Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 28 September 2026 | 21.18 WIB

6 Alasan Mengurangi Stres Dapat Membantu Mengurangi Impulsivitas Menurut Psikologi, Apa Sajakah Itu?

seseorang yang mengurangi stres / foto: Magnific/prostock-studio

 

JawaPos.com - Pernahkah kamu melakukan sesuatu secara spontan ketika sedang berada di bawah tekanan, lalu menyesalinya setelah keadaan menjadi lebih tenang?

Mungkin kamu membeli sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan karena sedang merasa tertekan. Mungkin kamu membalas pesan dengan emosi, makan secara berlebihan, mengambil keputusan tanpa memikirkan konsekuensinya, atau mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin kamu katakan.

Perilaku seperti ini sering disebut impulsivitas, yaitu kecenderungan untuk bertindak dengan cepat berdasarkan dorongan sesaat tanpa mempertimbangkan konsekuensi secara memadai.

Impulsivitas bukan selalu sesuatu yang buruk. Dalam situasi tertentu, kemampuan merespons dengan cepat justru dapat membantu. Namun, ketika seseorang terlalu sering bertindak berdasarkan dorongan sesaat, terutama ketika sedang mengalami stres, perilaku tersebut dapat menimbulkan berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Menariknya, psikologi menunjukkan bahwa stres dan impulsivitas memiliki hubungan yang cukup kompleks. Ketika tubuh dan pikiran berada dalam kondisi tertekan, kemampuan untuk mengendalikan dorongan, mempertimbangkan pilihan, dan menunda respons dapat ikut terganggu.

Karena itu, mengurangi stres bukan hanya tentang merasa lebih tenang. Mengelola stres juga dapat membantu menciptakan kondisi psikologis yang lebih mendukung pengendalian diri.

Dilansir dari Psychology Today pada MInggu (27/9), terdapat enam alasan mengapa mengurangi stres dapat membantu mengurangi impulsivitas.

1. Stres Dapat Mengurangi Kemampuan Mengendalikan Diri

Salah satu alasan utama mengapa stres dapat membuat seseorang lebih impulsif adalah karena stres dapat mengganggu fungsi yang berkaitan dengan pengendalian diri.

Dalam psikologi dan ilmu saraf, pengendalian diri berkaitan dengan kemampuan untuk menghambat respons otomatis, mempertimbangkan konsekuensi, mengatur emosi, serta memilih tindakan yang sesuai dengan tujuan jangka panjang.

Ketika sedang tenang, seseorang mungkin mampu mengatakan kepada dirinya sendiri:

"Saya sedang marah, tetapi sebaiknya saya tidak membalas pesan ini sekarang."

Namun, ketika tingkat stres meningkat, kemampuan tersebut bisa menjadi lebih sulit digunakan secara optimal.

Tekanan yang terus-menerus membuat perhatian seseorang lebih mudah tertuju pada ancaman, masalah, atau sumber ketidaknyamanan yang sedang dihadapi. Akibatnya, ruang mental untuk mempertimbangkan berbagai pilihan dapat terasa semakin sempit.

Dalam kondisi seperti ini, respons yang paling cepat dan paling mudah dilakukan dapat terasa lebih menarik daripada respons yang membutuhkan pertimbangan lebih panjang.

Misalnya, seseorang menerima kritik dari rekan kerja.

Dalam kondisi tenang, ia mungkin membaca pesan tersebut beberapa kali, memahami maksudnya, kemudian memberikan respons yang konstruktif.

Namun, jika ia sudah mengalami stres selama berhari-hari, kurang tidur, dan merasa kewalahan, kritik yang sama dapat memicu reaksi spontan. Ia mungkin langsung membalas dengan nada defensif atau marah.

Dengan mengurangi tingkat stres, seseorang memiliki peluang lebih besar untuk menciptakan jarak antara dorongan dan tindakan.

Jarak kecil tersebut sangat penting.

Karena impulsivitas sering kali terjadi ketika seseorang langsung bereaksi terhadap dorongan tanpa memberikan waktu kepada dirinya sendiri untuk mempertimbangkan konsekuensi.

Dengan kata lain, semakin tenang kondisi psikologis seseorang, semakin besar peluang untuk mengatakan:

"Saya ingin melakukan ini sekarang, tetapi apakah ini benar-benar keputusan yang ingin saya ambil?"

Kemampuan berhenti sejenak sebelum bertindak merupakan salah satu bentuk pengendalian diri yang penting.

2. Stres Membuat Otak Lebih Berorientasi pada Respons Cepat

Stres bukan hanya pengalaman emosional. Stres juga melibatkan perubahan pada sistem biologis tubuh yang membantu seseorang menghadapi tekanan.

Ketika menghadapi situasi yang dianggap mengancam atau menekan, tubuh dapat memasuki kondisi kesiapsiagaan. Perhatian menjadi lebih terfokus pada apa yang dianggap mendesak.

Dalam kondisi tertentu, mekanisme ini sangat berguna.

Bayangkan seseorang harus menghindari kendaraan yang tiba-tiba melaju ke arahnya. Ia tidak membutuhkan analisis panjang. Respons cepat justru dapat menyelamatkan dirinya.

Masalahnya muncul ketika pola respons cepat tersebut terbawa ke situasi yang sebenarnya membutuhkan pertimbangan.

Tidak semua masalah harus diselesaikan secepat mungkin.

Namun ketika seseorang terus-menerus mengalami stres, ia dapat lebih mudah terbiasa mencari solusi yang cepat untuk menghilangkan ketidaknyamanan.

Contohnya adalah seseorang yang mengalami stres pekerjaan kemudian membuka aplikasi belanja dan membeli sesuatu secara spontan.

Pembelian tersebut mungkin memberikan rasa senang atau lega untuk sementara. Tetapi setelah beberapa waktu, ia mungkin menyadari bahwa barang tersebut sebenarnya tidak dibutuhkan.

Dalam konteks ini, tindakan impulsif dapat berfungsi sebagai usaha untuk mendapatkan kelegaan emosional dengan cepat.

Hal yang sama dapat terjadi dalam berbagai bentuk:

makan ketika sedang tertekan,
bermain gim secara berlebihan,
menggunakan media sosial tanpa kendali,
membalas komentar dengan marah,
melakukan pembelian spontan,
mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan risiko,
atau mencari hiburan secara berlebihan untuk menghindari perasaan tidak nyaman.

Mengurangi stres dapat membantu seseorang keluar dari kondisi psikologis yang terlalu berorientasi pada respons cepat.

Ketika tekanan menurun, seseorang memiliki kesempatan lebih besar untuk memperlambat respons dan mempertimbangkan apakah tindakan tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhannya.

3. Stres Dapat Memperkuat Keinginan untuk Mendapatkan Kepuasan Instan

Salah satu karakteristik impulsivitas adalah kecenderungan memilih sesuatu yang memberikan kepuasan sekarang dibandingkan manfaat yang lebih besar tetapi baru diperoleh nanti.

Dalam psikologi, hal ini berkaitan dengan kemampuan melakukan delay of gratification, yaitu kemampuan menunda kepuasan demi tujuan yang lebih besar.

Contohnya sederhana.

Seseorang sedang menabung untuk membeli laptop baru. Secara rasional, ia tahu bahwa mempertahankan uang tersebut merupakan pilihan yang sesuai dengan tujuannya.

Namun, setelah menjalani hari yang sangat melelahkan, ia melihat barang yang menarik di internet.

Muncul pikiran:

"Saya pantas mendapatkan sesuatu setelah hari yang berat."

Akhirnya, ia membeli barang tersebut.

Tidak selalu ada masalah dengan membeli sesuatu sebagai bentuk penghargaan diri. Masalah muncul ketika tindakan tersebut dilakukan berulang kali sebagai respons otomatis terhadap stres dan akhirnya mengganggu tujuan jangka panjang.

Stres dapat membuat kepuasan langsung terasa semakin menarik karena seseorang ingin segera mengurangi perasaan tidak nyaman.

Inilah sebabnya mengapa tindakan impulsif terkadang terasa sangat meyakinkan ketika sedang dilakukan.

Bukan karena seseorang tidak mengetahui konsekuensinya.

Ia mungkin tahu konsekuensinya.

Tetapi manfaat jangka pendek terasa lebih kuat daripada pertimbangan jangka panjang.

Ketika stres berhasil dikelola, kebutuhan untuk mencari "jalan keluar" secara cepat dapat berkurang.

Seseorang mungkin tetap merasakan dorongan untuk melakukan sesuatu, tetapi ia memiliki kemampuan yang lebih baik untuk bertanya:

"Apakah saya benar-benar menginginkan ini, atau saya hanya ingin merasa lebih baik sekarang?"

Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu membedakan antara kebutuhan sebenarnya dan dorongan yang muncul sebagai respons terhadap stres.

4. Mengurangi Stres Dapat Membantu Mengatur Emosi

Impulsivitas tidak hanya berkaitan dengan keputusan rasional. Banyak tindakan impulsif muncul sebagai respons terhadap emosi yang intens.

Marah, frustrasi, cemas, bosan, kecewa, atau merasa kewalahan dapat meningkatkan dorongan untuk melakukan sesuatu secara langsung.

Misalnya, seseorang merasa sangat marah setelah mengalami konflik dengan pasangan.

Dalam keadaan emosi yang tinggi, ia mungkin ingin segera mengirim pesan panjang, mengucapkan sesuatu yang menyakitkan, atau mengambil keputusan besar mengenai hubungan tersebut.

Beberapa jam kemudian, setelah emosinya menurun, ia mungkin melihat situasinya secara berbeda.

Ini menunjukkan pentingnya regulasi emosi.

Regulasi emosi bukan berarti seseorang tidak boleh marah, sedih, kecewa, atau cemas.

Sebaliknya, regulasi emosi berarti mampu mengalami emosi tanpa selalu membiarkan emosi tersebut menentukan tindakan.

Stres kronis dapat membuat proses ini menjadi lebih sulit karena seseorang sudah berada dalam keadaan emosional yang terkuras.

Ketika kapasitas untuk menghadapi tekanan menurun, pemicu kecil pun dapat menghasilkan reaksi yang lebih besar.

Mengurangi stres dapat membantu seseorang memiliki lebih banyak sumber daya psikologis untuk menghadapi emosi yang muncul.

Misalnya, tidur yang cukup, mengambil jeda, melakukan aktivitas fisik, mengurangi beban yang tidak perlu, dan memiliki waktu pemulihan dapat membantu seseorang menghadapi tekanan sehari-hari dengan lebih baik.

Dengan kondisi emosional yang lebih stabil, seseorang tidak harus selalu mengikuti setiap dorongan yang muncul.

Ia dapat merasakan marah tanpa harus langsung menyerang.

Ia dapat merasa cemas tanpa langsung mengambil keputusan.

Ia dapat merasa ingin membeli sesuatu tanpa langsung menekan tombol "checkout".

Kemampuan untuk merasakan emosi tanpa langsung bertindak berdasarkan emosi tersebut merupakan bagian penting dari pengendalian impuls.

5. Stres yang Lebih Rendah Dapat Membantu Memperbaiki Kualitas Tidur

Hubungan antara stres, tidur, dan impulsivitas juga sangat menarik.

Stres dapat membuat seseorang sulit tidur. Pikiran terus berjalan, tubuh terasa tegang, dan masalah sehari-hari terasa sulit dihentikan bahkan ketika seseorang sudah berada di tempat tidur.

Di sisi lain, kurang tidur juga dapat membuat pengendalian diri menjadi lebih sulit.

Ketika seseorang kurang tidur, ia dapat mengalami perubahan dalam perhatian, konsentrasi, pengaturan emosi, dan kemampuan mengambil keputusan.

Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini dapat terlihat sederhana.

Seseorang yang tidur cukup mungkin mampu mengatakan:

"Saya tidak perlu membuka media sosial lagi. Besok saya harus bangun pagi."

Tetapi setelah tidur hanya beberapa jam selama beberapa malam, kemampuan untuk menahan godaan tersebut dapat terasa lebih sulit.

Hal serupa dapat terjadi pada makanan, belanja, hiburan, pekerjaan, dan berbagai aktivitas lainnya.

Karena itu, mengurangi stres dapat menciptakan efek yang saling mendukung.

Stres yang lebih rendah dapat membuat tidur lebih mudah bagi sebagian orang. Tidur yang lebih baik kemudian dapat membantu seseorang memiliki energi dan kapasitas mental yang lebih baik untuk mengendalikan respons impulsif.

Tentu saja, hubungan tersebut tidak selalu sederhana. Tidak semua masalah tidur disebabkan oleh stres, dan mengurangi stres bukan jaminan bahwa seseorang akan langsung tidur lebih baik.

Namun, menjaga rutinitas tidur yang sehat tetap merupakan salah satu bagian penting dari upaya meningkatkan kemampuan regulasi diri.

6. Mengurangi Stres Membantu Seseorang Berpikir Lebih Jernih Sebelum Bertindak

Alasan terakhir mungkin merupakan yang paling mudah diamati dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika seseorang merasa lebih tenang, ia biasanya memiliki kesempatan lebih besar untuk melihat situasi secara lebih luas.

Ia dapat mempertimbangkan:

Apa yang sebenarnya terjadi?
Apa yang sedang saya rasakan?
Mengapa saya ingin melakukan ini?
Apa konsekuensi tindakan saya?
Apakah ada pilihan lain?
Apakah keputusan ini masih terasa tepat jika saya menunggu satu jam?
Apakah tindakan ini mendukung tujuan jangka panjang saya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membutuhkan jeda psikologis.

Tanpa jeda, dorongan dapat langsung berubah menjadi tindakan.

Dengan jeda, seseorang memiliki kesempatan untuk memilih.

Inilah mengapa mengurangi stres bukan berarti seseorang harus menjadi orang yang selalu tenang atau tidak pernah memiliki dorongan impulsif.

Tujuannya bukan menghilangkan semua impuls.

Impuls merupakan bagian normal dari kehidupan manusia.

Tujuannya adalah meningkatkan kemampuan untuk menentukan impuls mana yang perlu diikuti dan mana yang sebaiknya dilewatkan.

Seseorang tetap dapat bertindak spontan ketika spontanitas memang sesuai dengan situasi.

Namun, ia juga memiliki kemampuan untuk berhenti ketika tindakan spontan tersebut berpotensi merugikan dirinya sendiri atau orang lain.

Cara Sederhana Mengurangi Stres agar Lebih Mudah Mengendalikan Impuls

Mengurangi stres tidak selalu membutuhkan perubahan besar dalam hidup.

Beberapa langkah sederhana dapat membantu menciptakan ruang antara dorongan dan tindakan.

1. Berikan jeda sebelum mengambil keputusan

Ketika muncul dorongan kuat untuk melakukan sesuatu, jangan langsung bertindak.

Cobalah menunggu beberapa menit.

Untuk keputusan yang lebih besar, berikan waktu lebih panjang.

Jeda memberi kesempatan bagi intensitas emosi untuk menurun.

2. Kenali pemicu impulsivitas

Perhatikan kapan kamu paling sering melakukan sesuatu secara impulsif.

Apakah ketika sedang:

lelah?
lapar?
marah?
cemas?
kesepian?
bosan?
mengalami tekanan pekerjaan?

Mengenali pola dapat membantu seseorang mempersiapkan strategi sebelum dorongan muncul.

3. Gunakan teknik pernapasan atau relaksasi

Pernapasan perlahan dan aktivitas relaksasi dapat membantu seseorang mengambil jarak dari respons emosional yang intens.

Tujuannya bukan menghilangkan masalah, melainkan memberi kesempatan kepada tubuh dan pikiran untuk keluar dari kondisi terlalu tegang.

4. Perbaiki pola tidur

Tidur yang cukup merupakan bagian penting dari kemampuan regulasi diri.

Jika seseorang terus-menerus kurang tidur, kemampuan menghadapi stres dan mengendalikan dorongan dapat menjadi lebih sulit.

5. Kurangi keputusan ketika sedang sangat tertekan

Tidak semua keputusan harus dibuat saat itu juga.

Jika memungkinkan, keputusan penting sebaiknya dilakukan ketika kondisi emosional sudah lebih stabil.

6. Cari cara yang lebih sehat untuk mendapatkan kelegaan

Jika seseorang biasanya menggunakan belanja, makanan, media sosial, atau perilaku lain untuk menghilangkan stres, cobalah memiliki alternatif.

Misalnya berjalan kaki, berbicara dengan orang yang dipercaya, menulis jurnal, beristirahat, melakukan aktivitas fisik, atau mengerjakan sesuatu yang memberikan rasa tenang.

Penutup

Impulsivitas tidak selalu berarti seseorang memiliki karakter yang buruk atau tidak mampu mengendalikan diri.

Sering kali, perilaku impulsif merupakan hasil interaksi antara emosi, kondisi tubuh, lingkungan, kebiasaan, dan kemampuan regulasi diri pada saat tertentu.

Stres dapat membuat tantangan tersebut menjadi lebih besar.

Ketika seseorang berada dalam tekanan yang tinggi, ia mungkin lebih mudah mencari kepuasan instan, bereaksi secara emosional, mengambil keputusan secara cepat, atau kesulitan mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang.

Karena itu, mengurangi stres dapat menjadi salah satu cara untuk menciptakan kondisi yang lebih mendukung pengendalian impuls.

Yang perlu diingat, tujuannya bukan menjadi seseorang yang tidak pernah memiliki dorongan spontan.

Tujuannya adalah memiliki cukup ruang antara dorongan dan tindakan sehingga kita dapat memilih respons dengan lebih sadar.

Terkadang, perubahan terbesar bukan berasal dari kemampuan untuk menghilangkan sebuah dorongan, tetapi dari kemampuan untuk berhenti sejenak sebelum mengikutinya.

Dan dalam jeda singkat itulah, seseorang mendapatkan kembali kesempatan untuk memilih.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore