seseorang yang kehilangan hewan peliharaan / foto: Magnific/krakenimages.com
Kesedihan setelah kehilangan hewan peliharaan bukanlah sesuatu yang berlebihan. Dalam psikologi, kehilangan hewan yang memiliki ikatan emosional kuat dengan pemiliknya dapat memicu proses duka yang nyata. Intensitasnya bisa berbeda pada setiap orang, tetapi perasaan sedih, hampa, rindu, kehilangan motivasi, bahkan sulit menerima kenyataan dapat muncul setelah kematian hewan kesayangan.
Hal ini masuk akal karena hubungan manusia dengan hewan peliharaan bukan sekadar hubungan antara seseorang dan makhluk yang dirawat. Dalam banyak keluarga, hewan peliharaan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, sumber kenyamanan emosional, teman ketika sedang sendirian, bahkan dianggap sebagai anggota keluarga.
Lantas, mengapa kematian hewan peliharaan bisa begitu menghancurkan hati pemiliknya?
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (27/9), terdapat tujuh alasan yang dapat menjelaskannya dari sudut pandang psikologi.
1. Hewan peliharaan dapat menjadi bagian dari ikatan emosional yang sangat kuat
Manusia memiliki kebutuhan alami untuk membangun ikatan dengan makhluk lain. Ikatan tersebut tidak hanya terbentuk dengan pasangan, keluarga, atau teman, tetapi juga dapat terbentuk dengan hewan.
Dalam psikologi, konsep attachment atau keterikatan menjelaskan bagaimana seseorang dapat membangun hubungan emosional yang kuat dengan sosok yang dianggap memberikan rasa aman, kedekatan, dan kenyamanan.
Hewan peliharaan dapat menjadi bagian dari sistem keterikatan tersebut.
Seekor anjing, misalnya, mungkin selalu menyambut pemiliknya ketika pulang. Seekor kucing mungkin tidur di dekat pemiliknya setiap malam. Burung mungkin memiliki kebiasaan tertentu yang membuat rumah terasa hidup. Bahkan hewan kecil seperti hamster atau kelinci dapat memiliki rutinitas interaksi yang membuat pemiliknya merasa dekat secara emosional.
Karena interaksi tersebut terjadi berulang kali, hubungan itu semakin kuat.
Pemilik tidak hanya mengingat hewan tersebut sebagai "peliharaan", tetapi sebagai individu dengan kepribadian, kebiasaan, ekspresi, dan karakter yang unik.
Ketika hewan tersebut meninggal, yang hilang bukan hanya keberadaan fisiknya.
Yang hilang adalah hubungan.
Itulah sebabnya seseorang dapat merasakan kesedihan yang sangat dalam meskipun orang lain mungkin tidak memahami mengapa kehilangan tersebut terasa begitu berat.
Semakin kuat ikatan emosional yang terbentuk, semakin besar pula kemungkinan kehilangan tersebut menimbulkan kesedihan.
2. Hewan peliharaan sering menjadi bagian dari rutinitas kehidupan sehari-hari
Salah satu hal yang membuat kehilangan terasa sangat nyata adalah perubahan rutinitas.
Selama bertahun-tahun, kehidupan pemilik mungkin diatur oleh keberadaan hewan peliharaannya.
Bangun pagi untuk memberi makan.
Membersihkan kandang.
Mengajak anjing berjalan-jalan.
Mengisi tempat minum.
Menyisir bulu.
Bermain beberapa menit sebelum tidur.
Membuka pintu kamar karena kucing mengeong.
Semua aktivitas tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, dilakukan setiap hari selama bertahun-tahun, aktivitas itu menjadi bagian dari struktur kehidupan seseorang.
Ketika hewan tersebut meninggal, rutinitas yang sebelumnya terasa otomatis tiba-tiba berhenti.
Pemilik mungkin masih secara spontan mengambil wadah makanan, kemudian menyadari bahwa tidak ada lagi yang perlu diberi makan.
Seseorang mungkin membuka pintu rumah dan secara refleks menunggu hewan kesayangannya datang menyambut.
