seseorang yang menyabotase dirinya sendiri./Magnific/user25451090
JawaPos.com - Dalam sebuah hubungan, kita sering mengira masalah terbesar datang dari pasangan.
Pasangan kurang perhatian.
Pasangan terlalu sibuk.
Pasangan berubah.
Pasangan tidak lagi romantis.
Pasangan tidak memahami kita.
Namun, psikologi hubungan menunjukkan bahwa konflik dalam hubungan tidak selalu sesederhana "siapa yang salah dan siapa yang benar". Kadang-kadang, tanpa sadar, seseorang justru melakukan pola tertentu yang membuat hubungan semakin sulit—bahkan ketika niat awalnya adalah mempertahankan hubungan tersebut.
Inilah yang sering disebut sebagai self-sabotage dalam hubungan, yaitu pola pikiran, emosi, atau perilaku yang secara tidak sadar justru menghambat sesuatu yang sebenarnya kita inginkan.
Menariknya, orang yang melakukan self-sabotage biasanya tidak merasa sedang menghancurkan hubungannya sendiri.
Sebaliknya, mereka mungkin merasa sedang melindungi diri.
Mereka menjaga jarak karena takut disakiti. Mereka menjadi terlalu menuntut karena takut ditinggalkan. Mereka menguji pasangan karena ingin memastikan bahwa dirinya benar-benar dicintai. Mereka menyembunyikan perasaan karena tidak ingin terlihat lemah.
Masalahnya, strategi perlindungan tersebut justru dapat menciptakan kondisi yang mereka takuti.
Takut ditinggalkan → menjadi terlalu cemas → pasangan merasa tertekan → hubungan memburuk → pasangan menjauh → ketakutan ditinggalkan terasa "terbukti".
Sebuah lingkaran terbentuk.
Dilansir dari Psychology Today pada Senin (21/9), terdapat enam kesalahan terbesar dalam hubungan yang sering tidak disadari dan bagaimana psikologi menjelaskan mekanismenya.
1. Terlalu Banyak Membaca Pikiran Pasangan
Salah satu kesalahan yang sangat umum dalam hubungan adalah menganggap kita tahu apa yang dipikirkan atau dirasakan pasangan tanpa benar-benar menanyakannya.
Pasangan membalas pesan lebih singkat.
"Kamu sudah berubah."
Pasangan terlihat lelah ketika pulang.
"Dia pasti sudah bosan denganku."
Pasangan tidak menghubungi terlebih dahulu.
"Berarti aku tidak penting baginya."
Masalahnya bukan sekadar pada kesimpulan yang salah. Masalah yang lebih besar adalah ketika asumsi tersebut diperlakukan sebagai fakta.
Dalam psikologi kognitif, kecenderungan seperti ini sering berkaitan dengan mind reading, yaitu mengasumsikan kita mengetahui pikiran atau perasaan orang lain tanpa bukti yang memadai.
Padahal, satu perilaku dapat memiliki banyak penjelasan.
Seseorang membalas pesan dengan singkat mungkin karena sedang sibuk, lelah, mengalami masalah pekerjaan, atau memang sedang tidak ingin banyak berbicara.
Namun ketika seseorang sudah memiliki keyakinan bahwa "pasanganku mulai tidak mencintaiku", perilaku kecil tersebut dapat dianggap sebagai bukti yang memperkuat keyakinan tersebut.
Dari asumsi menjadi konflik
Masalah menjadi lebih rumit ketika kita bereaksi terhadap asumsi tersebut.
Misalnya:
"Kamu sekarang sudah nggak peduli sama aku."
Pasangan kemudian bingung karena merasa tidak melakukan apa-apa.
Ia mencoba menjelaskan.
Namun karena kita sudah terlanjur percaya bahwa ia sedang menjauh, penjelasan tersebut justru dianggap sebagai alasan.
Akhirnya, konflik terjadi bukan karena fakta yang jelas, melainkan karena interpretasi terhadap fakta.
Bagaimana menghentikannya?
Sebelum membuat kesimpulan, coba pisahkan tiga hal:
Apa yang benar-benar terjadi?
Apa yang saya tafsirkan dari kejadian tersebut?
Apa penjelasan alternatif yang mungkin?
Contohnya:
Fakta:
"Dia belum membalas pesan selama enam jam."
Interpretasi:
"Dia sudah tidak peduli."
Alternatif:
"Mungkin dia sedang bekerja, kelelahan, atau memang belum sempat membuka ponsel."
Ini bukan berarti kita harus mengabaikan tanda-tanda masalah dalam hubungan.
Justru sebaliknya.
Kita belajar membedakan fakta dari interpretasi, sehingga pembicaraan dengan pasangan menjadi lebih jernih.
2. Menguji Cinta Pasangan daripada Mengungkapkan Kebutuhan
Pernahkah Anda sengaja tidak menghubungi pasangan untuk melihat apakah dia akan mencari Anda?
Atau berpura-pura marah untuk melihat apakah dia akan mengejar?
Atau mengatakan, "Terserah kamu," padahal sebenarnya berharap pasangan memahami bahwa Anda ingin diprioritaskan?
Ini merupakan salah satu bentuk perilaku yang sering muncul ketika seseorang merasa tidak aman dalam hubungan.
Di baliknya biasanya ada kebutuhan sederhana:
"Aku ingin tahu apakah aku penting bagimu."
Namun kebutuhan tersebut tidak disampaikan secara langsung.
Sebaliknya, seseorang membuat sebuah "tes".
Misalnya:
"Aku nggak akan chat dulu. Kalau dia sayang, pasti dia cari aku."
Sekilas terdengar masuk akal.
Tetapi ada masalah besar.
Pasangan tidak tahu bahwa ia sedang mengikuti ujian.
Akibatnya, hasil dari "tes" tersebut dapat sangat menyesatkan.
Jika pasangan tidak menghubungi, kita menyimpulkan:
"Tuh, benar. Dia memang nggak sayang."
Padahal bisa saja pasangan mengira kita sedang membutuhkan ruang.
Mengapa perilaku ini bisa merusak hubungan?
Karena hubungan sehat membutuhkan komunikasi, bukan tebak-tebakan.
Ketika kebutuhan emosional disampaikan melalui permainan atau pengujian, pasangan dapat merasa dimanipulasi, bingung, atau terus-menerus harus membuktikan cintanya.
Lama-kelamaan, hubungan menjadi melelahkan bagi kedua pihak.
Lebih sehat mengatakan:
"Aku sebenarnya sedang merasa kurang diperhatikan. Aku ingin kita punya lebih banyak waktu untuk ngobrol."
Kalimat tersebut mungkin terasa lebih rentan.
Tetapi justru kerentanan semacam inilah yang memungkinkan pasangan memahami apa yang sebenarnya kita butuhkan.
Jangan membuat pasangan menebak kebutuhan yang sebenarnya bisa Anda komunikasikan.
3. Menghindari Percakapan Sulit demi Menjaga Kedamaian
Banyak orang mengira hubungan yang sehat adalah hubungan yang jarang bertengkar.
Padahal, tidak bertengkar tidak selalu berarti tidak ada masalah.
Kadang-kadang seseorang tidak bertengkar karena ia sudah berhenti menyampaikan apa yang dirasakannya.
Ia memilih diam.
"Sudahlah."
"Nanti juga reda sendiri."
"Aku nggak mau bikin masalah."
"Aku takut dia marah."
Pada awalnya, strategi ini mungkin membuat suasana terasa lebih tenang.
Tetapi masalah yang tidak dibicarakan tidak otomatis menghilang.
Sering kali masalah hanya berpindah tempat: dari percakapan menjadi emosi yang dipendam.
Kemudian muncul dalam bentuk lain.
Sindiran.
Dingin.
Menjauh.
Mudah tersinggung.
Ledakan emosi karena masalah kecil.
Dan pada titik tertentu, pasangan mungkin bertanya:
"Kenapa kamu tiba-tiba berubah?"
Padahal sebenarnya tidak ada yang tiba-tiba.
Ada banyak hal yang sudah lama dikumpulkan.
Konflik tidak selalu berarti hubungan gagal
Dalam hubungan jangka panjang, perbedaan kebutuhan dan perspektif hampir tidak mungkin dihindari.
Yang menjadi masalah bukan keberadaan konflik itu sendiri, melainkan bagaimana konflik ditangani.
Seseorang dapat belajar mengatakan:
"Aku ingin membicarakan sesuatu yang menggangguku. Aku tidak ingin menyalahkanmu, tetapi aku ingin kita mencari solusi bersama."
Kalimat seperti ini berbeda jauh dari:
"Kamu memang selalu seperti ini!"
Fokusnya bukan menyerang karakter pasangan, melainkan membicarakan perilaku dan dampaknya.
Prinsip sederhananya
Jangan menunggu sampai emosi mencapai 100% baru membicarakan masalah yang sebenarnya sudah mengganggu sejak 20%.
Percakapan kecil yang dilakukan lebih awal sering kali jauh lebih mudah daripada ledakan besar setelah terlalu lama memendam.
4. Membandingkan Hubungan dengan Hubungan Orang Lain
Media sosial membuat kesalahan ini semakin mudah dilakukan.
Kita melihat pasangan lain pergi liburan.
Mereka makan malam romantis.
Mereka memberikan hadiah.
Mereka mengunggah foto ulang tahun.
Mereka menulis caption penuh cinta.
Kemudian kita melihat hubungan sendiri.
"Kenapa hubungan kami nggak seperti mereka?"
Masalahnya adalah kita sedang membandingkan realitas kehidupan kita dengan versi kehidupan orang lain yang mereka pilih untuk ditampilkan.
Kita melihat foto, tetapi tidak melihat percakapan mereka ketika sedang marah.
Kita melihat hadiah, tetapi tidak mengetahui bagaimana mereka menyelesaikan masalah keuangan.
Kita melihat kemesraan, tetapi tidak mengetahui bagaimana mereka berkomunikasi ketika mengalami konflik.
Dengan kata lain, kita membandingkan kehidupan sehari-hari kita dengan highlight kehidupan orang lain.
Perbandingan juga dapat mengubah cara kita melihat pasangan
Ketika terus-menerus membandingkan pasangan dengan orang lain, perhatian kita berpindah dari apa yang ada menjadi apa yang kurang.
Awalnya mungkin kita menghargai pasangan karena perhatian dan kesetiaannya.
Namun setelah melihat pasangan lain yang lebih romantis, kita mulai berfokus pada kekurangan tersebut.
Lalu muncul rasa tidak puas.
Padahal belum tentu kebutuhan utama kita benar-benar adalah "pasangan yang romantis".
Mungkin yang sebenarnya kita butuhkan adalah waktu berkualitas, komunikasi yang lebih baik, penghargaan, atau rasa aman.
Pertanyaan yang lebih berguna
Daripada bertanya:
"Kenapa hubungan kami tidak seperti hubungan mereka?"
Coba tanyakan:
"Apa yang sebenarnya saya butuhkan dalam hubungan ini?"
Lalu komunikasikan kebutuhan tersebut kepada pasangan.
Hubungan tidak perlu terlihat sempurna dari luar.
Yang lebih penting adalah apakah dua orang di dalamnya dapat membangun pola hubungan yang sehat bagi mereka.
5. Menganggap Pasangan Harus Bisa Memenuhi Semua Kebutuhan Emosional
Hubungan romantis memang memiliki peran besar dalam kehidupan seseorang.
Namun pasangan bukanlah satu-satunya sumber kebahagiaan, identitas, validasi, persahabatan, hiburan, dan makna hidup.
Ketika seluruh kebutuhan emosional diletakkan pada satu orang, hubungan dapat menjadi sangat berat.
Contohnya:
Jika pasangan sedang sibuk, kita merasa ditolak.
Jika pasangan ingin menghabiskan waktu dengan teman, kita merasa tidak penting.
Jika pasangan membutuhkan waktu sendiri, kita menganggap hubungan sedang bermasalah.
Jika pasangan tidak selalu memberikan validasi, harga diri kita ikut turun.
Pada kondisi seperti ini, hubungan bukan lagi sekadar tempat berbagi kehidupan.
Hubungan menjadi satu-satunya tempat seseorang mendapatkan rasa aman tentang dirinya sendiri.
Mengapa ini bisa menjadi masalah?
Karena manusia memiliki kebutuhan yang beragam.
Kita membutuhkan pasangan, tetapi juga membutuhkan teman, keluarga, aktivitas pribadi, pekerjaan, hobi, waktu sendiri, dan hubungan dengan diri sendiri.
Memiliki kehidupan yang tetap bermakna di luar hubungan justru dapat membuat hubungan lebih sehat.
Bukan berarti harus menjadi "tidak membutuhkan pasangan".
Kemandirian emosional bukan berarti tidak membutuhkan siapa pun.
Artinya:
"Aku mencintaimu, aku membutuhkanmu dalam hidupku, tetapi seluruh kestabilan emosiku tidak bergantung hanya pada dirimu."
Ini merupakan perbedaan yang sangat penting.
6. Terlalu Takut Kehilangan sampai Justru Menciptakan Jarak
Ironisnya, salah satu bentuk self-sabotage yang paling menyakitkan adalah ketika seseorang begitu takut kehilangan hubungan sehingga perilakunya justru membuat hubungan tersebut semakin sulit.
Ketakutan kehilangan dapat muncul dalam berbagai bentuk.
Memeriksa pasangan secara berlebihan.
Mencari kepastian terus-menerus.
Menganalisis setiap perubahan kecil.
Menjadi sangat posesif.
Mencari bukti bahwa pasangan masih mencintai.
Mudah panik ketika pasangan membutuhkan waktu sendiri.
Atau sebaliknya, ada orang yang melakukan hal berbeda:
mereka pergi lebih dulu sebelum sempat ditinggalkan.
Logikanya:
"Kalau aku meninggalkan dia duluan, setidaknya aku tidak akan menjadi orang yang ditinggalkan."
Ini terlihat seperti perlindungan diri.
Tetapi dalam jangka panjang, strategi tersebut dapat membuat seseorang sulit membangun kedekatan yang stabil.
Ketakutan dapat mengubah perilaku
Bayangkan seseorang memiliki keyakinan:
"Orang yang aku cintai pada akhirnya akan meninggalkanku."
Ketika mendapatkan pasangan, ia mulai sangat takut kehilangan.
Karena takut kehilangan, ia mencari kepastian terus-menerus.
Pasangan merasa tertekan.
Pasangan kemudian membutuhkan ruang.
Jarak muncul.
Orang tersebut melihat jarak itu sebagai bukti:
"Benar kan? Pada akhirnya dia akan pergi."
Padahal sebagian dari jarak tersebut mungkin muncul sebagai respons terhadap pola interaksi yang sudah terbentuk.
Inilah mengapa penting untuk mengenali pola, bukan hanya melihat satu kejadian.
Mengapa Kita Melakukan Self-Sabotage?
Jika perilaku tersebut dapat merusak hubungan, mengapa seseorang tetap melakukannya?
Karena perilaku tersebut biasanya memiliki tujuan psikologis tertentu.
Sering kali tujuannya adalah perlindungan diri.
Seseorang mungkin belajar sejak pengalaman masa lalu bahwa:
terlalu percaya kepada orang lain dapat membuatnya terluka;
menunjukkan kebutuhan dapat membuatnya ditolak;
konflik berarti hubungan akan berakhir;
kedekatan membuat seseorang kehilangan kebebasan;
atau seseorang harus selalu waspada agar tidak ditinggalkan.
Akibatnya, otak mengembangkan strategi untuk mengantisipasi ancaman.
Masalahnya, strategi yang dulu terasa melindungi kita belum tentu cocok untuk hubungan yang kita jalani sekarang.
Kita mungkin sudah berada dalam hubungan yang berbeda dengan pengalaman masa lalu, tetapi sistem pertahanan kita masih bereaksi seolah-olah bahaya lama sedang terjadi.
Karena itu, pertanyaan penting bukan hanya:
"Kenapa aku melakukan ini?"
Tetapi juga:
"Apa yang sebenarnya sedang coba dilindungi oleh perilakuku?"
Pertanyaan tersebut dapat membuka pintu menuju pemahaman diri yang lebih dalam.
Cara Menghentikan Siklus Self-Sabotage dalam Hubungan
Menyadari pola adalah langkah pertama.
Namun menyadari saja belum cukup.
Kita juga perlu belajar mengganti respons otomatis dengan respons yang lebih sehat.
1. Berhenti sejenak sebelum bereaksi
Ketika emosi sedang tinggi, jangan langsung mengirim pesan panjang, membuat tuduhan, atau mengambil keputusan besar.
Berikan diri sendiri waktu untuk tenang.
Tanyakan:
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Apa yang aku rasakan?"
"Apa yang aku takutkan?"
"Apa yang aku butuhkan?"
Empat pertanyaan sederhana ini dapat membantu memisahkan fakta, emosi, ketakutan, dan kebutuhan.
2. Ubah tuduhan menjadi komunikasi kebutuhan
Daripada:
"Kamu nggak pernah peduli sama aku."
Coba:
"Aku merasa kurang diperhatikan akhir-akhir ini dan aku ingin kita punya waktu khusus untuk berbicara."
Perbedaannya tampak kecil.
Namun efek komunikasinya sangat berbeda.
Kalimat pertama menyerang.
Kalimat kedua membuka percakapan.
3. Belajar menoleransi ketidakpastian
Tidak semua perubahan harus segera mendapatkan jawaban.
Tidak semua pesan yang terlambat dibalas berarti hubungan sedang bermasalah.
Tidak semua suasana hati pasangan berkaitan dengan kita.
Hubungan yang sehat membutuhkan kemampuan untuk mengatakan:
"Aku belum tahu apa yang terjadi, jadi aku tidak akan langsung menyimpulkan."
Ini bukan sikap pasif.
Ini adalah kemampuan untuk menahan dorongan bereaksi sebelum memiliki informasi yang cukup.
4. Bangun kehidupan di luar hubungan
Tetaplah memiliki:
teman;
keluarga;
pekerjaan atau pendidikan;
hobi;
tujuan pribadi;
aktivitas fisik;
waktu sendiri;
dan ruang untuk berkembang.
Hubungan yang sehat bukan hubungan di mana dua orang kehilangan dirinya masing-masing.
Justru dua individu yang tetap memiliki identitas dan kehidupan pribadi dapat bertemu sebagai pasangan tanpa menjadikan hubungan sebagai satu-satunya sumber makna.
5. Belajar menerima kerentanan
Menyampaikan:
"Aku takut kehilangan kamu."
sering kali jauh lebih sulit daripada berkata:
"Aku nggak peduli."
Tetapi kerentanan dapat membuka ruang bagi keintiman.
Tentu, kerentanan tidak berarti membuka diri kepada orang yang tidak aman atau mengabaikan batasan pribadi.
Namun dalam hubungan yang sehat, kemampuan untuk mengungkapkan ketakutan dan kebutuhan secara jujur dapat membantu pasangan memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Penutup: Kadang-Kadang Musuh Terbesar Hubungan Bukan Pasangan, tetapi Pola yang Tidak Kita Sadari
Dalam hubungan, kita mudah mencari siapa yang harus disalahkan.
Namun pertanyaan yang sering lebih produktif adalah:
"Pola apa yang sedang terjadi di antara kami?"
Mungkin kita terlalu sering menebak pikiran pasangan.
Mungkin kita menguji cintanya daripada mengungkapkan kebutuhan.
Mungkin kita menghindari konflik sampai masalah menumpuk.
Mungkin kita membandingkan hubungan sendiri dengan hubungan orang lain.
Mungkin kita menuntut pasangan memenuhi seluruh kebutuhan emosional kita.
Atau mungkin kita begitu takut kehilangan sehingga justru melakukan hal-hal yang menciptakan jarak.
Menyadari hal tersebut bukan berarti semua masalah hubungan adalah kesalahan kita.
Ini juga bukan berarti seseorang harus bertahan dalam hubungan yang tidak sehat.
Ada perilaku pasangan yang memang bermasalah, dan ada hubungan yang memang tidak aman atau tidak cocok untuk dipertahankan.
Namun jika kita menemukan pola yang berulang dalam hubungan, ada satu hal yang layak diperiksa:
Apakah saya sedang bereaksi terhadap pasangan yang ada di depan saya, atau terhadap luka dan ketakutan dari pengalaman masa lalu?
Pertanyaan itu bisa menjadi titik awal perubahan.
Karena terkadang, memperbaiki hubungan bukan hanya tentang menemukan pasangan yang tepat.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Viral Pegawai BGN Sindir Korban Keracunan MBG Sambil Makan Chicken Katsu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sudah Tak Jadi Menkeu, Uang Rp 100 Ribu Bertanda Tangan Purbaya Malah Diburu
10 Kali Sidang Kasus Kuota Haji, Saksi Beberkan Tak Ada Dugaan Kerugian Negara
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022