seseorang yang berusaha mengatasi dating burnout / foto: Magnific/drobotdean
Membalas pesan dari orang baru, melakukan swiping berulang kali, menghadiri kencan, mencoba membaca tanda-tanda ketertarikan, menghadapi ghosting, sampai berulang kali merasa hubungan tidak berjalan sesuai harapan dapat menguras energi emosional.
Jika kamu mulai merasa, “Aku sudah malas kenalan dengan siapa pun,” atau “Kenapa proses mencari pasangan terasa seperti pekerjaan tambahan?”, mungkin kamu sedang mengalami dating burnout.
Istilah dating burnout memang bukan diagnosis klinis resmi dalam psikologi. Namun, istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan kelelahan emosional, mental, dan sosial yang muncul setelah seseorang terlalu lama menjalani proses berkencan yang terasa menuntut atau mengecewakan.
Kabar baiknya, merasa lelah dengan dunia dating bukan berarti kamu sudah kehilangan kemampuan untuk mencintai atau tidak akan menemukan pasangan. Bisa jadi, yang kamu butuhkan bukan memaksa diri untuk terus mencari, melainkan berhenti sejenak dan mengubah cara kamu menjalani prosesnya.
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (20/9), terdapat enam cara yang dapat membantu mengatasi dating burnout berdasarkan prinsip-prinsip psikologi.
1. Beri Dirimu Izin untuk Berhenti Sejenak
Ketika merasa lelah dengan dating, respons yang sering muncul justru adalah memaksakan diri.
“Aku harus tetap aktif di dating app.”
“Kalau berhenti sekarang, nanti aku semakin sulit menemukan pasangan.”
“Aku harus terus mencoba karena semua orang sudah punya pasangan.”
Pola pikir seperti ini dapat membuat dating terasa seperti perlombaan yang tidak pernah selesai.
Padahal, dalam kondisi kelelahan emosional, mengambil jeda dapat menjadi bentuk self-care, bukan kegagalan.
Jika setiap kali membuka aplikasi dating kamu merasa cemas, frustrasi, bosan, atau tertekan, tidak ada salahnya untuk mengurangi intensitasnya untuk sementara waktu.
Kamu bisa menghapus aplikasi selama beberapa minggu, mematikan notifikasi, atau sekadar berhenti melakukan swiping setiap hari.
Tujuannya bukan untuk menyerah pada kehidupan romantis. Tujuannya adalah memberikan ruang bagi pikiran dan emosi untuk pulih.
Mengapa jeda bisa membantu?
Dalam psikologi, stres yang berlangsung terus-menerus dapat menguras sumber daya psikologis seseorang. Ketika kamu terus-menerus berada dalam situasi yang membutuhkan evaluasi, pengambilan keputusan, dan pengelolaan emosi, kamu membutuhkan waktu untuk memulihkan diri.
Dating juga melibatkan banyak keputusan kecil:
Apakah orang ini menarik?
Apakah dia serius?
Haruskah aku membalas pesan ini?
Mengapa dia belum membalas?
Apakah kencan tadi berjalan baik?
Apakah aku harus menghubunginya lagi?
Jika berlangsung terus-menerus, semua hal tersebut dapat terasa melelahkan.
Jadi, jangan menganggap jeda sebagai tanda bahwa kamu gagal.
Kadang-kadang, berhenti sejenak justru merupakan cara untuk kembali dengan kondisi mental yang lebih sehat.
2. Ubah Tujuan Dating, Bukan Hanya Strateginya
Salah satu penyebab dating burnout adalah ketika dating dianggap sebagai proyek dengan satu tujuan: harus menemukan pasangan secepat mungkin.
Ketika tujuan tersebut menjadi terlalu dominan, setiap interaksi bisa terasa seperti ujian.
Jika seseorang tidak membalas pesan, kamu merasa gagal.
Jika kencan tidak berlanjut, kamu merasa membuang waktu.
Jika hubungan berakhir, kamu merasa kembali ke titik nol.
Padahal, hubungan romantis tidak sepenuhnya dapat dikendalikan oleh satu orang.
Kamu bisa mengontrol bagaimana kamu berkomunikasi, bagaimana kamu memperlakukan orang lain, dan bagaimana kamu menjaga batasan. Tetapi kamu tidak bisa mengontrol apakah orang lain akan menyukaimu, berkomitmen kepadamu, atau ingin melanjutkan hubungan.
Karena itu, salah satu cara untuk mengurangi tekanan adalah mengubah fokus.
Daripada berpikir:
“Apakah orang ini akan menjadi pasangan saya?”
cobalah bertanya:
“Apakah saya merasa nyaman menjadi diri sendiri ketika bersama orang ini?”
Atau:
“Apa yang bisa saya pelajari dari pertemuan ini?”
Dengan begitu, dating tidak hanya menjadi proses untuk “mendapatkan seseorang”, tetapi juga proses untuk memahami dirimu sendiri.
Kamu bisa belajar tentang:
kebutuhan emosionalmu,
batasan yang kamu miliki,
tipe komunikasi yang cocok untukmu,
nilai-nilai yang penting dalam hubungan,
hal-hal yang tidak lagi ingin kamu toleransi.
Perubahan fokus ini dapat membuat dating terasa lebih realistis dan tidak terlalu berorientasi pada hasil.
3. Kurangi Overthinking dan Berhenti Membaca Setiap Tanda
Dating modern sering membuat seseorang terlalu banyak menganalisis.
Dia membalas pesan tiga jam kemudian.
“Apakah dia kehilangan minat?”
Dia hanya memberikan emoji.
“Apakah dia sebenarnya tidak tertarik?”
Dia melihat story tetapi tidak mengirim pesan.
“Kenapa dia melakukan itu?”
Masalahnya, semakin banyak kita mencoba menebak pikiran orang lain, semakin besar ruang yang diberikan kepada kecemasan.
Dalam psikologi, pola seperti ini dapat berkaitan dengan rumination, yaitu kecenderungan memikirkan sesuatu secara berulang-ulang tanpa menghasilkan solusi yang jelas.
Rumination dapat membuat masalah kecil terasa jauh lebih besar.
Misalnya, seseorang belum membalas pesan selama beberapa jam.
Faktanya hanya satu:
Dia belum membalas.
Namun, pikiran kita bisa menciptakan banyak cerita:
“Dia sudah bosan.”
“Dia menemukan orang lain.”
“Aku terlalu banyak bicara.”
“Aku salah mengatakan sesuatu.”
“Dia sebenarnya tidak pernah tertarik.”
Padahal, kita tidak memiliki cukup informasi untuk mengetahui mana yang benar.
Karena itu, cobalah membedakan antara fakta dan interpretasi.
Fakta:
“Dia belum membalas pesan selama enam jam.”
Interpretasi:
“Dia pasti sudah tidak tertarik.”
Keduanya bukan hal yang sama.
Ketika kamu menyadari bahwa sebagian kecemasan berasal dari interpretasi, kamu bisa memberi jarak antara apa yang benar-benar terjadi dan apa yang hanya sedang dipikirkan.
Daripada terus menganalisis, kamu bisa mengatakan kepada diri sendiri:
“Aku belum tahu apa alasannya. Aku akan menunggu informasi yang lebih jelas.”
Sederhana, tetapi dapat membantu mengurangi beban mental.
4. Berhenti Menganggap Penolakan sebagai Penilaian atas Harga Dirimu
Salah satu bagian paling melelahkan dari dating adalah penolakan.
Kamu mungkin sudah merasa cocok dengan seseorang, tetapi ternyata dia tidak merasakan hal yang sama.
Atau kamu sudah menjalani beberapa kali kencan, tetapi semuanya berhenti di tengah jalan.
Jika pengalaman seperti ini terjadi berulang kali, seseorang bisa mulai berpikir:
“Apakah ada yang salah dengan saya?”
Pertanyaan tersebut sangat manusiawi.
Namun, ketidakcocokan dengan seseorang tidak otomatis berarti ada yang salah dengan dirimu.
Dalam hubungan interpersonal, banyak faktor yang menentukan apakah dua orang dapat membangun hubungan, termasuk nilai, kebutuhan, gaya komunikasi, ketertarikan, kesiapan emosional, tujuan hidup, timing, dan keadaan pribadi masing-masing.
Bayangkan dua orang yang sama-sama baik tetapi memiliki tujuan hidup yang sangat berbeda.
Kegagalan hubungan tersebut tidak harus berarti salah satu orang buruk.
Mereka mungkin hanya tidak cocok.
Karena itu, penting untuk memisahkan:
“Orang ini tidak memilih saya.”
dari:
“Saya tidak layak dipilih.”
Kalimat pertama adalah sebuah pengalaman.
Kalimat kedua adalah kesimpulan tentang identitas diri.
Dan keduanya sangat berbeda.
Jika kamu mengalami penolakan, berikan dirimu kesempatan untuk merasa kecewa. Jangan buru-buru memaksa diri untuk “baik-baik saja”.
Tetapi setelah emosi mereda, cobalah bertanya:
“Apa yang sebenarnya bisa saya pelajari dari pengalaman ini?”
Bukan:
“Apa yang salah dengan diri saya?”
Pertanyaan pertama membuka ruang untuk pertumbuhan. Pertanyaan kedua berisiko membuat penolakan berubah menjadi serangan terhadap harga diri.
5. Buat Batasan agar Dating Tidak Menguasai Hidupmu
Dating burnout tidak selalu terjadi karena terlalu banyak kencan.
Kadang masalahnya adalah dating mengambil terlalu banyak ruang dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya, setiap pagi langsung membuka dating app.
Setiap beberapa menit memeriksa apakah ada pesan baru.
Menghabiskan malam untuk membalas chat.
Memikirkan seseorang sepanjang hari.
Membicarakan dating dengan teman setiap saat.
Akhirnya, kehidupanmu mulai berputar di sekitar satu hal.
Karena itu, membuat batasan dapat membantu.
Misalnya:
Batasi waktu menggunakan dating app.
Tidak perlu membalas pesan secara instan.
Hindari memeriksa aplikasi sebelum tidur.
Tetap pertahankan hobi dan kehidupan sosial di luar dating.
Jangan membatalkan aktivitas pribadi hanya karena ada seseorang yang baru dikenal.
Beri dirimu waktu tanpa aktivitas romantis.
Batasan seperti ini bukan berarti kamu tidak serius mencari pasangan.
Justru sebaliknya.
Kamu sedang memastikan bahwa kehidupanmu tidak sepenuhnya bergantung pada keberhasilan dating.
Hubungan yang sehat idealnya menjadi bagian dari kehidupan, bukan satu-satunya sumber kebahagiaan.
Semakin banyak sumber kepuasan dalam hidupmu—teman, keluarga, pekerjaan, hobi, olahraga, kreativitas, pembelajaran, atau aktivitas lain—semakin kecil kemungkinan satu kegagalan romantis terasa seperti kehancuran seluruh hidup.
6. Evaluasi Kembali Apa yang Sebenarnya Kamu Butuhkan
Setelah berkali-kali mengalami kencan yang mengecewakan, kita bisa terjebak dalam pola yang sama tanpa menyadarinya.
Misalnya, kamu terus tertarik kepada orang yang secara emosional tidak tersedia.
Atau kamu terlalu cepat berinvestasi secara emosional.
Atau kamu menerima perilaku yang sebenarnya membuatmu tidak nyaman karena takut kehilangan kesempatan.
Karena itu, dating burnout dapat menjadi kesempatan untuk melakukan refleksi.
Coba tanyakan kepada dirimu:
“Hubungan seperti apa yang sebenarnya saya inginkan?”
Bukan hanya:
“Orang seperti apa yang saya sukai?”
Tetapi juga:
Bagaimana saya ingin diperlakukan?
Apa nilai yang penting bagi saya?
Seperti apa komunikasi yang saya butuhkan?
Apa batasan yang tidak ingin saya kompromikan?
Apa tujuan hubungan saya?
Apakah saya sedang mencari hubungan serius atau sekadar ingin mengenal orang?
Apakah saya benar-benar ingin dating sekarang, atau merasa tertekan karena lingkungan sekitar?
Pertanyaan terakhir sangat penting.
Kadang seseorang merasa harus mencari pasangan bukan karena dirinya memang ingin berkencan, tetapi karena melihat teman-temannya menikah, keluarga bertanya tentang pasangan, atau media sosial membuatnya merasa tertinggal.
Padahal, timeline kehidupan setiap orang berbeda.
Kamu tidak harus mengikuti jadwal romantis orang lain.
Dating Burnout Bukan Berarti Kamu Tidak Bisa Jatuh Cinta Lagi
Merasa lelah dengan dating tidak selalu berarti kamu sudah kehilangan minat terhadap hubungan romantis.
Bisa jadi kamu hanya lelah dengan cara kamu menjalani dating selama ini.
Ada perbedaan antara:
“Saya tidak ingin menjalin hubungan.”
dan:
“Saya ingin menjalin hubungan, tetapi saya sudah lelah dengan proses mencarinya.”
Keduanya adalah pengalaman yang berbeda.
Jika yang kamu alami adalah yang kedua, mungkin solusi utamanya bukan memaksa diri untuk lebih aktif, tetapi menciptakan pendekatan yang lebih berkelanjutan.
Dating tidak harus dilakukan setiap hari.
Kamu tidak harus membalas semua orang.
Kamu tidak harus mempertahankan hubungan dengan seseorang yang membuatmu terus-menerus cemas.
Dan kamu tidak harus menganggap setiap kencan sebagai kesempatan terakhir untuk menemukan pasangan.
Pada akhirnya, tujuan dating bukan sekadar menemukan seseorang.
Tujuannya adalah menemukan hubungan yang memungkinkan dua orang merasa aman, dihargai, dan dapat menjadi diri sendiri.
Dan untuk sampai ke sana, kamu juga perlu memastikan bahwa proses mencarinya tidak membuatmu kehilangan dirimu sendiri.
Kapan Sebaiknya Mencari Bantuan Profesional?
Jika rasa lelah terhadap dating mulai berkembang menjadi masalah yang lebih luas—misalnya membuatmu terus-menerus merasa tidak berharga, sangat cemas, kehilangan minat terhadap banyak aktivitas, atau mengganggu kehidupan sehari-hari—berbicara dengan psikolog dapat menjadi langkah yang layak dipertimbangkan.
Psikolog dapat membantu mengeksplorasi pola hubungan, cara menghadapi penolakan, self-esteem, kecemasan, maupun pengalaman masa lalu yang mungkin memengaruhi cara seseorang menjalani hubungan.
Tidak semua masalah harus diselesaikan sendirian.
Terkadang, mengambil jeda, melakukan refleksi, dan mendapatkan perspektif profesional justru dapat membantu seseorang kembali memahami apa yang sebenarnya ia cari dalam sebuah hubungan.
Pada akhirnya, kamu tidak harus terus mengejar.
Jika dating mulai terasa seperti pekerjaan yang tidak pernah selesai, mungkin sudah waktunya berhenti sejenak.
Tarik napas.
Kembali ke kehidupanmu.
Temui teman-temanmu.
Lakukan hal-hal yang kamu sukai.
Bangun kembali rutinitas yang membuatmu merasa menjadi dirimu sendiri.
Kemudian, ketika kamu merasa siap, kamu bisa kembali dating dengan perspektif yang berbeda.
Bukan karena takut tertinggal.
Bukan karena takut sendirian.
Tetapi karena kamu memang ingin membuka ruang untuk seseorang yang baru.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Viral Pegawai BGN Sindir Korban Keracunan MBG Sambil Makan Chicken Katsu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sudah Tak Jadi Menkeu, Uang Rp 100 Ribu Bertanda Tangan Purbaya Malah Diburu
10 Kali Sidang Kasus Kuota Haji, Saksi Beberkan Tak Ada Dugaan Kerugian Negara
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022