Ada pula orang yang masih terbiasa melihat ke tempat tidur atau sudut ruangan tempat hewan tersebut biasanya berada.
Secara psikologis, perubahan seperti ini dapat memperkuat pengalaman kehilangan.
Kesedihan bukan hanya muncul karena "dia sudah tidak ada", tetapi juga karena begitu banyak aktivitas sehari-hari yang selama ini berkaitan dengannya tiba-tiba kehilangan makna.
Dengan kata lain, kematian hewan peliharaan dapat mengubah struktur kehidupan sehari-hari pemiliknya.
3. Hewan peliharaan sering menjadi sumber kenyamanan emosional
Banyak orang berinteraksi dengan hewan peliharaan ketika sedang mengalami stres, kesepian, kecemasan, atau kelelahan.
Menariknya, interaksi tersebut tidak selalu membutuhkan percakapan.
Seseorang mungkin hanya duduk di sofa sambil mengelus kucingnya.
Atau berbaring di samping anjing setelah melewati hari yang melelahkan.
Ada pula orang yang berbicara kepada hewan peliharaannya ketika sedang menghadapi masalah, meskipun tahu bahwa hewan tersebut tidak memahami seluruh isi pembicaraannya.
Namun, keberadaan hewan tersebut memberikan rasa ditemani.
Bagi sebagian orang, hewan peliharaan menjadi salah satu tempat paling aman untuk mengekspresikan emosi tanpa takut dihakimi.
Karena itu, ketika hewan tersebut meninggal, pemilik kehilangan salah satu sumber kenyamanan emosional yang sudah menjadi bagian dari kehidupannya.
Kesedihan yang muncul bukan hanya tentang kehilangan makhluk yang disayangi, tetapi juga tentang kehilangan sebuah sumber rasa nyaman.
Inilah salah satu alasan mengapa setelah kematian hewan peliharaan, seseorang mungkin merasa lebih kesepian daripada yang diperkirakan sebelumnya.
4. Hewan peliharaan sering menjadi saksi berbagai fase kehidupan pemiliknya
Ada hewan peliharaan yang hidup bersama seseorang selama lima, sepuluh, bahkan belasan tahun.
Dalam periode sepanjang itu, kehidupan pemilik tentu mengalami banyak perubahan.
Mungkin seseorang pindah rumah.
Lulus sekolah atau kuliah.
Mendapat pekerjaan.
Mengalami kegagalan dalam hubungan.
Menikah.
Memiliki anak.
Berganti pekerjaan.
Menghadapi masa sulit.
Atau melewati periode kehidupan yang sangat bahagia.
Dan selama semua itu terjadi, hewan peliharaan tetap ada.
Karena itu, hewan tersebut secara tidak langsung menjadi "saksi" perjalanan hidup pemiliknya.
Ketika hewan itu meninggal, pemilik tidak hanya kehilangan kondisi saat ini. Ia juga bisa merasa seolah kehilangan salah satu bagian dari sejarah hidupnya.
Kenangan tentang masa lalu sering kali ikut muncul.
Misalnya, seseorang melihat foto ketika hewan tersebut masih kecil.
Tiba-tiba ia teringat rumah lama.
Teringat masa kuliah.
Teringat anggota keluarga yang dulu masih tinggal bersamanya.
Teringat masa ketika hidup terasa berbeda.
Akibatnya, satu kehilangan dapat membuka begitu banyak kenangan sekaligus.
Inilah yang terkadang membuat rasa duka terasa lebih besar daripada yang diperkirakan.
5. Kehilangan hewan peliharaan dapat membuat rumah terasa sangat berbeda
Rumah bukan hanya bangunan.
Secara psikologis, rumah juga merupakan ruang yang dipenuhi kebiasaan, kenangan, dan makna emosional.
Hewan peliharaan menjadi bagian dari suasana tersebut.
Ada suara kuku anjing berjalan di lantai.
Ada suara kucing mengeong.
Ada suara burung di pagi hari.
Ada kandang di sudut ruangan.
Ada mainan di lantai.
Ada tempat tidur kecil di dekat sofa.
Ada mangkuk makanan yang selalu berada di tempat yang sama.
Ketika hewan tersebut meninggal, perubahan fisik di rumah dapat menjadi pengingat kehilangan.
Tempat yang sebelumnya biasa saja menjadi pemicu emosi.
Pemilik mungkin melihat sofa dan teringat kucing yang selalu tidur di sana.
Melihat pintu dan teringat anjing yang selalu menunggu di baliknya.
Melihat mainan lama dan tiba-tiba merasa sedih.
Dalam psikologi, lingkungan kita memang dapat menjadi pemicu ingatan dan emosi. Karena itu, seseorang bisa mengalami gelombang kesedihan hanya karena melihat benda yang berkaitan dengan hewan yang telah meninggal.
Tidak mengherankan jika rumah yang sama dapat terasa sangat berbeda setelah kehilangan.
Secara fisik tidak banyak yang berubah.
Tetapi secara emosional, semuanya terasa berbeda.
6. Duka karena kehilangan hewan terkadang kurang dipahami oleh lingkungan sekitar
Ada aspek lain yang membuat kehilangan hewan peliharaan terasa semakin berat: tidak semua orang menganggapnya sebagai kehilangan yang serius.
Seseorang mungkin berkata,
"Itu kan cuma hewan."
"Kalau mau, nanti bisa beli lagi."
"Jangan terlalu sedih."
"Namanya juga hewan, memang akhirnya akan mati."
Meskipun kalimat tersebut mungkin dimaksudkan untuk menghibur, bagi orang yang sedang berduka, ucapan seperti itu dapat terasa menyakitkan.
Mengapa?
Karena pengalaman emosional seseorang seolah-olah dianggap tidak valid.
Padahal, tingkat kesedihan tidak ditentukan hanya oleh status biologis makhluk yang meninggal.
Yang menentukan antara lain adalah seberapa kuat hubungan tersebut, seberapa besar peran makhluk tersebut dalam kehidupan seseorang, dan seberapa penting hubungan itu secara emosional.
Kondisi ketika seseorang merasa dukanya tidak dipahami atau tidak mendapatkan pengakuan sosial sering disebut sebagai disenfranchised grief, yaitu duka yang kurang mendapatkan pengakuan atau dukungan sosial yang memadai.
Dalam situasi seperti ini, seseorang mungkin bukan hanya merasa sedih karena hewan peliharaannya meninggal.
Ia juga bisa merasa sendirian dalam menghadapi kesedihan tersebut.
Karena itu, dukungan dari orang-orang terdekat sangat penting.
Kalimat sederhana seperti, "Aku tahu kamu sangat menyayanginya," terkadang jauh lebih membantu daripada mencoba membuat orang tersebut segera berhenti bersedih.
7. Kematian hewan peliharaan mengingatkan manusia pada kenyataan bahwa semua kehidupan memiliki batas
Ada alasan yang lebih mendalam mengapa kematian hewan peliharaan dapat terasa begitu menyakitkan.
Kehilangan sering membuat manusia berhadapan langsung dengan kenyataan tentang kematian.
Ketika seseorang hidup bersama hewan selama bertahun-tahun, mungkin muncul perasaan bahwa kehidupan akan terus berjalan seperti biasa.
Kemudian suatu hari hewan tersebut sakit, menua, atau meninggal.
Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa waktu terus berjalan dan setiap kehidupan memiliki batas.
Bagi sebagian orang, kematian hewan kesayangan juga dapat memunculkan kesadaran tentang kematian anggota keluarga atau orang-orang yang mereka cintai.
Karena itu, kesedihan terkadang terasa lebih luas daripada kehilangan satu hewan.
Ia dapat membuat seseorang merenungkan waktu, usia, kenangan, dan hubungan dengan orang-orang yang masih hidup.
Pada titik ini, duka bukan hanya tentang masa lalu.
Duka juga dapat membuat seseorang memikirkan masa depan.
Mengapa Kesedihan Bisa Datang dalam Bentuk yang Berbeda-beda?
Tidak semua orang mengalami duka dengan cara yang sama.
Ada orang yang langsung menangis setelah kehilangan hewan peliharaan.
Ada yang justru merasa mati rasa.
Ada yang terlihat baik-baik saja selama beberapa hari, lalu tiba-tiba menangis ketika melihat foto lama.
Ada yang kehilangan nafsu makan.
Ada yang merasa sulit tidur.
Ada yang terus memikirkan hari-hari terakhir hewan tersebut.
Ada pula yang merasa bersalah dan terus bertanya-tanya apakah mereka sudah melakukan cukup banyak untuk menyelamatkannya.
Semua pengalaman tersebut dapat muncul dalam proses berduka.
Duka juga tidak selalu berlangsung secara linear.
Seseorang bisa merasa sudah mulai membaik, kemudian tiba-tiba mengalami kesedihan yang sangat kuat setelah mendengar suara, melihat foto, mencium aroma tertentu, atau melewati tempat yang mengingatkan pada hewan tersebut.
Hal ini tidak berarti orang tersebut "kembali ke titik nol".
Proses berduka memang dapat naik turun.
Rasa bersalah setelah kematian hewan peliharaan
Salah satu pengalaman yang cukup umum dalam kehilangan hewan adalah rasa bersalah.
Pemilik mungkin berpikir:
"Seandainya aku membawanya ke dokter lebih cepat."
"Seandainya aku menyadari gejalanya."
"Seandainya aku memilih pengobatan yang berbeda."
"Seandainya aku menghabiskan lebih banyak waktu dengannya."
Pertanyaan seperti ini bisa muncul terutama ketika kematian terjadi setelah sakit atau keputusan medis yang sulit.
Manusia cenderung mencari penjelasan setelah mengalami kehilangan.
Sayangnya, pencarian tersebut terkadang berubah menjadi menyalahkan diri sendiri.
Padahal, keputusan yang dibuat pada masa lalu selalu dibuat berdasarkan informasi, kondisi, sumber daya, dan pilihan yang tersedia pada saat itu.
Memahami hal tersebut dapat membantu seseorang melihat bahwa rasa bersalah tidak selalu berarti ia benar-benar bersalah.
Terkadang rasa bersalah merupakan bagian dari proses mencoba memahami kehilangan.
Apakah Wajar Jika Seseorang Menangisi Hewan Peliharaannya Bertahun-tahun Kemudian?
Kenangan tentang hewan yang telah meninggal dapat bertahan sangat lama.
Seseorang mungkin sudah kembali menjalani aktivitas normal, tetapi tetap merasa emosional ketika melihat foto lama.
Hal tersebut tidak otomatis berarti proses berduka tidak sehat.
Tujuan dari proses berduka bukanlah melupakan hewan yang telah meninggal.
Yang lebih realistis adalah belajar menjalani kehidupan sambil menerima kenyataan bahwa hubungan tersebut telah berubah.
Kenangan dapat tetap ada tanpa harus selalu menghasilkan rasa sakit yang sama kuatnya.
Seiring waktu, bagi sebagian orang, kenangan yang awalnya menyakitkan dapat berubah menjadi sesuatu yang lebih hangat.
Foto yang dulu membuat menangis mungkin suatu hari justru membuat tersenyum.
Nama yang dulu terasa berat untuk disebut mungkin kemudian menjadi bagian dari cerita indah tentang kehidupan yang pernah dibagikan bersama.
Dengan kata lain, sembuh dari duka bukan berarti melupakan.
Bagaimana Cara Menghadapi Kehilangan Hewan Peliharaan?
Tidak ada satu cara yang berlaku untuk semua orang. Namun, beberapa hal dapat membantu.
1. Izinkan diri sendiri untuk berduka
Tidak perlu merasa malu karena menangisi hewan peliharaan.
Kesedihan menunjukkan bahwa hubungan tersebut memiliki arti.
2. Ceritakan kenangan kepada orang yang memahami
Berbicara dengan orang yang tidak meremehkan hubungan tersebut dapat membantu.
Ceritakan kebiasaan lucunya, momen favorit, atau pengalaman yang pernah dilalui bersama.
3. Simpan kenangan dengan cara yang bermakna
Sebagian orang merasa terbantu dengan menyimpan foto, membuat album, menulis surat perpisahan, atau membuat tempat kecil untuk mengenang hewan tersebut.
4. Jangan terburu-buru menggantikan hewan yang telah meninggal
Memelihara hewan baru dapat menjadi pengalaman positif bagi sebagian orang, tetapi keputusan tersebut sebaiknya tidak dipaksakan.
Hewan baru bukan pengganti hewan yang telah meninggal.
Setiap hewan memiliki kepribadian dan hubungan yang berbeda.
5. Tetap menjaga kebutuhan dasar diri sendiri
Saat berduka, seseorang mungkin kehilangan selera makan, sulit tidur, atau tidak memiliki energi.
Tetap berusaha makan, tidur, bergerak, dan menjalankan aktivitas dasar dapat membantu tubuh melewati periode emosional yang berat.
6. Pertimbangkan bantuan profesional jika kesedihan terasa sangat berat atau menetap
Kesedihan adalah bagian alami dari kehilangan. Namun, jika seseorang merasa tidak mampu menjalankan kehidupan sehari-hari, mengalami gangguan fungsi yang berat, atau merasa membutuhkan bantuan untuk menghadapi kehilangan tersebut, berbicara dengan psikolog atau profesional kesehatan mental dapat menjadi pilihan yang tepat.
Meminta bantuan bukan berarti seseorang terlalu lemah untuk menghadapi kehilangan.
Justru, itu dapat menjadi cara untuk merawat diri ketika beban emosional terasa terlalu berat.
Pada Akhirnya, Hewan Peliharaan Tidak Hanya "Tinggal di Rumah"
Mereka menjadi bagian dari kehidupan.
Mereka hadir ketika seseorang bangun tidur.
Mereka menemani hari-hari biasa.
Mereka hadir ketika pemilik sedang bahagia maupun ketika sedang menghadapi masa sulit.
Mereka menjadi bagian dari rutinitas, rumah, kenangan, dan pengalaman sehari-hari.
Karena itulah kematian hewan peliharaan dapat terasa seperti kehilangan bagian dari kehidupan seseorang.
Kesedihan yang muncul bukan tanda bahwa seseorang terlalu sensitif.
Sering kali, kesedihan tersebut justru menunjukkan betapa pentingnya hubungan yang pernah dimiliki.
Pada akhirnya, kehilangan memang tidak bisa dihapus begitu saja. Tetapi hubungan yang pernah dijalani tidak harus hilang bersama kematian.
Ia dapat tetap hidup dalam bentuk kenangan, kebiasaan, cerita, foto, dan rasa kasih sayang yang pernah diberikan.
Mungkin suatu hari rasa sakit itu tidak lagi terasa seperti luka terbuka.
Ia berubah menjadi sebuah kenangan yang membuat seseorang tersenyum sambil berkata dalam hati:
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ketua Komisi II DPR Usulkan Gaji PNS lewat Koperasi Hanya untuk Pegawai Pusat
Tak Hanya Bupati Klaten, KPK Juga Tangkap Kepala BPK Perwakilan Jawa Tengah
Prediksi Skor Estudiantes vs Flamengo: Panas Menuju Final Copa Libertadores
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante: Granotes Paksa Tuan Rumah Berbagi Poin
Menkop Pastikan Gaji PNS Lewat Koperasi Mulai Tahun Ini, Tak Perlu Tunggu 2027
Prediksi Skor Garudayaksa FC vs Arema FC: Singo Edan Kembali ke Jalur Kemenangan
Prediksi Skor Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga: Lini Pertahanan Rapuh Jadi Ancaman Tuan Rumah
KPK Terima Pengembalian Uang Rp 800 Juta dari Hercules Berkaitan Kasus Suap HGB Summarecon
Prediksi Skor Le Mans vs Toulouse: Duel Seru Tim Papan Bawah Demi Lolos Zona Degradasi
Prediksi Skor Garudayaksa vs Arema FC: Produktivitas Singo Edan Jadi Ancaman Bagi Tuan Rumah

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022