Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 24 September 2026 | 03.05 WIB

Jika Kamu Ingin Memiliki Budaya Hustle di Dalam Hidup, Lakukan 6 Cara Ini Menurut Psikologi

seseorang yang menerapkan budaya hustle / foto: Magnific/KamranAydinov

 

JawaPos.com - Ada orang yang tidak membutuhkan seseorang untuk menyuruhnya bergerak.

Ketika memiliki tujuan, ia akan mencari cara untuk mendekatinya. Ketika mengalami kegagalan, ia mencoba memahami apa yang bisa diperbaiki. Ketika sedang tidak bersemangat, ia tidak selalu menunggu motivasi datang. Ia tetap melakukan sesuatu, meskipun kecil.

Sikap seperti ini sering disebut sebagai hustle.

Namun, hustle yang sehat sebenarnya bukan berarti hidup dalam keadaan sibuk selama 24 jam. Bukan pula tentang bekerja sampai larut malam setiap hari, mengorbankan tidur, mengabaikan keluarga, atau merasa bersalah ketika beristirahat.

Dalam perspektif psikologi, dorongan untuk terus berkembang lebih dekat dengan kemampuan membangun kebiasaan, disiplin diri, regulasi emosi, motivasi intrinsik, dan ketekunan.

Dengan kata lain, kamu tidak harus menjadikan hidup sebagai perlombaan.

Kamu hanya perlu membangun budaya pribadi yang membuatmu terbiasa bergerak maju.

Budaya tersebut tidak muncul dalam satu malam. Ia dibentuk dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan berulang kali sampai menjadi bagian dari cara hidup.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (23/9), jika kamu ingin memiliki budaya hustle yang sehat dalam hidup, enam cara berikut bisa menjadi fondasinya.

1. Biasakan Bergerak Sebelum Menunggu Motivasi

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan seseorang ketika ingin mencapai tujuan adalah menunggu perasaan yang tepat.

“Aku akan mulai ketika sudah termotivasi.”

“Aku akan belajar ketika sedang mood.”

“Aku akan olahraga ketika energiku sedang bagus.”

Masalahnya, motivasi manusia tidak selalu stabil.

Ada hari ketika kamu merasa sangat bersemangat. Ada pula hari ketika bangun dari tempat tidur saja terasa berat.

Kalau seluruh tindakanmu bergantung pada motivasi, produktivitasmu akan naik turun mengikuti kondisi emosional.

Karena itu, salah satu fondasi budaya hustle yang sehat adalah belajar bertindak meskipun motivasi sedang tidak sempurna.

Bukan berarti kamu harus memaksa diri secara ekstrem. Maksudnya adalah membangun kebiasaan yang cukup kuat sehingga kamu tidak perlu bernegosiasi dengan dirimu sendiri setiap kali ingin memulai.

Misalnya, daripada berkata:

“Aku harus belajar dua jam hari ini.”

Kamu bisa memulainya dengan:

“Aku akan belajar selama 15 menit.”

Daripada:

“Aku harus olahraga satu jam.”

Cobalah:

“Aku akan melakukan latihan selama 10 menit.”

Target kecil membuat hambatan untuk memulai menjadi lebih rendah.

Dalam psikologi perilaku, memulai sebuah tindakan sering kali menjadi bagian yang paling sulit. Setelah seseorang mulai, tindakan tersebut dapat menjadi lebih mudah dilanjutkan.

Karena itu, jangan selalu bertanya:

“Bagaimana supaya aku lebih termotivasi?”

Cobalah bertanya:

“Bagaimana aku bisa membuat langkah pertama menjadi lebih mudah?”

Budaya hustle tidak dibangun dari ledakan motivasi.

Ia dibangun dari kemampuan untuk terus mengambil langkah, bahkan ketika motivasi sedang biasa saja.

2. Bangun Identitas sebagai Orang yang Konsisten

Ada perbedaan besar antara mengatakan:

“Aku ingin menjadi orang yang rajin.”

dan:

“Aku adalah orang yang menjaga komitmen terhadap hal-hal yang penting bagiku.”

Kalimat kedua berbicara tentang identitas.

Dalam psikologi, perilaku manusia sering kali berkaitan dengan bagaimana seseorang melihat dirinya sendiri.

Jika kamu mulai melihat dirimu sebagai seseorang yang konsisten, keputusan sehari-hari perlahan dapat mengikuti identitas tersebut.

Misalnya, seseorang yang menganggap dirinya sebagai “orang yang rutin membaca” akan lebih mudah menyisihkan waktu untuk membaca.

Bukan karena ia selalu bersemangat, tetapi karena aktivitas tersebut sudah menjadi bagian dari cara ia mendefinisikan dirinya.

Hal yang sama berlaku untuk pekerjaan, olahraga, belajar, bisnis, maupun pengembangan diri.

Daripada berkata:

“Aku sedang mencoba menjadi disiplin.”

Cobalah membangun identitas:

“Aku adalah orang yang menyelesaikan apa yang sudah aku mulai.”

Kemudian buktikan identitas itu melalui tindakan kecil.

Kamu menyelesaikan tugas yang sudah direncanakan.

Kamu menepati jadwal yang dibuat sendiri.

Kamu tetap belajar meskipun hanya sebentar.

Kamu kembali mencoba setelah mengalami kegagalan.

Setiap tindakan kecil memberikan semacam bukti kepada dirimu sendiri.

Lama-kelamaan, kamu tidak lagi merasa sedang “memaksa diri untuk disiplin”.

Kamu mulai merasa bahwa konsistensi memang merupakan bagian dari dirimu.

Namun, ada satu hal yang penting.

Jangan membangun identitas yang terlalu ekstrem.

Misalnya:

“Aku harus produktif setiap saat.”

Identitas seperti itu dapat menjadi jebakan.

Ketika kamu sakit, lelah, atau membutuhkan istirahat, kamu mungkin merasa bersalah karena menganggap berhenti sebentar sebagai kegagalan.

Identitas yang lebih sehat adalah:

“Aku adalah orang yang serius terhadap pertumbuhan, tetapi aku juga tahu kapan harus berhenti dan memulihkan diri.”

Itulah bentuk hustle yang lebih berkelanjutan.

3. Gunakan Tujuan yang Jelas, Bukan Sekadar Keinginan untuk “Sukses”

Banyak orang ingin memiliki kehidupan yang lebih baik.

Mereka ingin lebih kaya.

Lebih sehat.

Lebih pintar.

Lebih produktif.

Lebih sukses.

Tetapi kata “sukses” terlalu luas jika tidak diterjemahkan menjadi perilaku konkret.

Otak lebih mudah merespons sesuatu yang jelas.

Karena itu, jika kamu ingin memiliki budaya hustle, ubah keinginan abstrak menjadi target yang dapat diamati.

Jangan hanya berkata:

“Aku ingin berkembang.”

Tanyakan:

“Dalam bidang apa?”

“Perubahan seperti apa yang ingin aku lihat?”

“Apa yang bisa aku lakukan minggu ini?”

Misalnya:

“Aku ingin menjadi lebih pintar.”

Bisa diubah menjadi:

“Aku akan membaca 10 halaman buku setiap malam.”

“Aku ingin memiliki tubuh lebih sehat.”

Bisa menjadi:

“Aku akan berjalan kaki 30 menit sebanyak empat kali dalam seminggu.”

“Aku ingin mengembangkan karier.”

Bisa menjadi:

“Aku akan mempelajari satu keterampilan baru selama 30 menit setiap hari kerja.”

Tujuan yang konkret memberikan arah.

Namun, jangan berhenti pada hasil akhir.

Perhatikan juga proses.

Kamu mungkin tidak dapat mengendalikan kapan promosi datang.

Kamu tidak selalu dapat mengendalikan apakah bisnis akan langsung berhasil.

Kamu juga tidak dapat menjamin bahwa sebuah proyek akan diterima orang lain.

Tetapi kamu dapat mengendalikan banyak hal yang terjadi dalam proses.

Berapa banyak waktu yang kamu gunakan untuk belajar.

Berapa kali kamu mencoba.

Seberapa serius kamu mempersiapkan diri.

Seberapa cepat kamu mengevaluasi kesalahan.

Budaya hustle yang sehat lebih banyak berfokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan daripada terobsesi pada hasil yang belum tentu bisa diprediksi.

4. Belajar Menoleransi Ketidaknyamanan

Tidak semua hal penting terasa menyenangkan.

