seseorang yang tumbuh cepat saat anak-anak./Freepik/Lifestylememory
JawaPos.com - Tidak semua orang mendapatkan kesempatan untuk menikmati masa kanak-kanak dengan santai. Sebagian justru harus menghadapi berbagai tanggung jawab sejak usia dini, seperti mengurus diri sendiri, menjaga saudara, atau menjadi penengah ketika terjadi masalah di dalam keluarga.
Pengalaman tersebut dapat membuat seorang anak belajar menjadi mandiri jauh lebih cepat dibandingkan teman-teman seusianya. Di satu sisi, kondisi ini bisa membentuk pribadi yang tangguh dan bertanggung jawab. Namun di sisi lain, pengalaman tersebut juga dapat meninggalkan pola perilaku yang terbawa sampai mereka dewasa.
Dalam psikologi, pengalaman ketika anak mengambil tanggung jawab yang seharusnya menjadi peran orang dewasa sering dikaitkan dengan istilah parentifikasi. Dampaknya bisa berbeda pada setiap orang, tetapi pengalaman tersebut dapat memengaruhi cara seseorang menghadapi hubungan, emosi, pekerjaan, hingga dirinya sendiri.
Dilansir dari Geediting, orang yang terbiasa tumbuh terlalu cepat cenderung membawa sejumlah kebiasaan tertentu hingga dewasa. Berikut delapan perilaku yang mungkin terbentuk dari pengalaman tersebut.
Sejak kecil, mereka terbiasa menjadi orang yang menyelesaikan masalah, bukan pihak yang meminta bantuan. Akibatnya, ketika sudah dewasa, meminta pertolongan kepada orang lain bisa terasa sangat tidak nyaman.
Bahkan saat sedang kelelahan atau menghadapi masalah berat, mereka cenderung memilih mengatasinya sendiri. Padahal, menerima bantuan bukan berarti tidak mampu, melainkan bagian dari hubungan yang sehat.
Ketika melihat seseorang marah, sedih, atau sedang menghadapi konflik, mereka biasanya langsung berusaha membuat keadaan kembali tenang.
Kemampuan membaca ekspresi, nada bicara, dan suasana hati orang lain dapat berkembang sangat kuat karena sejak kecil mereka terbiasa memperhatikan kondisi emosional di rumah.
Sayangnya, kebiasaan ini terkadang membuat mereka lebih sibuk menjaga perasaan orang lain daripada memperhatikan kondisi dirinya sendiri.
Bagi sebagian orang yang tumbuh terlalu cepat, waktu istirahat justru dapat menimbulkan rasa tidak nyaman. Mereka merasa harus selalu melakukan sesuatu agar dirinya tetap berguna.
Produktivitas akhirnya menjadi ukuran harga diri. Ketika tidak bekerja atau menghasilkan sesuatu, mereka dapat merasa bersalah atau menganggap dirinya tidak cukup baik.
Padahal, beristirahat bukanlah tanda kemalasan. Tubuh dan pikiran juga membutuhkan waktu untuk berhenti sejenak.
Orang yang sejak kecil terbiasa menghadapi berbagai persoalan sering terlihat sangat kuat di mata orang lain. Mereka mampu menghadapi tekanan dan jarang menunjukkan kesedihan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ketua Komisi II DPR Usulkan Gaji PNS lewat Koperasi Hanya untuk Pegawai Pusat
Tak Hanya Bupati Klaten, KPK Juga Tangkap Kepala BPK Perwakilan Jawa Tengah
Prediksi Skor Estudiantes vs Flamengo: Panas Menuju Final Copa Libertadores
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante: Granotes Paksa Tuan Rumah Berbagi Poin
Menkop Pastikan Gaji PNS Lewat Koperasi Mulai Tahun Ini, Tak Perlu Tunggu 2027
Prediksi Skor Garudayaksa FC vs Arema FC: Singo Edan Kembali ke Jalur Kemenangan
Prediksi Skor Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga: Lini Pertahanan Rapuh Jadi Ancaman Tuan Rumah
KPK Terima Pengembalian Uang Rp 800 Juta dari Hercules Berkaitan Kasus Suap HGB Summarecon
Prediksi Skor Le Mans vs Toulouse: Duel Seru Tim Papan Bawah Demi Lolos Zona Degradasi
Prediksi Skor Garudayaksa vs Arema FC: Produktivitas Singo Edan Jadi Ancaman Bagi Tuan Rumah

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022