendiri.

4. Tidak Terbiasa Menghadapi Kesulitan dan Ketidaknyamanan

Kehidupan mandiri tidak selalu menyenangkan.

Ada saat ketika seseorang harus bekerja meskipun sedang tidak bersemangat, menghemat uang meskipun ingin berbelanja, menyelesaikan konflik meskipun merasa tidak nyaman, dan tetap bertanggung jawab meskipun menghadapi tekanan.

Namun, sebagian orang dewasa muda memiliki toleransi yang rendah terhadap ketidaknyamanan.

Ketika menghadapi kesulitan, mereka cenderung menghindar, menunda, menyerah, atau mencari orang lain untuk menyelesaikan masalahnya.

Misalnya, seseorang berhenti dari pekerjaan setiap kali mendapatkan kritik. Ada pula yang menghindari percakapan sulit dengan pasangan atau keluarga karena tidak mampu menghadapi ketegangan emosional.

Dalam psikologi, kemampuan menghadapi tekanan dan mengelola respons terhadap kesulitan berkaitan dengan distress tolerance atau toleransi terhadap tekanan emosional.

Seseorang dengan toleransi tekanan yang rendah bisa merasa sangat kewalahan ketika menghadapi situasi yang sebenarnya masih dapat dikelola.

Hal ini juga dapat berhubungan dengan rendahnya kemampuan regulasi emosi.

Bagaimana cara membantu mereka?

Mereka perlu belajar bahwa tidak semua ketidaknyamanan harus segera dihindari.

Beberapa cara yang bisa diterapkan:

Biasakan menyelesaikan tugas meskipun sedang tidak memiliki motivasi.

Ajarkan teknik mengelola stres, seperti pernapasan dan mengenali emosi.

Dorong mereka menghadapi masalah secara bertahap.

Hindari selalu menyelamatkan mereka dari konsekuensi yang wajar.

Bantu mereka membedakan antara situasi yang benar-benar berbahaya dan situasi yang sekadar tidak menyenangkan.

Sebagai contoh, seseorang yang takut menghadapi wawancara kerja bisa mulai dengan berlatih menjawab pertanyaan di rumah, kemudian melakukan simulasi wawancara, sebelum akhirnya mengikuti wawancara sebenarnya.

Proses bertahap seperti ini dapat membantu meningkatkan toleransi terhadap tekanan.

5. Pola Asuh yang Membuat Anak Takut Melakukan Kesalahan

Ada orang tua yang menginginkan anaknya selalu mendapatkan nilai bagus, memiliki pekerjaan bergengsi, membuat keputusan yang benar, dan tidak pernah mengecewakan keluarga.

Sekilas, tuntutan tersebut terlihat sebagai bentuk perhatian terhadap masa depan anak.

Namun, jika disertai kritik berlebihan, hukuman yang tidak proporsional, atau kurangnya penerimaan terhadap kesalahan, anak bisa tumbuh dengan ketakutan yang besar terhadap kegagalan.

Anak mungkin belajar bahwa dirinya hanya dihargai ketika berhasil.

Akibatnya, ketika dewasa, ia cenderung menghindari tantangan yang berpotensi membuatnya gagal.

Ia mungkin menunggu sampai merasa benar-benar siap sebelum mencoba sesuatu. Sayangnya, kondisi siap sempurna sering kali tidak pernah datang.

Dalam psikologi, pola ini dapat berkaitan dengan perfeksionisme maladaptif, yaitu kecenderungan menetapkan standar yang sangat tinggi disertai kekhawatiran berlebihan terhadap kesalahan dan penilaian orang lain.

Perfeksionisme semacam ini dapat menghambat perkembangan karena seseorang lebih sibuk menghindari kesalahan daripada mengambil tindakan.

Bagaimana cara membantu mereka?

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengubah cara memandang kesalahan.

Berikan pemahaman bahwa kesalahan tidak menentukan harga diri seseorang.

Hargai proses belajar, bukan hanya prestasi.

Hindari mempermalukan seseorang ketika gagal.

Ajarkan cara mengevaluasi kesalahan tanpa menyalahkan diri sendiri.

Dorong mereka mengambil langkah meskipun hasilnya belum sempurna.

Seseorang tidak harus memiliki semua jawaban sebelum mulai menjalani kehidupannya.

Justru banyak keterampilan hidup berkembang ketika seseorang berani mencoba, mengevaluasi hasil, dan memperbaiki tindakannya.

6. Terlalu Bergantung secara Emosional kepada Keluarga atau Pasangan

Kemandirian bukan hanya persoalan uang dan pekerjaan. Kemandirian juga berkaitan dengan kemampuan mengelola kebutuhan emosional.

Sebagian orang dewasa muda merasa tidak mampu menjalani kehidupan tanpa kehadiran orang tertentu.

