Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 21 September 2026 | 02.36 WIB

6 Alasan Mengapa Menerima Status Lajang Dapat Mengubah Hidup Menurut Psikologi, Apa Sajakah Itu?

seseorang yang menerima statusnya sendiri / foto: Magnific/user3980505

 

JawaPos.com - Di tengah budaya yang sering menganggap hubungan romantis sebagai salah satu ukuran keberhasilan hidup, menjadi lajang terkadang terasa seperti sebuah kondisi yang harus segera diakhiri. Pertanyaan seperti “Kapan punya pasangan?”, “Kapan menikah?”, atau melihat teman-teman mulai membangun keluarga dapat membuat seseorang merasa tertinggal.

Padahal, dari sudut pandang psikologi, status lajang tidak secara otomatis berarti kesepian, tidak bahagia, atau mengalami kegagalan dalam kehidupan sosial. Pengalaman seseorang sebagai lajang sangat dipengaruhi oleh cara ia memandang dirinya sendiri, kualitas hubungan sosial yang dimiliki, serta apakah ia menjalani kesendirian karena pilihan atau merasa terpaksa.

Menerima status lajang bukan berarti menyerah terhadap kemungkinan memiliki pasangan di masa depan. Sebaliknya, penerimaan dapat berarti berhenti menjadikan hubungan romantis sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan dan mulai membangun kehidupan yang tetap bermakna tanpa bergantung pada status hubungan.

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (20/9), terdapat enam alasan mengapa menerima status lajang dapat menjadi pengalaman yang mengubah hidup.

1. Anda Berhenti Mengukur Nilai Diri dari Status Hubungan

Salah satu perubahan terbesar ketika seseorang menerima status lajangan adalah perubahan cara memandang dirinya sendiri.

Ketika seseorang terlalu mengaitkan harga dirinya dengan status romantis, ia dapat mulai berpikir:

“Kalau tidak ada yang memilih saya, mungkin saya tidak cukup baik.”

Pola pikir semacam ini berbahaya karena membuat nilai diri bergantung pada sesuatu yang berada di luar kendali pribadi.

Hubungan romantis memang dapat memberikan pengalaman positif seperti kedekatan, dukungan emosional, dan rasa dicintai. Namun, keberadaan atau ketiadaan pasangan bukan ukuran objektif mengenai nilai seseorang.

Psikologi membedakan antara self-worth atau rasa berharga sebagai manusia dengan berbagai peran dan pencapaian yang dimiliki seseorang. Anda bisa menjadi individu yang berharga sekalipun sedang tidak memiliki pasangan.

Ketika penerimaan mulai tumbuh, pertanyaan dalam kepala dapat berubah.

Bukan lagi:

“Mengapa tidak ada yang menginginkan saya?”

Melainkan:

“Kehidupan seperti apa yang ingin saya bangun untuk diri saya sendiri?”

Perubahan pertanyaan ini terlihat sederhana, tetapi dampaknya bisa besar. Fokus berpindah dari mencari validasi eksternal menuju membangun penghargaan terhadap diri sendiri.

Anda mulai memahami bahwa pasangan seharusnya menjadi bagian dari kehidupan, bukan bukti bahwa kehidupan Anda memiliki nilai.

2. Anda Memiliki Lebih Banyak Ruang untuk Mengenal Diri Sendiri

Hubungan romantis membutuhkan kompromi. Itu merupakan hal yang normal dan bahkan dapat menjadi bagian penting dari hubungan yang sehat.

Namun, ketika seseorang selalu berada dalam hubungan, terkadang sulit membedakan antara:

apa yang benar-benar ia inginkan,
apa yang ia lakukan karena pasangannya,
dan apa yang sebenarnya ia lakukan karena takut kehilangan hubungan.

Masa lajang dapat memberikan ruang untuk mengeksplorasi identitas pribadi.

Anda dapat mulai bertanya:

Apa yang sebenarnya saya sukai?

Apa tujuan hidup saya?

Bagaimana saya ingin menjalani hari-hari saya?

Nilai apa yang paling penting bagi saya?

Kehidupan seperti apa yang ingin saya bangun dalam lima atau sepuluh tahun ke depan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu seseorang mengembangkan pemahaman yang lebih kuat tentang dirinya.

Hal ini penting karena hubungan yang sehat bukanlah hubungan antara dua orang yang kehilangan identitasnya, melainkan hubungan antara dua individu yang tetap memiliki kehidupan, nilai, minat, dan batas pribadi.

Dengan demikian, menerima masa lajang dapat menjadi kesempatan untuk membangun identitas yang lebih mandiri.

Anda mungkin mulai mencoba hobi baru, belajar keterampilan, bepergian sendiri, memperluas lingkaran pertemanan, mengejar pendidikan, atau fokus pada karier.

Bukan karena Anda harus menjadi “sempurna” sebelum memiliki pasangan, tetapi karena kehidupan Anda tetap layak dijalani sepenuhnya sekarang.

3. Anda Belajar Bahwa Kesendirian Tidak Selalu Sama dengan Kesepian

Ini adalah salah satu perbedaan paling penting dalam memahami kehidupan lajang.

Sendirian dan kesepian bukanlah hal yang sama.

Kesendirian menggambarkan kondisi seseorang yang tidak sedang bersama orang lain.

Kesepian lebih berkaitan dengan pengalaman subjektif mengenai kurangnya hubungan sosial atau kedekatan emosional yang diinginkan.

Seseorang dapat tinggal sendirian tetapi merasa sangat terhubung dengan keluarga, sahabat, komunitas, dan dirinya sendiri.

Sebaliknya, seseorang juga dapat memiliki pasangan tetapi tetap merasa kesepian.

Ketika seseorang menerima status lajang, ia dapat mulai belajar menikmati kesendirian tanpa langsung menganggapnya sebagai masalah yang harus diperbaiki.

Makan sendirian tidak harus menyedihkan.

Menonton film sendirian tidak berarti tidak memiliki teman.

Pergi berjalan-jalan sendiri bukan berarti tidak ada orang yang peduli.

Ada bentuk kesendirian yang justru memberikan kesempatan untuk beristirahat dari tuntutan sosial dan mendengarkan diri sendiri.

Tentu saja, ini bukan berarti kesepian harus diabaikan. Jika seseorang merasa terisolasi, tidak memiliki dukungan sosial, atau mengalami kesepian berkepanjangan, membangun hubungan sosial tetap sangat penting.

Yang berubah adalah pemahaman bahwa solusi terhadap kesepian tidak selalu harus berupa pasangan romantis.

Persahabatan yang sehat, hubungan keluarga, komunitas, kegiatan sosial, dan hubungan yang bermakna dengan orang lain juga memiliki peran penting dalam kesejahteraan psikologis.

4. Anda Menjadi Lebih Selektif dalam Memilih Hubungan

Ketika seseorang sangat takut sendirian, ia dapat menjadi lebih mudah menerima hubungan yang sebenarnya tidak sehat.

Ketakutan terhadap kesendirian dapat membuat seseorang berpikir:

“Setidaknya saya punya seseorang.”

Masalahnya, memiliki hubungan tidak selalu lebih baik daripada tidak memiliki hubungan.

Hubungan yang penuh konflik, manipulasi, ketidakjelasan, atau kurangnya rasa hormat dapat memberikan tekanan psikologis yang jauh lebih besar daripada masa lajang.

Ketika seseorang mulai merasa nyaman dengan kehidupannya sendiri, standar dalam memilih pasangan dapat berubah.

Ia tidak lagi bertanya:

“Siapa yang mau bersama saya?”

Tetapi:

“Apakah hubungan ini sehat bagi kami berdua?”

Perubahan tersebut dapat membantu seseorang memperhatikan kualitas hubungan, bukan sekadar keberadaannya.

Ia mulai mempertimbangkan hal-hal seperti komunikasi, rasa hormat, kesamaan nilai, kemampuan menyelesaikan konflik, batas pribadi, dan rasa aman secara emosional.

Dengan kata lain, menerima status lajang dapat mengurangi tekanan untuk masuk ke hubungan hanya karena takut tertinggal atau takut sendirian.

Seseorang tidak lagi mencari pasangan semata-mata untuk mengisi kekosongan.

Ia dapat mencari hubungan karena memang ingin berbagi kehidupan dengan orang lain.

Perbedaannya sangat besar.

5. Anda Memiliki Kesempatan Membangun Kemandirian Emosional

Kemandirian emosional bukan berarti tidak membutuhkan siapa pun.

Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Kita membutuhkan koneksi, dukungan, kasih sayang, dan hubungan dengan orang lain.

Namun, ada perbedaan antara membutuhkan hubungan sosial dan bergantung sepenuhnya pada satu orang untuk mengatur emosi kita.

Ketika seseorang menerima status lajang, ia memiliki kesempatan untuk belajar menghadapi emosinya sendiri.

Ketika sedih, ia belajar memahami sumber kesedihan.

Ketika kecewa, ia belajar mengelolanya.

Ketika merasa tidak aman, ia belajar menenangkan diri dan mencari dukungan dengan cara yang sehat.

Kemampuan ini dapat menjadi fondasi penting bagi hubungan apa pun di masa depan.

Seseorang yang mampu mengelola emosinya sendiri cenderung memiliki lebih banyak pilihan dalam menghadapi konflik. Ia tidak harus selalu mendapatkan respons tertentu dari pasangan agar merasa baik-baik saja.

Ini bukan berarti seseorang tidak boleh mencari dukungan.

Justru sebaliknya, meminta bantuan ketika diperlukan merupakan bagian dari kesehatan psikologis.

Kemandirian emosional berarti mengetahui bahwa dukungan orang lain sangat berharga, tetapi identitas dan kestabilan diri tidak sepenuhnya berada di tangan orang lain.

6. Anda Mulai Membangun Kehidupan yang Tidak Lagi “Menunggu”

Mungkin ini adalah perubahan paling besar.

Ada orang yang menjalani kehidupan dengan pola pikir:

“Nanti kalau sudah punya pasangan, saya akan bahagia.”

“Nanti kalau sudah menikah, saya akan mulai bepergian.”

“Nanti kalau sudah punya pasangan, saya akan merasa lengkap.”

“Nanti kalau sudah menemukan orang yang tepat, hidup saya akan dimulai.”

Masalah dari pola pikir tersebut adalah kehidupan selalu ditempatkan di masa depan.

Seseorang akhirnya hidup dalam mode menunggu.

Menerima status lajang dapat menghentikan pola tersebut.

Anda mulai menyadari bahwa banyak hal yang Anda inginkan sebenarnya dapat dimulai sekarang.

Ingin bepergian? Anda dapat merencanakannya.

Ingin memiliki tubuh yang lebih sehat? Anda dapat mulai berolahraga.

Ingin mempelajari sesuatu? Anda dapat mengambil kursus.

Ingin membangun karier? Anda dapat mengembangkan keterampilan.

Ingin memiliki kehidupan sosial yang lebih kaya? Anda dapat mulai membangun persahabatan.

Ingin menjadi lebih dekat dengan keluarga? Anda dapat meluangkan waktu bersama mereka.

Pasangan masa depan, jika suatu hari hadir, dapat menjadi bagian dari kehidupan tersebut.

Namun, pasangan tidak lagi menjadi tiket masuk menuju kehidupan yang bermakna.

Ini dapat menghasilkan perubahan psikologis yang sangat penting: Anda berhenti menunda kehidupan.

Menerima Bukan Berarti Menolak Cinta

Penting untuk memahami bahwa menerima status lajang tidak berarti seseorang harus berjanji untuk selamanya hidup tanpa pasangan.

Penerimaan juga bukan berarti mengatakan bahwa hubungan romantis tidak penting.

Seseorang dapat menerima kehidupan lajang sekaligus tetap menginginkan pasangan.

Keduanya tidak bertentangan.

Anda dapat mengatakan:

“Saya ingin memiliki pasangan suatu hari nanti, tetapi saya tidak ingin membenci kehidupan saya sekarang hanya karena pasangan tersebut belum datang.”

Itulah bentuk penerimaan yang lebih sehat.

Ada perbedaan antara menerima keadaan saat ini dan menyerah terhadap masa depan.

Penerimaan berarti mengakui realitas saat ini tanpa terus-menerus melawannya secara psikologis.

Jika saat ini Anda lajang, kenyataan tersebut tidak perlu menjadi alasan untuk menghentikan hidup.

Anda tetap dapat memiliki tujuan.

Tetap dapat mencintai.

Tetap dapat berkembang.

Tetap dapat membangun hubungan sosial.

Tetap dapat mengalami kegembiraan.

Dan tetap dapat memiliki kehidupan yang bermakna.

Bagaimana Mulai Menerima Status Lajang?

Penerimaan biasanya bukan sesuatu yang terjadi dalam satu malam. Ini lebih merupakan proses mengubah kebiasaan berpikir.

Beberapa langkah sederhana yang dapat dicoba antara lain:

1. Berhenti membandingkan timeline

Teman Anda mungkin menikah pada usia 25.

Orang lain mungkin menikah pada usia 35.

Sebagian orang memilih tidak menikah.

Tidak ada satu jadwal universal yang menentukan kapan seseorang “seharusnya” memiliki pasangan.

2. Perhatikan cara Anda berbicara kepada diri sendiri

Jika Anda sering mengatakan, “Saya sendirian karena saya tidak cukup baik,” cobalah mempertanyakan apakah kesimpulan tersebut benar-benar didukung oleh fakta.

Status hubungan tidak memberikan informasi lengkap tentang kualitas seseorang.

3. Bangun kehidupan sosial yang lebih luas

Jangan menjadikan pasangan sebagai satu-satunya sumber kedekatan emosional.

Rawat hubungan dengan teman, keluarga, komunitas, dan orang-orang yang memberikan hubungan yang sehat.

4. Buat tujuan yang tidak berhubungan dengan hubungan romantis

Miliki tujuan karier, finansial, pendidikan, kesehatan, kreativitas, perjalanan, atau kontribusi sosial.

Kehidupan menjadi lebih luas ketika identitas tidak hanya dibangun di sekitar hubungan romantis.

5. Belajar menikmati waktu sendiri

Mulailah dari hal sederhana.

Makan di tempat yang Anda sukai.

Membaca buku.

Berolahraga.

Berjalan-jalan.

Menonton film.

Mengerjakan proyek pribadi.

Tujuannya bukan untuk membuktikan bahwa Anda “tidak membutuhkan siapa pun”, tetapi untuk menyadari bahwa kebersamaan dengan diri sendiri juga dapat memiliki nilai.

Pada Akhirnya, Status Bukanlah Identitas

Menjadi lajang adalah sebuah status hubungan, bukan definisi keseluruhan tentang siapa Anda.

Anda bukan “orang yang gagal mendapatkan pasangan”.

Anda adalah manusia dengan kepribadian, nilai, pengalaman, kemampuan, hubungan sosial, impian, kekurangan, dan kemungkinan yang jauh lebih luas daripada status hubungan Anda.

Psikologi tidak mengatakan bahwa lajang selalu lebih baik daripada memiliki pasangan, sebagaimana memiliki pasangan juga tidak otomatis membuat seseorang lebih bahagia.

Yang jauh lebih penting adalah bagaimana seseorang menjalani kehidupannya, kualitas hubungan yang dimilikinya, serta apakah ia mampu membangun rasa berharga dan makna hidup yang tidak sepenuhnya bergantung pada status romantis.

Menerima status lajang pada akhirnya bukan tentang meyakinkan diri bahwa Anda tidak membutuhkan cinta.

Ini tentang memahami bahwa Anda tidak harus menunggu cinta romantis untuk mulai menjalani kehidupan yang berarti.

Karena hidup yang baik bukanlah kehidupan yang baru dimulai ketika seseorang datang.

Hidup yang baik adalah kehidupan yang sudah Anda bangun—dan jika suatu hari seseorang hadir, ia datang untuk berbagi kehidupan tersebut, bukan untuk menciptakannya dari nol.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore