seseorang yang menemukan makna dan tujuan hidup / foto: Magnific/timeimage
“Sebenarnya, untuk apa aku menjalani semua ini?”
Kita tetap bangun pagi. Tetap bekerja. Tetap membalas pesan. Tetap bertemu orang lain. Bahkan mungkin masih bisa tertawa dan menikmati beberapa hal.
Namun, ada sesuatu yang terasa hilang.
Bukan selalu kebahagiaan.
Bukan pula selalu motivasi.
Kadang yang hilang adalah rasa bahwa hidup kita sedang menuju sesuatu yang berarti.
Hari-hari terasa seperti pengulangan. Kita menjalani rutinitas karena memang harus dijalani, bukan karena benar-benar tahu mengapa kita melakukannya.
Dalam psikologi, pengalaman seperti ini sering dibicarakan melalui konsep meaning in life atau kebermaknaan hidup. Kebermaknaan bukan berarti seseorang harus memiliki misi besar, menjadi terkenal, atau mencapai sesuatu yang luar biasa.
Makna justru bisa muncul ketika seseorang merasa bahwa hidupnya memiliki arah, bernilai, dan terhubung dengan sesuatu yang dianggap penting.
Dan kabar baiknya adalah:
Makna hidup tidak selalu harus ditemukan. Dalam banyak kasus, makna justru dibangun sedikit demi sedikit melalui cara kita menjalani hidup.
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (11/10), jika akhir-akhir ini kamu merasa kehilangan arah, mungkin kamu tidak perlu langsung mencari jawaban terbesar tentang hidup.
Mulailah dengan tujuh langkah berikut.
1. Berhenti Sejenak dan Akui Bahwa Kamu Sedang Kehilangan Arah
Hal pertama yang perlu dilakukan bukanlah mencari tujuan baru.
Tetapi berhenti berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Banyak orang ketika merasa kehilangan arah justru memaksa dirinya untuk segera menjadi produktif.
Mereka membuat target baru.
Membeli buku motivasi.
Mengikuti berbagai seminar.
Membuat jadwal yang sangat padat.
Mencari pekerjaan baru.
Atau bahkan mencoba mengubah seluruh hidup dalam waktu singkat.
Padahal, terkadang masalahnya bukan karena kita kekurangan aktivitas.
Masalahnya adalah kita terlalu lama bergerak tanpa pernah bertanya:
“Apakah arah yang sedang kutuju masih benar-benar milikku?”
Dalam psikologi, kemampuan untuk menyadari pengalaman internal tanpa langsung melawannya merupakan bagian penting dari self-awareness dan psychological flexibility.
Artinya, ketika kamu merasa kosong, kamu tidak harus langsung menghilangkan rasa kosong itu.
Kamu bisa mulai dengan mengakuinya.
“Aku sedang tidak tahu apa yang ingin kulakukan.”
“Aku merasa hidupku berjalan, tetapi aku tidak merasa hadir di dalamnya.”
“Aku punya banyak hal, tetapi aku tidak merasa semuanya berarti.”
Kalimat-kalimat tersebut bukan tanda kelemahan.
Justru itu adalah bentuk kejujuran terhadap diri sendiri.
Cobalah bertanya:
Apa yang sebenarnya sedang kurasakan?
Sejak kapan aku merasa kehilangan arah?
Apakah aku lelah, bosan, kecewa, atau memang tidak lagi merasa terhubung dengan hidupku?
Bagian mana dari hidupku yang terasa kosong?
Apakah aku sedang menjalani kehidupan yang kupilih sendiri atau kehidupan yang dibentuk oleh ekspektasi orang lain?
Jangan buru-buru menjawab.
Kadang pertanyaan yang tepat lebih penting daripada jawaban yang cepat.
2. Pisahkan Keinginanmu dari Ekspektasi Orang Lain
Salah satu alasan seseorang kehilangan makna adalah karena ia terlalu lama menjalani hidup berdasarkan “seharusnya.”
Seharusnya punya pekerjaan bagus.
Seharusnya menikah pada usia tertentu.
Seharusnya punya rumah.
Seharusnya menghasilkan banyak uang.
Seharusnya terlihat sukses.
Seharusnya membahagiakan keluarga.
Seharusnya menjadi seperti orang lain.
Masalahnya, kehidupan yang terlihat sukses dari luar belum tentu terasa bermakna bagi orang yang menjalaninya.
Psikologi motivasi, khususnya Self-Determination Theory, menekankan pentingnya kebutuhan psikologis akan autonomy, yaitu pengalaman bahwa kita memiliki pilihan dan merasa tindakan kita berasal dari diri sendiri.
Ini bukan berarti kita harus mengabaikan keluarga atau hidup sesuka hati.
Tetapi ada perbedaan besar antara:
“Aku memilih melakukan ini karena ini penting bagiku.”
dan
“Aku melakukan ini karena aku takut mengecewakan orang lain.”
Dari luar, kedua kehidupan itu mungkin terlihat sama.
Namun pengalaman psikologisnya bisa sangat berbeda.
Coba lakukan latihan sederhana.
Ambil selembar kertas dan buat dua kolom.
Kolom pertama: “Aku ingin...”
Tuliskan hal-hal yang benar-benar kamu inginkan.
Kolom kedua: “Aku merasa harus...”
Tuliskan tuntutan yang selama ini kamu bawa.
Misalnya:
Aku ingin:
memiliki pekerjaan yang membuatku merasa berguna
punya waktu lebih banyak dengan keluarga
belajar sesuatu yang baru
hidup lebih sederhana
membuat sesuatu yang kreatif
Aku merasa harus:
selalu terlihat sukses
memiliki penghasilan tertentu
membuat semua orang bangga
mengikuti standar hidup orang lain
membuktikan bahwa aku tidak gagal
Setelah itu, perhatikan perbedaannya.
Mungkin selama ini kamu bukan kehilangan tujuan.
Mungkin kamu hanya terlalu lama mengejar tujuan yang sebenarnya bukan milikmu.
3. Temukan Kembali Nilai-Nilai yang Benar-Benar Penting Bagimu
Tujuan hidup dan nilai hidup adalah dua hal yang berbeda.
Tujuan adalah sesuatu yang ingin kamu capai.
Nilai adalah cara kamu ingin menjalani hidup.
Misalnya, seseorang memiliki tujuan:
“Aku ingin menjadi manajer.”
Tetapi nilai di balik tujuan itu mungkin adalah:
kompetensi
kontribusi
kepemimpinan
kebebasan
pembelajaran
Masalahnya, jika kita hanya berfokus pada tujuan, kita bisa merasa hidup tidak bermakna ketika tujuan tersebut gagal tercapai.
Sebaliknya, nilai dapat menjadi kompas yang tetap membantu kita bergerak meskipun situasi berubah.
Misalnya kamu sangat menghargai keluarga.
Kamu mungkin tidak bisa selalu memiliki kehidupan ideal.
Tetapi kamu tetap dapat menjalani nilai tersebut dengan cara sederhana:
menghubungi orang tua,
menghabiskan waktu dengan pasangan,
mendengarkan anak,
atau hadir secara emosional untuk orang yang kamu cintai.
Begitu pula jika nilaimu adalah pembelajaran.
Kamu tidak harus mendapatkan gelar baru untuk menjalani nilai tersebut.
Kamu bisa membaca.
Belajar keterampilan baru.
Bertanya.
Mencoba.
Mengeksplorasi.
Coba pilih 5 nilai yang paling penting bagimu:
keluarga
cinta
kebebasan
keamanan
kreativitas
keberanian
kesehatan
spiritualitas
pembelajaran
kontribusi
kejujuran
persahabatan
kemandirian
pertumbuhan
pelayanan
keadilan
petualangan
ketenangan
Kemudian tanyakan:
“Dalam tujuh hari terakhir, apakah cara hidupku mencerminkan nilai-nilai ini?”
Pertanyaan tersebut bisa membuka sesuatu yang selama ini tidak kamu sadari.
Karena terkadang kita tidak kehilangan makna.
Kita hanya terlalu jauh hidup dari nilai-nilai yang sebenarnya penting bagi kita.
4. Jangan Menunggu Motivasi—Mulailah Bertindak Kecil
Salah satu jebakan terbesar ketika kehilangan arah adalah menunggu sampai kita merasa termotivasi.
Kita berkata:
“Kalau sudah tahu tujuan hidupku, baru aku akan mulai.”
Padahal sering kali prosesnya justru terbalik.
Kita bergerak terlebih dahulu, lalu kejelasan muncul sepanjang perjalanan.
Dalam pendekatan psikologi perilaku, terdapat konsep behavioral activation, yaitu gagasan bahwa perubahan aktivitas dapat membantu memengaruhi keadaan emosional dan motivasi.
Dengan kata lain:
Jangan selalu menunggu perasaan berubah sebelum bertindak.
Terkadang tindakan kecil membantu menciptakan perubahan perasaan.
Kalau hidupmu terasa kosong, jangan langsung berpikir:
“Apa tujuan hidupku?”
Pertanyaan itu terlalu besar.
Cobalah bertanya:
“Apa satu hal kecil yang bisa kulakukan hari ini yang terasa sedikit lebih bermakna?”
Mungkin:
berjalan kaki selama 20 menit
membaca beberapa halaman buku
menghubungi teman lama
membantu seseorang
memasak untuk keluarga
belajar keterampilan baru
membersihkan ruang kerja
menyelesaikan satu pekerjaan yang tertunda
membuat sesuatu
pergi ke tempat yang belum pernah kamu kunjungi
Jangan meremehkan tindakan kecil.
Hidup tidak berubah hanya karena kita mendapatkan satu jawaban besar.
Sering kali hidup berubah karena kita melakukan hal-hal kecil secara konsisten.
5. Kembali Terhubung dengan Orang Lain
Ketika kehilangan makna, kita sering menarik diri.
Kita mulai merasa bahwa tidak ada yang benar-benar memahami kita.
Akhirnya kita lebih banyak berada sendirian.
Namun manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Dalam psikologi, relatedness atau rasa terhubung dengan orang lain merupakan salah satu kebutuhan psikologis penting.
Dan menariknya, makna hidup sering kali tidak hanya muncul dari pencapaian pribadi.
Makna juga muncul dari hubungan.
Dari menjadi seseorang yang berarti bagi orang lain.
Dari merawat.
Dari membantu.
Dari dicintai.
Dari mencintai.
Dari merasa bahwa keberadaan kita memberikan sesuatu kepada kehidupan orang lain.
Karena itu, jika hidup terasa kosong, jangan hanya bertanya:
“Apa yang ingin aku dapatkan dari hidup?”
Coba tambahkan pertanyaan:
“Apa yang bisa aku berikan kepada kehidupan?”
Mungkin kamu bisa membantu seseorang.
Mengajari sesuatu.
Mendengarkan teman.
Menjadi pasangan yang lebih hadir.
Menghabiskan waktu dengan orang tua.
Membimbing seseorang yang lebih muda.
Atau sekadar menjadi orang yang membuat hari seseorang sedikit lebih ringan.
Tidak semua makna harus terlihat besar.
Kadang makna hidup seseorang tersembunyi dalam kalimat sederhana:
“Aku tahu keberadaanku berarti bagi seseorang.”
6. Berani Mencoba Sesuatu yang Baru
Ada kemungkinan bahwa alasan hidup terasa hambar bukan karena hidupmu benar-benar tidak memiliki makna.
Mungkin kamu hanya terlalu lama menjalani pola yang sama.
Rutinitas memang memberikan keamanan.
Tetapi jika semuanya terlalu otomatis, hidup bisa terasa seperti berjalan menggunakan mode autopilot.
Bangun.
Bekerja.
Pulang.
Makan.
Scroll media sosial.
Tidur.
Ulangi.
Hari demi hari.
Bulan demi bulan.
Tahun demi tahun.
Karena itu, ketika kamu merasa kehilangan arah, pertimbangkan untuk memperkenalkan eksperimen kecil ke dalam hidup.
Bukan berarti kamu harus meninggalkan semuanya dan memulai kehidupan baru.
Cukup mencoba.
Ikuti kelas.
Belajar bahasa.
Baca bidang yang selama ini tidak kamu pahami.
Pergi ke tempat baru.
Bertemu komunitas baru.
Mulai proyek pribadi.
Menulis.
Melukis.
Berolahraga.
Berkebun.
Membuat sesuatu dengan tangan.
Menjadi sukarelawan.
Tujuannya bukan menemukan “passion” dalam satu malam.
Tujuannya adalah mengumpulkan pengalaman yang membantu kamu memahami dirimu sendiri.
Kamu tidak akan selalu menemukan apa yang kamu sukai dengan berpikir.
Kadang kamu menemukannya dengan mencoba.
Dan sama pentingnya:
Kamu juga belajar tentang dirimu melalui hal-hal yang ternyata tidak kamu sukai.
Itu juga kemajuan.
7. Bangun Tujuan yang Lebih Kecil daripada “Menemukan Tujuan Hidup”
Ironisnya, semakin keras kita memaksa diri untuk menemukan tujuan hidup, semakin tertekan kita bisa merasa.
Kita membayangkan bahwa suatu hari akan ada momen besar ketika semuanya tiba-tiba jelas:
“Inilah alasan aku dilahirkan.”
Tetapi kehidupan nyata jarang bekerja seperti itu.
Makna biasanya berkembang.
Ia berubah ketika kita bertambah dewasa.
Apa yang penting bagi kita pada usia 20 tahun mungkin berbeda ketika kita berusia 30.
Dan mungkin berubah lagi pada usia 40, 50, atau 60.
Karena itu, jangan selalu mencari satu tujuan hidup untuk selamanya.
Cari tujuan untuk fase hidup yang sedang kamu jalani.
Tanyakan:
“Apa yang penting untuk kubangun dalam 12 bulan ke depan?”
Mungkin jawabannya:
menjadi lebih sehat
memperbaiki hubungan
membangun karier
belajar keterampilan
melunasi utang
menciptakan karya
lebih hadir untuk keluarga
menemukan kembali rasa ingin tahu
membangun kehidupan yang lebih tenang
Kemudian turunkan lagi menjadi sesuatu yang lebih sederhana.
Jika tujuanmu adalah:
“Aku ingin hidup lebih sehat.”
Tujuan minggu ini mungkin:
berjalan kaki tiga kali.
Jika tujuanmu:
“Aku ingin lebih dekat dengan keluarga.”
Tujuan minggu ini mungkin:
makan malam bersama keluarga tanpa memegang ponsel.
Jika tujuanmu:
“Aku ingin menemukan kembali kreativitas.”
Tujuan minggu ini mungkin:
menghabiskan 30 menit membuat sesuatu.
Tujuan kecil memberikan arah.
Arah memberikan momentum.
Dan momentum perlahan dapat mengubah cara kita melihat hidup.
Pada Akhirnya, Makna Tidak Selalu Ditemukan—Ia Dibangun
Mungkin selama ini kamu berpikir bahwa suatu hari kamu harus menemukan satu alasan besar yang membuat hidupmu bermakna.
Namun mungkin jawabannya tidak sebesar itu.
Mungkin makna hidup dibangun dari hal-hal yang sangat sederhana:
Orang yang kamu cintai.
Pekerjaan yang kamu lakukan dengan sungguh-sungguh.
Masalah yang kamu bantu selesaikan.
Orang yang kamu bantu.
Pengetahuan yang kamu pelajari.
Karya yang kamu ciptakan.
Pengalaman yang kamu jalani.
Dan keberanian untuk tetap berjalan meskipun kamu belum mengetahui seluruh jalan di depanmu.
Kamu tidak harus mengetahui tujuan akhir untuk mengambil langkah berikutnya.
Seorang pendaki tidak perlu melihat seluruh jalur gunung untuk melangkah.
Ia hanya perlu tahu:
“Ke arah mana aku harus berjalan sekarang?”
Begitu pula dengan hidup.
Jika hari ini kamu belum tahu apa tujuan hidupmu, tidak apa-apa.
Mulailah dengan sesuatu yang lebih sederhana.
Tanyakan:
Apa yang penting bagiku?
Siapa yang ingin aku cintai dengan lebih baik?
Apa yang ingin aku pelajari?
Apa yang ingin aku berikan?
Nilai apa yang ingin aku hidupi?
Dan langkah kecil apa yang bisa kulakukan hari ini?
Mungkin kamu tidak akan menemukan semua jawabannya hari ini.
Tetapi kamu tidak harus menemukannya sekaligus.
Karena hidup yang bermakna tidak selalu dimulai dengan sebuah jawaban besar.
Kadang ia dimulai dengan satu langkah kecil yang terasa benar.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ketua Komisi II DPR Usulkan Gaji PNS lewat Koperasi Hanya untuk Pegawai Pusat
Tak Hanya Bupati Klaten, KPK Juga Tangkap Kepala BPK Perwakilan Jawa Tengah
Prediksi Skor Estudiantes vs Flamengo: Panas Menuju Final Copa Libertadores
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante: Granotes Paksa Tuan Rumah Berbagi Poin
Menkop Pastikan Gaji PNS Lewat Koperasi Mulai Tahun Ini, Tak Perlu Tunggu 2027
Prediksi Skor Garudayaksa FC vs Arema FC: Singo Edan Kembali ke Jalur Kemenangan
Prediksi Skor Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga: Lini Pertahanan Rapuh Jadi Ancaman Tuan Rumah
KPK Terima Pengembalian Uang Rp 800 Juta dari Hercules Berkaitan Kasus Suap HGB Summarecon
Prediksi Skor Le Mans vs Toulouse: Duel Seru Tim Papan Bawah Demi Lolos Zona Degradasi
Prediksi Skor Garudayaksa vs Arema FC: Produktivitas Singo Edan Jadi Ancaman Bagi Tuan Rumah

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022