Mereka membutuhkan perhatian terus-menerus, sulit merasa tenang ketika tidak mendapatkan respons, takut ditinggalkan, dan selalu membutuhkan validasi dari orang lain.

Dalam hubungan keluarga, seseorang mungkin tidak berani berbeda pendapat dengan orang tua karena takut kehilangan kasih sayang.

Dalam hubungan romantis, seseorang mungkin tidak mampu membuat keputusan sendiri karena terlalu takut pasangannya marah atau meninggalkannya.

Psikologi mengenal konsep attachment theory atau teori kelekatan yang dikembangkan oleh John Bowlby dan kemudian diperluas melalui penelitian Mary Ainsworth.

Teori ini menjelaskan bagaimana pengalaman hubungan awal dengan pengasuh dapat memengaruhi pola seseorang membangun hubungan ketika dewasa.

Pengalaman kelekatan yang tidak aman dapat berkaitan dengan kesulitan mempercayai orang lain, ketakutan terhadap penolakan, atau kebutuhan akan kepastian yang berlebihan.

Namun, pola kelekatan bukanlah takdir. Pola tersebut dapat berubah melalui pengalaman hubungan yang lebih sehat dan proses pengembangan diri.

Bagaimana cara membantu mereka?

Dorong mereka membangun identitas di luar hubungan keluarga atau pasangan.

Bantu mereka mengenali kebutuhan emosional sendiri.

Ajarkan komunikasi yang sehat dan kemampuan menetapkan batasan.

Berikan ruang untuk melakukan aktivitas secara mandiri.

Bangun hubungan yang mendukung tanpa menciptakan ketergantungan.

Penting untuk memahami bahwa menjadi mandiri bukan berarti tidak membutuhkan siapa pun.

Manusia tetap membutuhkan hubungan sosial, kasih sayang, dan dukungan. Kemandirian yang sehat adalah kemampuan untuk tetap menjalani kehidupan pribadi tanpa kehilangan diri sendiri ketika berada dalam hubungan dengan orang lain.

7. Tidak Memiliki Keterampilan Hidup dan Pengelolaan Keuangan

Ada orang dewasa muda yang sebenarnya memiliki keinginan kuat untuk mandiri, tetapi tidak memiliki keterampilan praktis yang diperlukan.

Mereka tidak terbiasa memasak, membersihkan rumah, mengatur pengeluaran, membayar tagihan, mengurus administrasi, atau merencanakan kebutuhan sehari-hari.

Akibatnya, mereka tetap bergantung kepada orang tua meskipun sudah memiliki penghasilan sendiri.

Sebagai contoh, seseorang mungkin bekerja dan mendapatkan gaji setiap bulan, tetapi seluruh uangnya habis untuk kebutuhan konsumtif.

Ia tidak memiliki tabungan, tidak memahami prioritas keuangan, dan kesulitan mengantisipasi pengeluaran mendadak.

Ada pula yang tidak mampu mengurus kebutuhan rumah tangga sederhana karena sejak kecil semua pekerjaan tersebut selalu dilakukan oleh orang lain.

Dalam psikologi, kemampuan mengelola tugas-tugas kehidupan sehari-hari berkaitan dengan keterampilan adaptif dan fungsi eksekutif.

Fungsi eksekutif mencakup kemampuan merencanakan, mengatur prioritas, mengendalikan impuls, mengingat informasi penting, dan menyelesaikan tugas.

Kemampuan tersebut sangat penting untuk menjalani kehidupan mandiri.

Bagaimana cara membantu mereka?

Keterampilan hidup perlu diajarkan secara langsung, bukan hanya diperintahkan.

Beberapa keterampilan yang penting dipelajari antara lain:

Mengatur anggaran dan mencatat pengeluaran.

Memasak makanan sederhana.

Menjaga kebersihan tempat tinggal.

Mengurus dokumen dan administrasi pribadi.

Membuat jadwal kegiatan.

Menabung untuk kebutuhan jangka panjang.

Menyelesaikan kewajiban tepat waktu.

Mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan, bukan sekadar keinginan.

Orang tua dapat mulai memberikan tanggung jawab yang nyata, seperti meminta anak mengatur sebagian kebutuhan rumah tangga atau membayar tagihan pribadinya sendiri.

Keterampilan tersebut akan berkembang melalui latihan yang konsisten.

8. Mengalami Tekanan Sosial, Kecemasan, dan Kebingungan Menentukan Masa Depan

Tidak semua orang dewasa muda yang belum mandiri disebabkan oleh pola asuh atau kurangnya tanggung jawab.

Sebagian menghadapi tekanan psikologis dan sosial yang cukup berat.

Mereka mungkin merasa tertinggal ketika melihat teman sebaya sudah memiliki pekerjaan bagus, rumah, pasangan, atau kehidupan yang terlihat sukses di media sosial.

Perbandingan tersebut dapat menimbulkan perasaan tidak berharga, kecemasan, dan ketakutan terhadap masa depan.

Selain itu, kondisi ekonomi yang sulit, persaingan pekerjaan, biaya hidup, dan ketidakpastian karier juga dapat membuat proses mencapai kemandirian menjadi lebih rumit.

Dalam psikologi, kondisi ini dapat berkaitan dengan social comparison, yaitu kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain.

Teori perbandingan sosial yang diperkenalkan oleh Leon Festinger menjelaskan bahwa manusia sering menggunakan orang lain sebagai pembanding untuk mengevaluasi kemampuan dan pencapaiannya.

Masalah muncul ketika seseorang terus membandingkan kehidupan pribadinya dengan gambaran ideal kehidupan orang lain.

Ia mungkin merasa gagal hanya karena pencapaiannya tidak sama dengan teman-temannya.

Kecemasan juga dapat membuat seseorang mengalami kesulitan berkonsentrasi, mengambil keputusan, dan memulai tindakan.

Dalam beberapa kasus, kesulitan menjadi mandiri dapat berkaitan dengan depresi, gangguan kecemasan, ADHD, trauma, atau masalah psikologis lainnya. Kondisi-kondisi tersebut tidak bisa disimpulkan hanya berdasarkan perilaku seseorang dan memerlukan penilaian profesional.

Bagaimana cara membantu mereka?

Kurangi kebiasaan membandingkan pencapaian dengan orang lain.

Bantu mereka menetapkan tujuan yang realistis.

Pecah tujuan besar menjadi langkah-langkah kecil.

Dorong mereka membangun rutinitas yang sehat.

Berikan dukungan emosional tanpa menghakimi.

Bantu mereka mencari bantuan psikologis jika kesulitan sudah mengganggu kehidupan sehari-hari.

Mereka perlu memahami bahwa setiap orang memiliki kondisi, kesempatan, dan perjalanan hidup yang berbeda.

Kemandirian bukan perlombaan. Ada orang yang mampu mencapainya lebih cepat, sementara orang lain membutuhkan waktu dan dukungan lebih panjang.

Bagaimana Cara Membantu Orang Dewasa Muda Menjadi Lebih Mandiri?

Setelah memahami delapan penyebab di atas, muncul pertanyaan yang lebih penting: apa yang bisa dilakukan keluarga, orang tua, pasangan, dan lingkungan untuk membantu orang dewasa muda menjadi mandiri?

Menurut prinsip psikologi perkembangan dan pembelajaran perilaku, kemandirian tidak tumbuh hanya melalui nasihat. Kemandirian perlu dibangun melalui pengalaman, kesempatan, tanggung jawab, dan dukungan yang tepat.

Berikut beberapa pendekatan yang dapat diterapkan.

1. Berikan Kebebasan yang Disertai Tanggung Jawab

Jangan hanya memberikan kebebasan tanpa mengajarkan tanggung jawab.

Jika seseorang sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihan, ia juga perlu belajar menghadapi konsekuensi dari pilihannya.

Misalnya, jika ia memutuskan menggunakan uang untuk membeli barang yang tidak terlalu dibutuhkan, ia perlu belajar mengatur kembali anggarannya.

Orang tua tidak harus selalu menutup kekurangan uang yang muncul akibat keputusan konsumtif.

Namun, dukungan tetap perlu diberikan ketika seseorang menghadapi keadaan darurat atau kesulitan yang berada di luar kendalinya.

2. Berhenti Melakukan Segala Sesuatu untuk Mereka

Terkadang, orang tua tanpa sadar mempertahankan ketergantungan anak karena merasa lebih cepat dan mudah melakukan semuanya sendiri.

Misalnya, orang tua selalu mencuci pakaian, menyiapkan makanan, mengurus administrasi, atau menyelesaikan masalah pekerjaan anak yang sudah dewasa.

Kebiasaan ini perlu dievaluasi.

Mulailah memberikan tanggung jawab secara bertahap. Jangan langsung menuntut perubahan besar jika sebelumnya seseorang tidak pernah diberi kesempatan belajar.

3. Bangun Komunikasi Tanpa Menghakimi

Orang dewasa muda yang kesulitan mandiri mungkin sudah merasa malu terhadap kondisinya sendiri.

Jika terus-menerus disebut malas, manja, tidak berguna, atau tidak bertanggung jawab, mereka justru bisa semakin menarik diri.

Gunakan komunikasi yang lebih suportif.

Daripada mengatakan:

"Kamu sudah dewasa, tetapi masih saja tidak bisa melakukan apa-apa."

Lebih baik mengatakan:

"Ada beberapa hal yang perlu kamu pelajari agar bisa mengurus kehidupanmu sendiri. Kita bisa mulai dari hal sederhana dan memperbaikinya sedikit demi sedikit."

Komunikasi yang menghargai martabat seseorang dapat membantu membangun motivasi untuk berubah.

4. Ajarkan Keterampilan Hidup Secara Bertahap

Jangan menganggap seseorang otomatis mengetahui cara menjalani kehidupan hanya karena usianya sudah dewasa.

Ajarkan keterampilan praktis yang diperlukan untuk hidup mandiri.

Mulai dari mengelola uang, memasak, membersihkan rumah, mengurus dokumen, mencari pekerjaan, hingga menyelesaikan konflik.

Buat proses belajar menjadi realistis dan dapat dievaluasi.

5. Jangan Menghilangkan Seluruh Kesulitan dari Kehidupan Mereka

Kesulitan merupakan bagian dari proses pembelajaran.

Jika seseorang selalu diselamatkan dari setiap konsekuensi, ia tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan menghadapi masalah.

Tentu saja, hal ini bukan berarti membiarkan seseorang mengalami bahaya, kekerasan, eksploitasi, atau kesulitan yang melampaui kemampuannya.

Yang perlu dilakukan adalah membiarkan mereka menghadapi tantangan yang sesuai dengan kapasitasnya, sambil tetap menyediakan dukungan ketika dibutuhkan.

6. Bantu Mereka Menemukan Tujuan Hidup

Seseorang akan lebih mudah membangun kemandirian ketika mengetahui apa yang ingin dicapai.

Tujuan tersebut tidak harus besar.

Bisa dimulai dari mendapatkan pekerjaan, memiliki tabungan, menyelesaikan pendidikan, tinggal terpisah dari orang tua, atau mampu mengurus kebutuhan sehari-hari.

Bantu mereka menyusun target jangka pendek, menengah, dan panjang.

Tujuan yang jelas membuat proses perubahan terasa lebih terarah.

7. Berikan Dukungan Profesional Jika Diperlukan

Jika seseorang mengalami kecemasan berat, depresi, trauma, kesulitan mengatur perhatian, atau masalah emosional yang mengganggu fungsi sehari-hari, bantuan profesional dapat sangat bermanfaat.

Psikolog dapat membantu mengidentifikasi faktor yang mendasari kesulitan tersebut dan menyusun pendekatan yang sesuai.

Kita tidak boleh langsung menganggap semua orang dewasa muda yang bergantung kepada orang tua sebagai pemalas atau tidak memiliki motivasi.

Terkadang, ada persoalan psikologis yang perlu ditangani terlebih dahulu agar seseorang dapat mengembangkan kemandirian.

Kesimpulan: Menjadi Mandiri Adalah Proses Belajar, Bukan Sekadar Masalah Usia

Banyak orang beranggapan bahwa ketika seseorang sudah mencapai usia dewasa, ia seharusnya otomatis mampu mengurus kehidupannya sendiri.

Namun, psikologi menunjukkan bahwa kemandirian merupakan kemampuan yang berkembang melalui pengalaman, pembelajaran, hubungan sosial, dan kesempatan untuk mengambil tanggung jawab.

Ada orang yang sulit mandiri karena terlalu dilindungi sejak kecil. Ada yang takut gagal, kurang percaya diri, terlalu bergantung secara emosional, atau tidak memiliki keterampilan hidup yang memadai.

Ada pula yang sedang menghadapi tekanan ekonomi, kecemasan, depresi, maupun persoalan psikologis lainnya.

Karena itu, pendekatan yang paling tepat bukanlah sekadar menyalahkan atau mempermalukan mereka.

Mereka membutuhkan kombinasi antara dukungan dan tanggung jawab.

Orang tua perlu belajar melepaskan kendali secara bertahap. Keluarga perlu memberikan ruang untuk mengambil keputusan. Lingkungan perlu mengurangi kebiasaan menghakimi. Sementara itu, orang dewasa muda perlu berani belajar, mencoba, dan bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri.

Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa membantu seseorang menjadi mandiri bukan berarti melakukan semua hal untuknya.

Terkadang, bentuk bantuan terbaik justru memberikan kesempatan kepada mereka untuk mencoba sendiri, membuat kesalahan, belajar dari pengalaman, dan menemukan kemampuan yang selama ini belum mereka sadari.

Kemandirian bukan berarti seseorang tidak lagi membutuhkan bantuan orang lain. Kemandirian berarti ia mampu mengambil tanggung jawab atas hidupnya sendiri, sekaligus mengetahui kapan harus meminta bantuan.

Pada akhirnya, tujuan membesarkan seseorang bukan membuatnya terus-menerus membutuhkan kita, melainkan membantunya tumbuh menjadi pribadi yang mampu menjalani kehidupan dengan percaya diri, bertanggung jawab, dan memiliki kendali atas masa depannya.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore