Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 24 September 2026 | 03.21 WIB

7 Alasan Mengapa “Third Space” Tempat yang Sangat Bagus untuk Menemukan Cinta Menurut Psikologi

seseorang yang menemukan cinta di tempat baru / foto: Magnific/magnific

 

JawaPos.com - Pernahkah kamu bertemu seseorang di sebuah tempat yang sebenarnya bukan rumah, bukan pula tempat kerja, tetapi justru terasa begitu nyaman untuk berbincang?

Mungkin di sebuah kedai kopi langganan. Di perpustakaan. Di taman kota. Di tempat olahraga. Di komunitas hobi. Atau bahkan di sebuah toko buku yang sering kamu datangi.

Tempat-tempat seperti ini sering disebut sebagai “third space” atau “third place”—ruang sosial yang berada di luar rumah dan tempat kerja, tempat orang bisa berkumpul, bersosialisasi, berinteraksi, dan membangun hubungan secara lebih santai.

Menariknya, ruang seperti ini bukan hanya menyenangkan untuk menghabiskan waktu. Dalam perspektif psikologi sosial, lingkungan semacam itu juga memiliki sejumlah karakteristik yang dapat mempermudah terbentuknya kedekatan interpersonal.

Bukan berarti pergi ke kafe atau bergabung dengan komunitas tertentu otomatis membuat seseorang menemukan pasangan. Namun, third space menciptakan kondisi yang memungkinkan orang bertemu berulang kali, berbicara secara alami, memperlihatkan kepribadian mereka, dan membangun rasa akrab secara bertahap.

Lalu, mengapa tempat seperti ini bisa menjadi lingkungan yang menarik untuk menemukan cinta?

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (23/9), terdapat tujuh alasannya.

1. Kamu Bisa Bertemu Orang yang Sama Berulang Kali

Salah satu hal yang sangat penting dalam pembentukan ketertarikan adalah paparan berulang.

Dalam psikologi sosial, terdapat fenomena yang dikenal sebagai mere exposure effect. Secara sederhana, semakin sering kita terpapar pada seseorang atau sesuatu, semakin besar kemungkinan kita merasa familiar dan nyaman dengannya—meskipun tentu saja efek ini tidak selalu menghasilkan ketertarikan romantis.

Bayangkan kamu rutin datang ke sebuah kedai kopi setiap Sabtu pagi.

Pada minggu pertama, kamu melihat seseorang yang sering membaca buku di meja dekat jendela.

Minggu kedua, kamu melihatnya lagi.

Minggu ketiga, kalian mungkin mulai saling tersenyum.

Minggu keempat, salah satu dari kalian mungkin berkata, “Kamu sering datang pagi-pagi juga, ya?”

Tidak ada satu momen dramatis.

Tidak ada adegan seperti di film romantis.

Namun, hubungan bisa mulai terbentuk melalui serangkaian interaksi kecil.

Inilah salah satu kelebihan third space.

Berbeda dengan pertemuan singkat dengan orang asing di transportasi umum atau acara sekali datang, third space memungkinkan kontak sosial yang berulang.

Kamu tidak perlu langsung memikirkan, “Apakah orang ini cocok menjadi pasangan saya?”

Kamu cukup hadir.

Kemudian bertemu lagi.

Dan lagi.

Seiring waktu, seseorang yang awalnya benar-benar asing dapat berubah menjadi wajah yang familiar.

Familiaritas tersebut dapat mengurangi jarak psikologis.

Dan ketika interaksi positif mulai terjadi, rasa nyaman bisa berkembang menjadi ketertarikan.

Tetapi ada satu hal penting

Paparan berulang bukan berarti semakin sering melihat seseorang pasti membuat kita jatuh cinta.

Jika interaksinya negatif, memaksa, atau tidak menyenangkan, efeknya bisa berbeda.

Jadi, yang penting bukan sekadar sering bertemu, tetapi juga bagaimana kualitas interaksi yang terjadi.

2. Kamu Bisa Melihat Kepribadian Seseorang dalam Situasi yang Lebih Alami

Ketika seseorang sedang berada dalam situasi kencan formal, mereka mungkin sadar bahwa dirinya sedang dinilai.

Akibatnya, mereka bisa saja berusaha menampilkan versi terbaik dari dirinya.

Itu bukan selalu sesuatu yang buruk.

Hampir semua orang melakukan impression management sampai tingkat tertentu.

Namun, ada perbedaan ketika kamu mengenal seseorang dalam konteks sehari-hari.

Misalnya, kamu bertemu seseorang di komunitas membaca.

Kamu mungkin melihat bagaimana dia berbicara kepada anggota baru.

Kamu melihat bagaimana dia merespons ketika pendapatnya berbeda dengan orang lain.

Kamu melihat apakah dia mendengarkan ketika orang lain berbicara.

Atau ketika berada di komunitas olahraga, kamu mungkin melihat bagaimana dia memperlakukan orang lain ketika kalah.

Hal-hal kecil seperti itu dapat memberikan informasi tentang perilaku seseorang yang sulit terlihat dalam percakapan kencan yang sangat terstruktur.

Dalam psikologi sosial, perilaku nyata dalam berbagai situasi memang dapat menjadi sumber informasi mengenai karakteristik seseorang.

Karena itu, third space dapat memberikan kesempatan untuk mengenal seseorang bukan hanya dari apa yang dia katakan tentang dirinya, tetapi juga dari bagaimana dia berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya.

Dan ini sangat penting.

Sebab dalam hubungan jangka panjang, yang kita hadapi bukan hanya cerita seseorang tentang dirinya.

Kita juga berhadapan dengan kebiasaan, cara berkomunikasi, cara memperlakukan orang lain, serta cara menghadapi situasi sehari-hari.

3. Percakapan Bisa Dimulai Tanpa Tekanan “Harus Punya Chemistry”

Salah satu hal yang membuat sebagian orang tidak nyaman dengan kencan adalah adanya tekanan.

Ketika dua orang bertemu melalui aplikasi kencan, misalnya, konteksnya sudah cukup jelas:

kalian bertemu untuk mempertimbangkan kemungkinan hubungan romantis.

Itu bisa menyenangkan.

Tetapi bagi sebagian orang, konteks tersebut juga menciptakan tekanan.

Mereka mungkin berpikir:

“Apakah dia menyukaiku?”

“Aku harus mengatakan apa?”

“Apakah aku terlihat menarik?”

“Apakah ini akan menjadi hubungan?”

Third space menawarkan konteks yang berbeda.

Kamu bisa bertemu seseorang tanpa harus langsung mengubah interaksi tersebut menjadi kencan.

Misalnya:

“Kamu sudah pernah ikut kelas ini sebelumnya?”

“Buku yang kamu baca bagus?”

“Biasanya kamu latihan di hari apa?”

“Menurutmu acara tadi bagaimana?”

Pertanyaan sederhana seperti itu dapat menjadi pintu masuk menuju percakapan yang lebih panjang.

Yang menarik, hubungan romantis sering kali tidak dimulai dengan deklarasi besar.

Kadang-kadang ia dimulai dari percakapan yang sangat biasa.

Kemudian percakapan berikutnya.

Kemudian lelucon kecil.

Kemudian rasa nyaman.

Kemudian keinginan untuk bertemu lagi.

Third space memberi ruang bagi proses tersebut untuk berkembang secara bertahap.

4. Kamu Berpotensi Menemukan Orang yang Memiliki Minat atau Nilai yang Mirip

Bayangkan kamu bergabung dengan komunitas fotografi.

Orang-orang yang datang ke sana kemungkinan besar sudah memiliki setidaknya satu ketertarikan yang sama: fotografi.

Begitu pula jika kamu bergabung dengan klub lari, kelas memasak, komunitas bahasa, kegiatan sukarela, klub buku, atau kelompok musik.

Kamu sudah memiliki titik persamaan awal.

Dalam psikologi sosial, kesamaan atau similarity merupakan salah satu faktor yang sering dikaitkan dengan ketertarikan interpersonal.

Mengapa?

Karena kesamaan dapat membuat interaksi terasa lebih mudah.

Kamu tidak perlu memulai dari nol.

Ada topik yang bisa dibicarakan.

Ada pengalaman yang bisa dibagikan.

Ada aktivitas yang dapat dilakukan bersama.

Dan terkadang, kesamaan aktivitas tersebut membuka kesempatan untuk menemukan kesamaan yang lebih dalam.

Awalnya:

“Kita sama-sama suka hiking.”

Kemudian:

“Kita ternyata sama-sama suka bepergian ke tempat yang tenang.”

Kemudian:

“Kita sama-sama lebih nyaman dengan kelompok kecil.”

Kemudian:

“Ternyata cara kita melihat hubungan juga mirip.”

Namun, penting untuk tidak menyamakan kesamaan minat dengan kecocokan romantis.

Dua orang yang sama-sama menyukai kopi belum tentu cocok menjalani hubungan.

Sebaliknya, dua orang dengan hobi berbeda juga bisa memiliki hubungan yang sangat baik.

Jadi, kesamaan adalah salah satu kemungkinan jembatan menuju kedekatan, bukan jaminan keberhasilan hubungan.

5. Hubungan Bisa Berkembang dari “Teman” Menjadi Sesuatu yang Lebih Dalam

Tidak semua hubungan romantis dimulai dengan ketertarikan yang langsung terasa kuat.

Ada kalanya ketertarikan berkembang setelah seseorang mengenal kita lebih jauh.

Inilah salah satu alasan mengapa third space menarik.

Lingkungan sosial semacam ini memungkinkan hubungan berkembang melalui beberapa tahap:

orang asing → kenalan → teman → teman dekat → pasangan

Tentu saja tidak semua hubungan akan mengikuti urutan tersebut.

Namun, proses bertahap memberi seseorang kesempatan untuk membangun kepercayaan dan rasa aman sebelum memasuki hubungan romantis.

Misalnya, kamu rutin mengikuti komunitas tertentu.

Awalnya kamu hanya mengenal seseorang sebagai “orang yang selalu datang pada hari Sabtu”.

Beberapa minggu kemudian kalian mulai mengobrol.

Beberapa bulan kemudian kalian menjadi teman.

Kamu mulai mengetahui kehidupannya.

Dia mulai mengetahui kehidupanmu.

Ada pengalaman bersama.

Ada cerita pribadi yang mulai dibagikan.

Ada candaan yang hanya kalian berdua pahami.

Semua itu dapat menciptakan rasa kedekatan.

Dan terkadang, dari kedekatan itulah muncul pertanyaan:

“Jangan-jangan aku mulai menyukainya?”

Hubungan yang berkembang secara perlahan juga memberikan kesempatan bagi kedua orang untuk melihat apakah rasa nyaman tersebut benar-benar timbal balik.

6. Kamu Tidak Hanya Mencari Pasangan, Tetapi Juga Membangun Kehidupan Sosial

Ini mungkin alasan yang paling sering dilupakan.

Jika tujuanmu pergi ke sebuah tempat hanyalah “mencari pasangan”, setiap interaksi yang tidak menghasilkan hubungan romantis bisa terasa seperti kegagalan.

Tetapi third space bekerja dengan cara yang berbeda.

Kamu datang karena memang menyukai aktivitasnya.

Kamu datang karena ingin membaca.

Berolahraga.

Belajar.

Bermain musik.

Bertemu teman.

Mengikuti kegiatan komunitas.

Atau sekadar menikmati suasana.

Artinya, bahkan jika kamu tidak menemukan pasangan, kamu tetap memperoleh sesuatu.

Kamu mungkin mendapatkan teman baru.

Menemukan hobi.

Memperluas jaringan sosial.

Meningkatkan keterampilan.

Atau sekadar memiliki tempat untuk merasa menjadi bagian dari sebuah komunitas.

Secara psikologis, hal ini penting.

Hubungan romantis seharusnya tidak menjadi satu-satunya sumber koneksi sosial dalam kehidupan seseorang.

Justru kehidupan sosial yang sehat dapat membuat seseorang memiliki lebih banyak kesempatan untuk bertemu berbagai tipe manusia.

Dan ironisnya, ketika kamu berhenti menjadikan setiap pertemuan sebagai “audisi calon pasangan”, interaksi sosial sering kali terasa lebih natural.

Kamu menjadi lebih santai.

Lebih autentik.

Dan lebih terbuka terhadap kemungkinan yang tidak direncanakan.

7. Kamu Memiliki Lebih Banyak Kesempatan untuk Menjadi Dirimu Sendiri

Ada sesuatu yang menarik tentang tempat yang kita kunjungi secara rutin.

Lama-kelamaan, tempat tersebut bisa menjadi bagian dari identitas sosial kita.

Misalnya, kamu dikenal sebagai orang yang selalu datang ke kelas yoga pada Selasa malam.

Atau orang yang sering membaca di kedai tertentu.

Atau anggota komunitas yang selalu membantu menyiapkan acara.

Orang lain mulai mengenalmu bukan berdasarkan profil singkat atau foto yang kamu pilih, tetapi berdasarkan pola perilaku yang mereka lihat dari waktu ke waktu.