Belajar terkadang membosankan.

Berolahraga terkadang melelahkan.

Mengerjakan proyek besar terkadang membuat frustrasi.

Membangun bisnis bisa penuh ketidakpastian.

Mengembangkan kemampuan membutuhkan pengulangan yang terkadang terasa monoton.

Kalau kamu hanya mau bergerak ketika sesuatu terasa nyaman, banyak tujuan akan berhenti di tengah jalan.

Karena itu, salah satu kemampuan psikologis yang penting adalah toleransi terhadap ketidaknyamanan.

Ini bukan berarti kamu harus menyukai penderitaan.

Bukan berarti semakin menderita berarti semakin sukses.

Justru sebaliknya.

Kamu perlu mampu membedakan antara ketidaknyamanan yang merupakan bagian normal dari proses belajar dengan kondisi yang menunjukkan bahwa kamu sudah melewati batas yang sehat.

Contohnya:

Merasa malas memulai latihan selama 20 menit adalah satu hal.

Terus berolahraga meskipun tubuh mengalami cedera adalah hal lain.

Merasa gugup ketika mempresentasikan ide adalah hal yang wajar.

Mengabaikan kecemasan berat yang terus mengganggu kehidupan sehari-hari membutuhkan pendekatan yang berbeda.

Jadi, hustle bukan tentang memaksa diri melewati semua batas.

Hustle yang sehat adalah kemampuan mengatakan:

“Ini memang tidak nyaman, tetapi masih bisa aku jalani.”

Kemampuan seperti ini sangat berharga karena banyak pencapaian membutuhkan waktu.

Kamu mungkin tidak melihat hasil setelah satu hari.

Bahkan mungkin tidak melihat perubahan besar setelah satu minggu.

Namun, jika kamu mampu bertahan dalam ketidaknyamanan yang wajar sambil terus mengevaluasi proses, kamu memberikan kesempatan kepada usaha tersebut untuk menghasilkan sesuatu.

5. Jadikan Istirahat sebagai Bagian dari Sistem, Bukan Musuh Produktivitas

Ini mungkin terdengar bertentangan dengan budaya hustle.

Tetapi justru inilah salah satu bagian terpenting.

Kalau kamu ingin terus bergerak dalam jangka panjang, kamu membutuhkan pemulihan.

Tubuh dan pikiran bukan mesin yang dapat bekerja tanpa batas.

Kurang tidur, stres berkepanjangan, beban kerja berlebihan, dan tidak adanya waktu pemulihan dapat mengganggu fungsi kognitif, suasana hati, perhatian, dan kemampuan mengambil keputusan.

Karena itu, jangan mengukur produktivitas hanya dari berapa lama kamu bekerja.

Tanyakan juga:

“Apakah cara hidup ini bisa aku pertahankan?”

Ada perbedaan antara sibuk dan produktif.

Seseorang bisa bekerja selama 12 jam tetapi menghasilkan sedikit karena konsentrasinya buruk.

Sebaliknya, seseorang yang bekerja dengan fokus selama beberapa jam, kemudian beristirahat dengan baik, mungkin mampu mempertahankan kualitas kerja dalam jangka panjang.

Istirahat bukan selalu tanda kemalasan.

Dalam sistem yang sehat, istirahat adalah bagian dari strategi.

Kamu tidur agar tubuh pulih.

Kamu mengambil jeda agar perhatian tidak terus terkuras.

Kamu menghabiskan waktu dengan orang yang kamu sayangi agar hidup tidak hanya berisi pekerjaan.

Kamu memiliki aktivitas yang tidak menghasilkan uang karena manusia tidak hanya membutuhkan produktivitas.

Jika budaya hustle membuatmu merasa bersalah setiap kali duduk santai, mungkin yang sedang dibangun bukan disiplin, tetapi hubungan yang tidak sehat dengan produktivitas.

Tujuan akhirnya bukan menjadi manusia yang selalu bekerja.

Tujuannya adalah menjadi manusia yang mampu mengelola energi dengan baik sehingga dapat melakukan hal-hal penting secara konsisten.

6. Evaluasi Diri Secara Rutin, Bukan Hanya Memaksa Diri Lebih Keras

Ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan, respons pertama sebagian orang adalah bekerja lebih keras.

“Berarti aku harus menambah jam kerja.”

“Berarti aku harus lebih disiplin.”

“Berarti aku kurang berusaha.”

Padahal, terkadang masalahnya bukan kurangnya usaha.

Masalahnya adalah strategi yang digunakan tidak efektif.

Karena itu, budaya hustle yang matang membutuhkan refleksi.

Setiap minggu, luangkan waktu untuk mengevaluasi:

Apa yang berhasil?

Apa yang tidak berhasil?

Apa yang membuatku kehilangan fokus?

Kebiasaan apa yang membantuku?

Apa yang sebenarnya tidak perlu kulakukan?

Apakah targetku masih relevan?

Apakah aku sedang bergerak menuju tujuan, atau hanya sibuk?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini dapat membantu kamu membedakan antara kerja keras dan kerja yang memiliki arah.

Misalnya, kamu merasa sudah bekerja keras selama sebulan tetapi tidak mengalami kemajuan.

Daripada langsung menambah jam kerja, mungkin kamu perlu mengubah metode.

Jika belajar tiga jam sehari tidak efektif, mungkin masalahnya bukan kurang lama belajar, melainkan cara belajar.

Jika membuat banyak konten tetapi tidak menghasilkan perkembangan, mungkin kamu perlu mengevaluasi strategi konten.

Jika selalu membuat daftar tugas panjang tetapi jarang menyelesaikannya, mungkin kamu perlu mengurangi jumlah prioritas.

Kerja keras penting.

Tetapi kerja keras tanpa evaluasi dapat membuat seseorang mengulangi kesalahan yang sama dengan energi yang lebih besar.

Orang yang memiliki budaya hustle yang sehat bukan hanya bertanya:

“Seberapa keras aku bekerja?”

Ia juga bertanya:

“Apakah caraku bekerja benar-benar membawaku ke tempat yang ingin kutuju?”

Hustle Bukan Tentang Berlari Setiap Hari

Pada akhirnya, memiliki budaya hustle di dalam hidup tidak berarti kamu harus selalu terlihat sibuk.

Kamu tidak harus bangun pukul lima pagi hanya karena orang lain melakukannya.

Kamu tidak harus bekerja sampai tengah malam untuk membuktikan bahwa kamu serius.

Kamu tidak harus mengorbankan kesehatan, hubungan, tidur, atau ketenangan hanya demi terlihat produktif.

Hustle yang sehat lebih sederhana dari itu.

Ia berarti memiliki kecenderungan untuk bergerak ketika ada sesuatu yang penting.

Kamu belajar meskipun sedikit.

Kamu bekerja ketika waktunya bekerja.

Kamu beristirahat ketika tubuh dan pikiran membutuhkan pemulihan.

Kamu mencoba lagi ketika gagal.

Kamu mengevaluasi strategi ketika sesuatu tidak berjalan.

Dan yang paling penting, kamu tidak membiarkan satu hari yang buruk berubah menjadi alasan untuk berhenti selamanya.

Karena kehidupan bukan sprint.

Ia lebih menyerupai perjalanan panjang.

Ada saatnya kamu harus berlari.

Ada saatnya kamu berjalan.

Ada saatnya kamu berhenti untuk mengambil napas.

Semua itu tetap menjadi bagian dari perjalanan.

Jika kamu ingin membangun budaya hustle mulai sekarang, jangan mencoba mengubah seluruh hidup dalam satu hari.

Pilih satu kebiasaan kecil.

Bangun rutinitas yang realistis.

Tetapkan tujuan yang jelas.

Latih kemampuan untuk bertahan dalam ketidaknyamanan yang wajar.

Jaga waktu istirahat.

Kemudian evaluasi perkembanganmu secara berkala.

Sedikit demi sedikit, tindakan tersebut akan menjadi kebiasaan.

Kebiasaan akan membentuk pola hidup.

Dan pola hidup yang dilakukan terus-menerus pada akhirnya dapat membentuk siapa dirimu.

Bukan tentang bekerja lebih keras setiap saat.

Melainkan tentang menjadi seseorang yang tahu apa yang penting, berani bergerak untuk mendapatkannya, dan cukup bijaksana untuk menjaga dirinya tetap mampu melanjutkan perjalanan.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore