Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 2 November 2026 | 05.17 WIB

7 Alasan Mengapa Orang yang Di-Ghosting Merasa Begitu Menyakitkan Menurut Psikologi

seseorang yang dighosting oleh pasangannya / foto: Magnific/Jomkwan

 

JawaPos.com - Pernahkah kamu menjalin komunikasi dengan seseorang yang awalnya begitu perhatian, sering mengirim pesan, menanyakan kabar, bahkan membuatmu merasa menjadi orang yang istimewa, tetapi tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan? Pesan yang biasanya dibalas dalam hitungan menit kini hanya berakhir dengan tanda terkirim. Tidak ada kabar, tidak ada kejelasan, dan tidak ada penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Fenomena ini dikenal dengan istilah ghosting.

Ghosting adalah perilaku ketika seseorang secara tiba-tiba menghentikan komunikasi dan menarik diri dari hubungan tanpa memberikan penjelasan atau penutupan yang jelas kepada orang yang ditinggalkan. Perilaku ini bisa terjadi dalam hubungan romantis, pertemanan, hubungan profesional, bahkan interaksi sosial yang baru dimulai.

Bagi sebagian orang, ghosting mungkin dianggap sebagai cara sederhana untuk mengakhiri hubungan. Mereka merasa tidak perlu menjelaskan apa pun dan cukup menghilang begitu saja. Namun, bagi orang yang menjadi korbannya, pengalaman ini bisa meninggalkan luka emosional yang cukup dalam.

Menariknya, rasa sakit akibat ghosting bukan sekadar karena kehilangan seseorang. Ada berbagai proses psikologis yang membuat pengalaman tersebut terasa begitu menyakitkan. Bahkan, terkadang seseorang bisa merasa lebih tersiksa karena ketidakjelasan daripada karena hubungan itu sendiri benar-benar berakhir.

Lantas, mengapa orang yang mengalami ghosting bisa merasakan sakit emosional yang begitu kuat?

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (1/11), terdapat tujuh alasannya menurut perspektif psikologi.

1. Otak Manusia Menganggap Penolakan Sosial sebagai Ancaman Emosional

Salah satu alasan utama mengapa ghosting terasa menyakitkan adalah karena manusia memiliki kebutuhan dasar untuk diterima, dihargai, dan merasa menjadi bagian dari kehidupan orang lain.

Dalam psikologi, kebutuhan untuk memiliki hubungan sosial yang bermakna dikenal sebagai need to belong. Konsep ini dijelaskan oleh psikolog Roy Baumeister dan Mark Leary melalui penelitian mereka mengenai kebutuhan manusia untuk membangun ikatan interpersonal.

Manusia pada dasarnya tidak dirancang untuk hidup sepenuhnya dalam keterasingan sosial. Kita membutuhkan hubungan untuk mendapatkan rasa aman, dukungan emosional, dan pengakuan terhadap keberadaan diri.

Ketika seseorang tiba-tiba menghilang, otak dapat menafsirkan situasi tersebut sebagai bentuk penolakan sosial.

Inilah yang membuat seseorang merasa tidak berharga, tidak diinginkan, atau seolah-olah keberadaannya tidak lagi penting bagi orang lain.

Bahkan, penelitian dalam psikologi sosial menunjukkan bahwa penolakan sosial dapat melibatkan sebagian sistem pemrosesan otak yang juga berkaitan dengan pengalaman rasa sakit fisik.

Artinya, rasa sakit emosional akibat ditolak bukanlah sesuatu yang dibuat-buat atau sekadar bentuk terlalu sensitif.

Ketika seseorang di-ghosting, ia bukan hanya kehilangan komunikasi dengan orang lain. Ia juga bisa kehilangan perasaan diterima dan diakui yang sebelumnya diperoleh dari hubungan tersebut.

Tidak mengherankan jika seseorang kemudian terus memikirkan pertanyaan seperti:

Apakah aku melakukan kesalahan?

Apakah aku kurang menarik?

Apakah ada sesuatu dalam diriku yang membuatnya pergi?

Mengapa dia bisa menghilang tanpa merasa perlu memberikan penjelasan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul karena manusia secara psikologis berusaha memahami alasan di balik penolakan yang dialaminya.

2. Ketidakjelasan Membuat Pikiran Terus Mencari Jawaban

Hal lain yang membuat ghosting begitu menyakitkan adalah tidak adanya kepastian.

Ketika sebuah hubungan berakhir melalui percakapan yang jelas, seseorang setidaknya memiliki informasi untuk memahami apa yang terjadi. Meskipun menyakitkan, ia mengetahui bahwa hubungan tersebut sudah selesai.

Namun, ghosting menciptakan situasi yang berbeda.

Tidak ada perpisahan. Tidak ada penjelasan. Tidak ada kepastian apakah orang tersebut sedang sibuk, kehilangan minat, memiliki masalah pribadi, atau memang sengaja menghindar.

Ketidakjelasan semacam ini membuat pikiran terus mencari jawaban.

Dalam psikologi, salah satu konsep yang relevan adalah intolerance of uncertainty, yaitu kecenderungan seseorang mengalami kesulitan menghadapi situasi yang tidak pasti.

Orang yang mengalami ketidakpastian sering kali terdorong untuk mencari informasi agar dapat memahami dan mengendalikan keadaan.

Sayangnya, dalam kasus ghosting, informasi yang dibutuhkan tidak tersedia.

Akibatnya, seseorang bisa terjebak dalam lingkaran pemikiran yang berulang atau rumination.

Ia mungkin mengingat kembali percakapan terakhir, membaca ulang pesan lama, memperhatikan perubahan sikap, bahkan mencari petunjuk kecil yang mungkin menjelaskan alasan seseorang menghilang.

Semakin banyak ia memikirkan situasi tersebut, semakin banyak kemungkinan yang muncul dalam pikirannya.

Masalahnya, tidak semua kemungkinan itu benar.

Seseorang bisa saja menyimpulkan bahwa dirinya membosankan, terlalu perhatian, terlalu banyak bertanya, atau melakukan sesuatu yang membuat orang lain tidak nyaman, padahal belum tentu demikian.

Ketidakjelasan membuat pikiran berusaha menyusun cerita sendiri. Dan terkadang, cerita yang diciptakan pikiran justru jauh lebih menyakitkan daripada kenyataan yang sebenarnya.

3. Ghosting Merusak Rasa Aman dan Kepercayaan terhadap Orang Lain

Kepercayaan merupakan salah satu fondasi terpenting dalam sebuah hubungan.

Ketika seseorang mulai dekat dengan orang lain, ia perlahan membangun keyakinan bahwa komunikasi akan berlangsung secara konsisten, perhatian akan diberikan secara wajar, dan perasaan akan diperlakukan dengan baik.

Namun, ketika orang yang sebelumnya begitu dekat tiba-tiba menghilang, keyakinan tersebut dapat runtuh.

Seseorang yang mengalami ghosting mungkin mulai mempertanyakan apakah perhatian yang selama ini diterimanya benar-benar tulus.

Ia bisa merasa bahwa semua percakapan, janji, perhatian, dan momen kebersamaan yang pernah terjadi ternyata tidak memiliki makna bagi orang yang pergi.

Dampaknya tidak selalu berhenti pada hubungan tersebut.

Pengalaman ghosting bisa memengaruhi cara seseorang membangun hubungan baru. Ia mungkin menjadi lebih berhati-hati, sulit percaya, atau takut menunjukkan perasaan karena khawatir akan mengalami hal serupa.

Dalam psikologi kelekatan atau attachment theory, pengalaman hubungan interpersonal dapat memengaruhi bagaimana seseorang membangun kedekatan dan merespons kemungkinan penolakan.

Misalnya, seseorang dengan kecenderungan kelekatan cemas (anxious attachment) mungkin mengalami tekanan emosional yang lebih kuat ketika komunikasi tiba-tiba terputus.

Ia bisa merasa takut ditinggalkan, terus mencari kepastian, dan sangat sensitif terhadap perubahan perilaku orang yang disayanginya.

Sementara itu, orang lain mungkin merespons dengan menarik diri dan berusaha tidak terlalu terlibat secara emosional dalam hubungan berikutnya.

Perlu dipahami bahwa tidak semua orang yang di-ghosting akan mengalami perubahan kepercayaan seperti ini. Namun, pengalaman ditinggalkan tanpa penjelasan memang dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi rasa aman dalam hubungan interpersonal.

4. Harapan yang Sudah Terbangun Membuat Kehilangan Terasa Lebih Berat

Seseorang tidak hanya merasa kehilangan orang yang melakukan ghosting. Ia juga bisa merasa kehilangan masa depan yang sebelumnya dibayangkan bersama orang tersebut.

Ketika dua orang mulai dekat, biasanya muncul berbagai harapan.

Mungkin mereka pernah membicarakan rencana bertemu, perjalanan bersama, kemungkinan menjalin hubungan serius, atau sekadar membayangkan komunikasi yang akan terus berlangsung.

Meskipun hubungan tersebut belum tentu memiliki komitmen yang kuat, harapan bisa berkembang secara emosional.

Inilah yang membuat ghosting terasa lebih menyakitkan daripada sekadar kehilangan komunikasi biasa.

Dalam psikologi, manusia memiliki kecenderungan untuk membangun ekspektasi berdasarkan pengalaman dan informasi yang diterima. Ketika ekspektasi tersebut tiba-tiba tidak sesuai dengan kenyataan, seseorang dapat mengalami kekecewaan emosional.

Bayangkan seseorang yang selama beberapa minggu menerima perhatian secara konsisten.

Setiap pagi ada pesan selamat pagi. Setiap malam ada percakapan panjang. Ada cerita tentang kehidupan pribadi, candaan, dan perhatian kecil yang membuatnya merasa dekat.

Tanpa disadari, rutinitas tersebut menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Kemudian, semuanya berhenti begitu saja.

Yang hilang bukan hanya pesan dari seseorang, tetapi juga rutinitas, kebiasaan, dan harapan yang sudah terbentuk.

Bahkan, terkadang seseorang lebih merindukan perasaan yang muncul ketika bersama orang tersebut daripada sosoknya sendiri.

Ia merindukan perasaan diperhatikan, ditunggu, dicari, dan dianggap penting.

Karena itulah, meskipun hubungan yang dijalani belum terlalu lama, dampak emosional ghosting tetap bisa terasa besar.

5. Tidak Mendapatkan Penutupan Membuat Proses Kehilangan Menjadi Lebih Sulit

Dalam sebuah hubungan, penutupan atau closure dapat membantu seseorang memahami bahwa suatu hubungan telah berakhir.

Closure bukan berarti seseorang harus mendapatkan jawaban yang memuaskan atas semua pertanyaannya. Namun, adanya komunikasi yang jelas dapat membantu individu menerima kenyataan dan mulai menyesuaikan diri.

Ghosting menghilangkan kesempatan tersebut.

Orang yang ditinggalkan tidak mengetahui apakah dirinya sedang menghadapi perpisahan atau hanya mengalami perubahan sementara dalam komunikasi.

Akibatnya, ia bisa terus mempertahankan harapan bahwa orang tersebut akan kembali.

Setiap kali ponsel berbunyi, muncul kemungkinan bahwa pesan yang ditunggu akhirnya datang. Setiap kali melihat nama orang tersebut di media sosial, muncul kembali ingatan dan harapan lama.

Situasi ini membuat proses menerima kehilangan menjadi lebih rumit.

Dalam psikologi, pengalaman seperti ini dapat dikaitkan dengan konsep ambiguous loss atau kehilangan yang ambigu.

Konsep yang dikembangkan oleh Pauline Boss ini menjelaskan bentuk kehilangan ketika seseorang tidak mendapatkan kepastian mengenai keberadaan atau status hubungan dengan orang yang hilang dari kehidupannya.

Ghosting tidak sepenuhnya sama dengan semua bentuk ambiguous loss, tetapi memiliki kemiripan dalam hal ketidakpastian dan sulitnya memperoleh penutupan emosional.

Seseorang secara fisik masih mengetahui bahwa orang yang menghilang itu ada. Ia mungkin masih bisa melihat aktivitasnya di media sosial, mengetahui kabarnya dari teman, atau bahkan melihatnya secara langsung.

Namun, secara emosional, hubungan yang sebelumnya terjalin seolah-olah sudah tidak ada.

Kondisi ini bisa menimbulkan konflik batin.

Di satu sisi, seseorang ingin berhenti berharap. Namun, di sisi lain, ia masih bertanya-tanya apakah hubungan tersebut benar-benar sudah berakhir.

Tanpa kejelasan, proses menerima kenyataan bisa menjadi jauh lebih melelahkan.

6. Ghosting Bisa Menghancurkan Harga Diri dan Memunculkan Perasaan Tidak Cukup Baik

Salah satu dampak emosional yang cukup berat dari ghosting adalah munculnya keraguan terhadap diri sendiri.

Ketika seseorang ditinggalkan tanpa penjelasan, ia mungkin mulai menghubungkan tindakan orang lain dengan kualitas dirinya.

Ia berpikir bahwa dirinya tidak cukup menarik, tidak cukup menyenangkan, tidak cukup pintar, atau tidak cukup baik untuk dipertahankan.

Padahal, keputusan seseorang untuk melakukan ghosting tidak secara otomatis mencerminkan nilai atau kualitas orang yang ditinggalkan.

Dalam psikologi, harga diri atau self-esteem berkaitan dengan bagaimana seseorang menilai dan menghargai dirinya sendiri.

Penolakan interpersonal dapat menjadi ancaman terhadap penilaian tersebut, terutama ketika seseorang sangat mengharapkan penerimaan dari orang yang bersangkutan.

Masalahnya, ghosting tidak memberikan penjelasan yang bisa digunakan untuk memahami alasan di balik penolakan.

Akhirnya, seseorang cenderung mengisi kekosongan informasi dengan penilaian terhadap dirinya sendiri.

Misalnya:

"Apa aku terlalu membosankan?"

"Apakah aku terlalu mudah jatuh cinta?"

"Kenapa orang lain bisa mendapatkan hubungan yang baik, sedangkan aku selalu ditinggalkan?"

"Apakah memang ada sesuatu yang salah denganku?"

Jika pikiran-pikiran tersebut terus berulang, pengalaman ghosting bisa berubah menjadi masalah kepercayaan diri.

Seseorang mungkin mulai membandingkan dirinya dengan orang lain, merasa kurang berharga, atau menganggap bahwa dirinya tidak pantas mendapatkan hubungan yang sehat.

Padahal, penting untuk memahami bahwa perilaku ghosting lebih banyak menjelaskan cara seseorang menangani komunikasi dan konflik daripada menentukan nilai diri orang yang ditinggalkan.

Kamu tidak otomatis menjadi kurang berharga hanya karena seseorang memilih pergi tanpa penjelasan.

7. Perhatian yang Tiba-Tiba Menghilang Membuat Otak Sulit Beradaptasi

Alasan terakhir yang membuat ghosting terasa begitu menyakitkan adalah perubahan pola perhatian yang terjadi secara mendadak.

Ketika seseorang terbiasa menerima pesan, perhatian, dan komunikasi dari orang lain, otaknya mulai mengenali pola tersebut sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Pesan yang masuk bisa menjadi sumber kesenangan, rasa nyaman, bahkan antisipasi emosional.

Ketika komunikasi itu tiba-tiba berhenti, seseorang harus menyesuaikan diri dengan perubahan yang sebelumnya tidak dipersiapkan.

Dalam psikologi perilaku, pengalaman mendapatkan penghargaan atau kesenangan secara berulang dapat membentuk pola penguatan (reinforcement).

Misalnya, setiap kali seseorang menerima pesan dari orang yang disukainya, ia merasa senang. Lama-kelamaan, notifikasi dari orang tersebut dapat menjadi sesuatu yang sangat dinantikan.

Ketika pesan itu tidak lagi datang, muncul perasaan kehilangan terhadap pengalaman yang sebelumnya memberikan kepuasan emosional.

Hal ini juga dapat diperkuat oleh pola perhatian yang tidak konsisten.

Jika seseorang sebelumnya terkadang sangat perhatian, kemudian menghilang, lalu kembali menghubungi, ketidakpastian tersebut dapat membuat orang yang menunggu semakin terpaku pada kemungkinan mendapatkan perhatian kembali.

Namun, perlu dibedakan bahwa tidak semua ghosting melibatkan pola penguatan intermiten. Konsep ini lebih relevan ketika hubungan sebelumnya memang menunjukkan pola perhatian yang datang dan pergi secara tidak konsisten.

Terlepas dari itu, perubahan rutinitas komunikasi secara mendadak dapat membuat seseorang membutuhkan waktu untuk beradaptasi.

Ia harus belajar menjalani hari tanpa kebiasaan yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan emosionalnya.

Itulah sebabnya, terkadang seseorang masih refleks membuka ruang percakapan lama, memeriksa ponsel, atau berharap melihat pesan baru meskipun sudah mengetahui bahwa orang tersebut menghilang.

Bagaimana Cara Memulihkan Diri Setelah Mengalami Ghosting?

Mengalami ghosting memang bisa menyakitkan, tetapi bukan berarti seseorang harus terus terjebak dalam pengalaman tersebut.

Ada beberapa langkah yang dapat membantu proses pemulihan emosional.

1. Berhenti menyalahkan diri sendiri

Tidak semua hubungan yang berakhir disebabkan oleh kekurangan diri kita. Keputusan seseorang untuk menghilang merupakan tanggung jawab orang tersebut. Jangan menjadikan ketidakmampuannya berkomunikasi sebagai ukuran harga dirimu.

2. Terima bahwa ketidakjelasan juga merupakan sebuah kenyataan

Mungkin kamu tidak akan pernah mengetahui alasan sebenarnya mengapa seseorang menghilang. Menerima bahwa tidak semua pertanyaan akan mendapatkan jawaban dapat menjadi langkah penting untuk berhenti menunggu.

3. Kurangi kebiasaan memeriksa media sosialnya

Terus memeriksa aktivitas orang yang melakukan ghosting dapat membuat luka emosional kembali terbuka. Memberikan jarak, membatasi paparan, atau berhenti mengikuti akunnya untuk sementara bisa membantu proses pemulihan.

4. Izinkan dirimu merasakan kesedihan

Jangan merasa harus segera baik-baik saja. Merasa kecewa, sedih, marah, atau kehilangan merupakan respons yang manusiawi. Berikan waktu kepada diri sendiri untuk memproses pengalaman tersebut.

5. Kembalikan perhatian kepada kehidupan pribadi

Bangun kembali rutinitas, lakukan aktivitas yang menyenangkan, temui teman, dan fokus pada hal-hal yang memberikan makna bagi kehidupanmu. Jangan biarkan ketidakhadiran seseorang menguasai seluruh ruang emosionalmu.

6. Bangun batasan yang lebih sehat dalam hubungan berikutnya

Belajar mengenali konsistensi, komunikasi, dan rasa saling menghargai. Hubungan yang sehat tidak harus selalu sempurna, tetapi kedua pihak seharusnya mampu berkomunikasi ketika menghadapi masalah.

7. Cari bantuan profesional jika dampaknya berkepanjangan

Jika pengalaman ghosting membuatmu terus mengalami kecemasan, gangguan tidur, kesulitan menjalani aktivitas, atau penurunan harga diri yang berat, berbicara dengan psikolog dapat membantu memahami dan mengelola perasaan tersebut.

Kesimpulan

Ghosting terasa begitu menyakitkan bukan semata-mata karena seseorang kehilangan orang yang disukainya. Ada banyak faktor psikologis yang bekerja di balik pengalaman tersebut.

Mulai dari kebutuhan manusia untuk diterima, rasa sakit akibat penolakan sosial, ketidakpastian yang memicu pikiran berulang, rusaknya kepercayaan, harapan yang tidak terpenuhi, kehilangan tanpa penutupan, hingga menurunnya harga diri.

Semua faktor tersebut dapat membuat seseorang mengalami luka emosional yang jauh lebih kompleks daripada yang terlihat dari luar.

Hal yang perlu diingat adalah bahwa seseorang yang melakukan ghosting tidak memiliki hak untuk menentukan seberapa berharga dirimu.

Kamu boleh merasa kehilangan. Kamu boleh kecewa. Kamu juga boleh membutuhkan waktu untuk pulih.

Namun, jangan sampai ketidakhadiran seseorang membuatmu mempertanyakan seluruh nilai dirimu sendiri.

Sebab, hubungan yang sehat bukan hanya tentang mendapatkan perhatian ketika semuanya terasa menyenangkan, tetapi juga tentang keberanian untuk berkomunikasi ketika sesuatu tidak lagi berjalan sesuai harapan.

Terkadang, bentuk penghargaan paling sederhana dalam sebuah hubungan adalah memberikan kejujuran, bukan menghilang dan membiarkan orang lain menebak-nebak alasan di balik kepergian kita.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore