ilustrasi orang yang melakukan permintaan. Sumber foto: Freepik
JawaPos.com – Pernahkah Anda memperhatikan seseorang yang hampir selalu mengawali pertanyaan atau permintaannya dengan kalimat, “Maaf mengganggu”?
Sekilas, ungkapan tersebut terdengar sebagai bentuk kesopanan. Namun, jika digunakan berulang kali, pilihan kata tertentu dapat mencerminkan cara seseorang memandang dirinya sendiri maupun hubungannya dengan orang lain.
Dalam konteks psikologi, kebiasaan berkomunikasi seperti ini dapat dikaitkan dengan sejumlah kecenderungan kepribadian. Namun, satu kebiasaan berbicara saja tentu tidak cukup untuk menentukan karakter atau kondisi psikologis seseorang.
Dilansir Expert Editor, berikut sejumlah karakter yang disebut dapat ditemukan pada orang yang terbiasa mengucapkan “maaf mengganggu” sebelum menyampaikan keperluannya.
Orang yang terbiasa mengatakan “maaf mengganggu” mungkin memiliki perhatian besar terhadap kenyamanan orang lain.
Sebelum menyampaikan keinginan, mereka cenderung memikirkan apakah kehadiran atau permintaannya akan merepotkan. Mereka berusaha memastikan orang lain tidak merasa terbebani.
Sikap tersebut dapat terlihat sebagai bentuk empati karena mereka berusaha memahami situasi dari sudut pandang orang lain.
Kebiasaan meminta maaf sebelum meminta sesuatu juga dapat muncul dari kecenderungan menganggap kebutuhan pribadi tidak terlalu penting.
Seseorang mungkin merasa permintaannya terlalu merepotkan atau khawatir akan dianggap banyak menuntut. Akibatnya, permintaan maaf digunakan sebagai cara untuk “mengurangi” kesan bahwa dirinya sedang membebani orang lain.
Jika dilakukan terus-menerus, pola tersebut dapat membuat seseorang kurang nyaman dalam menyampaikan kebutuhan secara terbuka.
Ungkapan “maaf mengganggu” juga bisa muncul pada orang yang sangat ingin menjaga perasaan orang lain.
Mereka mungkin berusaha menghindari situasi yang berpotensi menimbulkan penolakan atau konflik. Karena itu, mereka memilih bahasa yang sangat hati-hati ketika hendak meminta bantuan, menyampaikan pendapat, atau mengajukan sesuatu.
Dalam beberapa situasi, kecenderungan tersebut dapat beririsan dengan perilaku yang sering disebut people pleasing, meskipun kebiasaan meminta maaf saja tidak otomatis berarti seseorang merupakan people pleaser.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Timnas Jepang U-23 vs Thailand U-23 di Asian Games 2026
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kejam, Sopir Truk Dibakar Oleh Atasan dan Alami Luka Bakar Sampai 68 Persen
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri
MK Diminta Batalkan Jabatan Wapres Gibran, Syarat Pendidikan Dipersoalkan
Mahfud MD Balas Sindiran Prabowo: Banyak juga Presiden yang Goblok

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022