seseorang yang tidak dianggap karena tidak memiliki anak / foto: Magnific/magnific
JawaPos.com - Ada pengalaman sosial yang cukup sulit dijelaskan oleh sebagian orang dewasa yang tidak memiliki anak: merasa hadir, tetapi tidak benar-benar diperhatikan.
Mereka datang ke sebuah acara, tetapi percakapan lebih banyak berpusat pada pasangan dan anak. Mereka berada di lingkungan kerja, tetapi kebutuhan orang tua sering dianggap lebih mendesak. Mereka berkumpul bersama keluarga, tetapi pertanyaan tentang pekerjaan, pasangan, atau anak terus mendominasi pembicaraan. Bahkan dalam percakapan sehari-hari, kehidupan seseorang yang tidak memiliki anak kadang dianggap seolah-olah lebih fleksibel, lebih ringan, atau tidak memiliki tuntutan yang sama pentingnya.
Perasaan tersebut tidak selalu berarti orang lain sengaja mengabaikan mereka. Dalam psikologi sosial, pengalaman merasa "tidak terlihat" dapat muncul ketika seseorang merasa keberadaan, kebutuhan, kontribusi, atau identitasnya kurang mendapatkan pengakuan dari lingkungan.
Tentu saja, tidak semua orang dewasa tanpa anak mengalami hal ini. Ada yang justru merasa sangat bebas, puas, dan mendapatkan dukungan sosial yang kuat. Namun, bagi sebagian orang, status tanpa anak dapat menciptakan pengalaman sosial tertentu yang membuat mereka merasa berada di luar arus utama kehidupan orang dewasa.
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (20/9), terdapat tujuh alasan psikologis yang dapat membantu menjelaskan fenomena tersebut.
1. Masyarakat Sering Menganggap Menjadi Orang Tua sebagai Tonggak Kedewasaan
Salah satu alasan seseorang tanpa anak dapat merasa tidak terlihat adalah karena masyarakat sering menggunakan peran sebagai orang tua sebagai salah satu tanda penting kedewasaan.
Dalam banyak budaya, kehidupan orang dewasa memiliki pola yang dianggap "normal": sekolah, bekerja, menikah, memiliki rumah, kemudian mempunyai anak.
Ketika seseorang mengikuti pola tersebut, lingkungan sosial biasanya memiliki banyak pertanyaan, ritual, dan bentuk pengakuan untuk setiap tahap kehidupan.
Ada ucapan selamat ketika menikah.
Ada perhatian ketika seseorang sedang menantikan kelahiran anak.
Ada perayaan ketika anak lahir.
Ada percakapan mengenai sekolah, perkembangan anak, dan kehidupan keluarga.
Sebaliknya, tidak selalu tersedia ritual sosial yang sama kuatnya untuk berbagai bentuk kehidupan tanpa anak.
Seseorang mungkin mencapai prestasi profesional, membangun bisnis, merawat orang tua, mengembangkan hubungan yang sehat, atau melakukan perjalanan panjang untuk menemukan dirinya sendiri. Namun, pencapaian tersebut kadang tidak mendapatkan perhatian sosial sebesar kelahiran seorang anak.
Akibatnya, seseorang dapat mengalami kesenjangan antara nilai dirinya secara pribadi dan pengakuan yang diterimanya secara sosial.
Inilah salah satu sumber perasaan tidak terlihat.
Bukan karena kehidupannya tidak berarti, tetapi karena lingkungan sosial mungkin memiliki "bahasa" yang lebih jelas untuk mengakui kehidupan orang tua dibandingkan kehidupan orang dewasa tanpa anak.
2. Identitas Sosial Sering Dibentuk Berdasarkan Kelompok yang Dianggap Dominan
Psikologi sosial menunjukkan bahwa manusia cenderung membangun identitas melalui kelompok sosial.
Kita mengenali diri sebagai pekerja, pasangan, teman, anggota keluarga, penggemar olahraga, anggota komunitas, dan sebagainya.
Masalah dapat muncul ketika seseorang berada dalam lingkungan yang sebagian besar anggotanya memiliki identitas yang sama.
Misalnya, seseorang yang tidak memiliki anak bekerja di sebuah kantor yang sebagian besar rekan kerjanya adalah orang tua.
Pada awalnya tidak ada masalah.
Namun, perlahan topik percakapan dapat berubah.
"Anakmu sekolah di mana?"
"Anak saya sedang sakit."
"Akhir pekan kemarin saya mengantar anak ke pertandingan."
"Liburan nanti kami membawa anak ke luar kota."
Percakapan semacam ini sepenuhnya normal. Namun, jika hampir seluruh interaksi sosial berputar pada pengalaman menjadi orang tua, orang yang tidak memiliki anak dapat mulai merasa berada di luar lingkaran.
Ia bukan bagian dari pengalaman yang sedang dibicarakan.
Dalam psikologi sosial, pengalaman menjadi "orang luar" dari kelompok yang dominan dapat memengaruhi rasa memiliki seseorang.
Ironisnya, seseorang mungkin tetap disukai oleh teman-temannya, tetapi tetap merasa tidak sepenuhnya menjadi bagian dari kelompok.
Perasaan tersebut berbeda dari kesepian.
Kesepian adalah pengalaman subjektif ketika hubungan sosial yang dimiliki seseorang terasa kurang memuaskan atau kurang dekat dengan kebutuhan emosionalnya.
Seseorang bahkan bisa dikelilingi banyak orang dan tetap merasa tidak terlihat.
3. Orang Tanpa Anak Sering Dianggap Memiliki Lebih Banyak Waktu dan Energi
Ada asumsi sosial yang cukup umum:
"Dia tidak punya anak, jadi pasti lebih fleksibel."
Asumsi ini terkadang benar dalam situasi tertentu, tetapi menjadi masalah ketika berubah menjadi aturan sosial.
Orang dewasa tanpa anak mungkin dianggap lebih mudah diminta membantu.
Lebih mudah lembur.
Lebih mudah menghadiri acara.
Lebih mudah bepergian.
Lebih mudah menggantikan rekan kerja.
Lebih mudah menerima undangan mendadak.
Bahkan dalam keluarga, seseorang tanpa anak dapat diasumsikan memiliki lebih banyak waktu untuk mengurus orang tua atau anggota keluarga lainnya.
Dari perspektif psikologi, persoalannya bukan sekadar jumlah waktu yang tersedia.
Persoalannya adalah bagaimana kebutuhan seseorang dinilai oleh orang lain.
Seseorang yang memiliki anak sering kali mendapatkan legitimasi sosial untuk mengatakan:
"Saya tidak bisa."
"Anak saya membutuhkan saya."
"Saya harus pulang."
Sementara orang tanpa anak mungkin merasa harus memberikan alasan yang lebih panjang untuk mendapatkan hak yang sama.
Padahal kebutuhan manusia tidak hanya muncul karena seseorang memiliki anak.
Orang dewasa tanpa anak juga bisa mengalami kelelahan, stres pekerjaan, kebutuhan istirahat, masalah hubungan, tanggung jawab keluarga, atau kebutuhan untuk memiliki waktu pribadi.
Ketika kebutuhan tersebut terus dianggap kurang penting, seseorang dapat merasa bahwa hidupnya memiliki prioritas yang lebih rendah di mata orang lain.
Itulah yang kemudian dapat berkembang menjadi pengalaman "tidak terlihat".
4. Nilai Seseorang Kadang Terlalu Sering Dikaitkan dengan Peran yang Dimilikinya
Manusia memiliki banyak identitas.
Seseorang dapat menjadi anak, saudara, teman, pasangan, profesional, seniman, pengusaha, relawan, mentor, atau anggota komunitas.
Namun, dalam masyarakat yang sangat berorientasi pada keluarga, peran sebagai orang tua bisa menjadi salah satu identitas yang paling menonjol.
Akibatnya, ketika seseorang tidak memiliki anak, orang lain mungkin kesulitan memahami identitasnya.
Pertanyaan yang muncul kemudian sering berputar pada:
"Kapan punya anak?"
"Kenapa belum punya anak?"
"Memang tidak ingin punya anak?"
"Siapa yang akan merawatmu nanti?"
Pertanyaan tersebut mungkin dimaksudkan sebagai bentuk perhatian atau rasa ingin tahu.
Tetapi jika muncul berulang kali, pesan psikologis yang diterima seseorang bisa berbeda:
"Apakah hidup saya dianggap belum lengkap?"
"Apakah saya dianggap kurang dewasa?"
"Apakah pilihan hidup saya dianggap tidak normal?"
Ketika identitas seseorang terus-menerus dinilai berdasarkan sesuatu yang tidak dimilikinya, ia dapat merasa bahwa identitas lainnya tidak terlihat.
Padahal seseorang tidak harus menjadi orang tua agar kehidupannya memiliki makna.
Makna hidup dapat berasal dari hubungan, pekerjaan, kreativitas, kontribusi sosial, pembelajaran, spiritualitas, pelayanan kepada orang lain, maupun tujuan pribadi.
5. Percakapan Sosial Sering Lebih Mudah Mengikuti Pengalaman yang Sama
Ada mekanisme psikologis sederhana yang sering terjadi dalam hubungan sosial: manusia lebih mudah membangun percakapan berdasarkan pengalaman bersama.
Dua orang tua dapat dengan cepat menemukan topik yang sama.
Mereka dapat membicarakan sekolah anak, pola tidur, makanan anak, biaya pendidikan, atau tantangan pengasuhan.
Kesamaan pengalaman membuat hubungan sosial terasa lebih mudah.
Sebaliknya, orang dewasa tanpa anak mungkin tidak memiliki titik pengalaman yang sama.
Ini bukan berarti mereka tidak bisa ikut berbicara.
Namun, mereka mungkin lebih sering menjadi pendengar.
Jika situasi tersebut berlangsung terus-menerus, seseorang dapat mulai merasa bahwa kontribusinya dalam percakapan tidak terlalu diperlukan.
Padahal sebenarnya masalahnya bukan kurangnya kemampuan bersosialisasi.
Masalahnya adalah struktur percakapan yang terlalu sempit.
Bayangkan sebuah kelompok yang selalu membicarakan pengalaman yang hanya dimiliki sebagian anggotanya.
Orang yang berada di luar pengalaman tersebut secara otomatis memiliki lebih sedikit kesempatan untuk berbicara.
Dalam jangka panjang, ia mungkin memilih diam.
Kemudian muncul lingkaran:
Tidak ikut berbicara → dianggap tidak terlalu tertarik → semakin jarang diajak berbicara → semakin merasa tidak terlihat.
Dengan demikian, perasaan tidak terlihat terkadang bukan berasal dari penolakan yang disengaja, tetapi dari pola interaksi yang berlangsung berulang-ulang.
6. Tekanan Sosial Dapat Membuat Seseorang Menyembunyikan Bagian dari Dirinya
Ada alasan lain yang lebih dalam.
Seseorang yang berulang kali mendapatkan pertanyaan tentang mengapa dirinya tidak memiliki anak mungkin akhirnya belajar untuk menghindari topik tersebut.
Misalnya, ia tidak lagi menceritakan pandangannya tentang keluarga.
Ia menghindari acara tertentu.
Ia tidak nyaman ketika orang baru bertanya tentang kehidupan pribadinya.
Ia bahkan mungkin memberikan jawaban singkat agar percakapan segera berpindah.
Dalam psikologi, ketika seseorang merasa aspek tertentu dari dirinya berpotensi mendapatkan penilaian negatif, ia dapat melakukan strategi perlindungan diri.
Masalahnya, strategi tersebut memiliki konsekuensi.
Semakin sedikit seseorang mengungkapkan dirinya, semakin sedikit pula kesempatan orang lain untuk benar-benar mengenalnya.
Akhirnya muncul paradoks:
"Saya merasa tidak terlihat, tetapi saya juga tidak merasa aman untuk memperlihatkan diri."
Ini bukan berarti kesalahan sepenuhnya berada pada individu.
Lingkungan sosial memiliki peran besar dalam menciptakan rasa aman atau tidak aman untuk menjadi diri sendiri.
Jika seseorang merasa bahwa kehidupan tanpa anak akan selalu dipertanyakan, dibandingkan, atau dianggap sementara, ia mungkin memilih menyembunyikan bagian dari identitasnya.
Dan sesuatu yang disembunyikan memang lebih sulit untuk dilihat oleh orang lain.
7. Ada Kebutuhan Dasar untuk Merasa Diakui dan Memiliki Tempat
Pada akhirnya, perasaan tidak terlihat berkaitan dengan kebutuhan manusia yang sangat mendasar: kebutuhan untuk merasa bahwa dirinya memiliki tempat.
Manusia bukan hanya membutuhkan hubungan sosial.
Manusia juga ingin merasa bahwa keberadaannya memiliki arti bagi orang lain.
Seseorang ingin merasa:
"Orang lain mengingat saya."
"Pendapat saya penting."
"Kebutuhan saya juga diperhatikan."
"Keberadaan saya membawa sesuatu bagi kelompok ini."
"Orang lain mengenal saya bukan hanya berdasarkan status saya."
Bagi orang dewasa tanpa anak, kebutuhan tersebut terkadang berbenturan dengan lingkungan yang secara tidak sadar lebih berpusat pada keluarga dan anak.
Ketika kehidupan sosial semakin banyak menggunakan status sebagai orang tua sebagai pusat perhatian, orang yang tidak memiliki anak dapat merasa seperti berada di pinggir panggung.
Bukan karena ia tidak memiliki cerita.
Bukan karena ia tidak memiliki kontribusi.
Bukan karena ia tidak memiliki kehidupan yang berarti.
Melainkan karena cerita kehidupannya tidak selalu menjadi cerita yang paling sering dibicarakan.
Merasa Tidak Terlihat Bukan Berarti Tidak Dicintai
Penting untuk membedakan antara merasa tidak terlihat dan benar-benar tidak dihargai.
Perasaan adalah pengalaman yang nyata, tetapi penyebabnya tidak selalu sesederhana yang kita bayangkan.
Seorang teman mungkin sangat menyayangi seseorang tanpa anak, tetapi tidak menyadari bahwa percakapannya selalu berpusat pada anak.
Seorang anggota keluarga mungkin tidak bermaksud meremehkan, tetapi terus menggunakan standar kehidupan yang sama untuk semua orang.
Seorang rekan kerja mungkin menganggap orang tanpa anak lebih fleksibel tanpa menyadari bahwa asumsi tersebut menciptakan beban yang tidak terlihat.
Karena itu, pengalaman "tidak terlihat" sering kali perlu dipahami melalui konteks hubungan sosial, bukan semata-mata melalui status memiliki atau tidak memiliki anak.
Yang Sebenarnya Dicari Bukan Selalu Perhatian, tetapi Pengakuan
Ada perbedaan antara ingin menjadi pusat perhatian dan ingin diakui keberadaannya.
Orang dewasa tanpa anak tidak selalu ingin orang lain berhenti membicarakan anak mereka.
Mereka juga tidak selalu ingin mendapatkan perlakuan istimewa.
Sering kali yang dibutuhkan jauh lebih sederhana:
"Bagaimana kabarmu?"
"Apa yang sedang kamu kerjakan?"
"Apa yang membuatmu bahagia akhir-akhir ini?"
"Apa yang kamu butuhkan?"
"Bagaimana kehidupanmu?"
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuka ruang bagi seseorang untuk hadir sebagai dirinya sendiri, bukan hanya sebagai seseorang yang memiliki atau tidak memiliki anak.
Pada akhirnya, setiap orang membawa kehidupan yang jauh lebih kompleks daripada status keluarga yang tercantum di dalamnya.
Ada impian.
Ada kehilangan.
Ada pencapaian.
Ada kegagalan.
Ada pekerjaan.
Ada persahabatan.
Ada keluarga.
Ada cinta.
Ada tanggung jawab.
Ada ketakutan.
Dan ada berbagai bentuk makna yang mungkin tidak terlihat dari luar.
Penutup
Orang dewasa tanpa anak dapat merasa tidak terlihat karena berbagai faktor psikologis dan sosial: norma tentang kedewasaan, identitas kelompok, asumsi mengenai waktu luang, fokus sosial pada peran sebagai orang tua, keterbatasan pengalaman bersama dalam percakapan, tekanan untuk menyembunyikan diri, dan kebutuhan mendasar untuk merasa diakui.
Namun, fenomena ini tidak berarti bahwa semua orang tanpa anak merasa kesepian atau tidak bahagia. Sebaliknya, pengalaman mereka sangat beragam.
Yang penting adalah memahami bahwa tidak memiliki anak bukan berarti tidak memiliki kehidupan yang penuh.
Seseorang tidak harus menjadi orang tua agar memiliki sesuatu untuk diceritakan, sesuatu untuk dicintai, sesuatu untuk diperjuangkan, dan sesuatu yang berarti bagi orang lain.
Kadang-kadang, membuat seseorang merasa terlihat tidak membutuhkan nasihat besar.
Cukup dengan mendengarkan ceritanya.
Menanyakan kehidupannya.
Menghargai batasannya.
Dan tidak menganggap bahwa kehidupan yang berbeda dari mayoritas berarti kehidupan yang kurang lengkap.