Dan kamu pun memiliki kesempatan melakukan hal yang sama terhadap orang lain.

Ini menciptakan proses pengenalan yang lebih kaya.

Seseorang mungkin awalnya terlihat pendiam.

Tetapi setelah beberapa kali bertemu, kamu mengetahui bahwa dia sebenarnya sangat humoris ketika sudah merasa nyaman.

Seseorang mungkin terlihat sangat percaya diri.

Tetapi kemudian kamu melihat bahwa dia juga sangat perhatian terhadap anggota baru.

Seseorang mungkin tampak biasa saja ketika pertama kali bertemu.

Namun, setelah beberapa bulan, kamu justru mulai menyukai cara dia berbicara, cara dia memperlakukan orang, atau cara dia membuatmu merasa nyaman.

Dengan kata lain, third space memungkinkan ketertarikan berkembang berdasarkan pengalaman nyata, bukan hanya kesan pertama.

Jadi, Apakah Third Space Benar-Benar Tempat Terbaik untuk Menemukan Cinta?

Tidak ada satu tempat yang secara objektif merupakan “tempat terbaik” untuk menemukan pasangan.

Cinta bisa ditemukan di banyak konteks.

Di tempat kerja.

Di kampus.

Di aplikasi kencan.

Melalui teman.

Dalam perjalanan.

Dalam komunitas.

Bahkan melalui pertemuan yang sama sekali tidak direncanakan.

Yang membuat third space menarik bukan karena tempat tersebut memiliki semacam kekuatan romantis khusus.

Melainkan karena karakteristik sosialnya.

Third space cenderung menyediakan:

paparan berulang,
interaksi yang lebih natural,
kesempatan mengenal kepribadian seseorang,
aktivitas bersama,
titik kesamaan,
kesempatan membangun kepercayaan,
dan lingkungan sosial yang tidak semata-mata berorientasi pada mencari pasangan.

Kombinasi tersebut dapat menciptakan kondisi yang mendukung terbentuknya hubungan interpersonal.

Namun, tetap ada satu prinsip penting:

Jangan pergi ke third space hanya untuk “berburu pasangan”.

Pergilah karena kamu memang menyukai tempat atau aktivitas tersebut.

Karena ketika kamu benar-benar menikmati hidupmu, kamu memiliki kesempatan untuk bertemu orang lain dalam kondisi yang lebih alami.

Mungkin Cinta Tidak Selalu Datang Ketika Kamu Mencarinya

Ada alasan mengapa banyak kisah cinta dimulai dengan sesuatu yang tampaknya tidak romantis.

Sebuah percakapan singkat.

Sebuah komunitas.

Tempat duduk yang kebetulan bersebelahan.

Buku yang sama.

Hobi yang sama.

Teman yang sama.

Atau seseorang yang awalnya bahkan tidak kamu anggap sebagai calon pasangan.

Hubungan manusia sering kali berkembang melalui akumulasi interaksi kecil, bukan hanya satu momen besar.

Karena itu, jika kamu sedang ingin memperluas kesempatan bertemu orang baru, mungkin kamu tidak perlu memulai dengan pertanyaan:

“Di mana aku bisa menemukan pasangan?”

Cobalah mengubahnya menjadi:

“Di mana aku bisa menemukan tempat yang membuatku senang menjadi diriku sendiri?”

Cari komunitas.

Datangi tempat yang membuatmu nyaman.

Ikuti aktivitas yang memang kamu sukai.

Bicaralah dengan orang baru tanpa terlalu cepat menentukan ke mana hubungan itu akan pergi.

Karena bisa jadi, ketika kamu sedang membangun kehidupan yang terasa hidup dan bermakna, seseorang perlahan masuk ke dalam cerita tersebut.

Bukan sebagai seseorang yang harus segera kamu jadikan pasangan.

Melainkan sebagai manusia yang pertama-tama kamu kenal.

Lalu kamu pahami.

Lalu kamu hargai.

Dan mungkin—jika perasaan itu tumbuh secara timbal balik—hubungan tersebut berkembang menjadi sesuatu yang lebih dalam.

Pada akhirnya, third space bukan tempat ajaib untuk menemukan cinta.

Ia hanyalah ruang sosial yang memberi manusia kesempatan untuk melakukan sesuatu yang sangat mendasar dalam membangun hubungan:

bertemu, berinteraksi, mengenal, dan memberi waktu kepada kedekatan untuk berkembang.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore